Rabu, 22 Juli 2020

Takut Swab

Saat ini banyak orang yang khawatir akan korona. Kenapa? Karena orang-orang harus tetap beraktivitas normal, sementara diri sendiri atau orang di dekatnya tidak tahu apakah telah terkena virus atau belum. Pengumuman dari Jend. Doni Monardo kemarin 80% penderita korona di Indonesia merupakan orang tanpa gejala. Sampai-sampai muncul perasaan di dalam diri "jangan-jangan saya sudah kena" karena merasakan sedikit sakit di tenggorokan atau kepala.

Saya pun mengalaminya. Karena saya harus pergi ke kantor di Jakarta dengan menggunakan kereta. Sewaktu pembatasan sosial dulu, kantor masih memberlakukan skema kerja dari rumah dan giliran masuk kantor. Dalam seminggu hanya dua kali kerja di kantor. Saat itu saya terkadang membawa mobil. Namun semenjak harus kerja di kantor setiap hari saya terpaksa naik kereta. 

Dengan menggunakan kereta, potensi penularannya cukup tinggi. Maka ketika kantor mengadakan rapid tes, saya harap-harap cemas. Meskipun di berita-berita menyebutkan akurasi rapid tes tidak terlalu menggembirakan. Tetapi tetap ada kekhawatiran. Bagimana jika reaktif? bagaimana dengan keluarga? dan seterusnya. Syukur Alhamdulillah hasilnya negatif.

Minggu lalu saya dimasukkan dalam tim cadangan kegiatan pencarian kapal tenggelam di Ternate. Seluruh tim termasuk saya harus melakukan swab tes atau polymerase chain reaction PCR untuk memastikan personil yang diberangkatkan bebas dari korona. Setelah hampir dua bulan beraktivitas di kenormalan baru, saatnya diperiksa kemungkinan terkena korona. Saya cukup khawatir. Bukan saja akurasi tesnya yang lebih tinggi dibanding rapid, tetapi proses swab dengan mengambil cairan di mulut itu yang membuat saya trauma. Ditambah sehari sebelumnya saya melihat video proses swab itu di grup WA.

Sesampai di rumah sakit, tibalah giliran saya di-swab. Di dalam ruangan itu ada dua orang dokter. Sebelum swab, riwayat perjalanan dan penyakit saya dicatat oleh dokter. Itu penting untuk melacak pasien jika ternyata hasilnya positif. Dokter juga menjelaskan proses swab dan reaksi tubuh saya nantinya. Mual. Bersin. Bahkan bisa saja berdarah katanya. Saya tambah grogi. Setelah itu saya disuruh duduk di sebuah kursi. Seorang dokter dengan APD level 3 menyiapkan dua cotton bud dengan tangkai panjang. Pertama swab di mulut. Tangkai swab dimasukkan hingga ke dinding kerongkongan. Saya merasa sedikit mual. Swab kedua dilakukan di hidung. Cotton bud untuk hidung sedikit agak kecil dan tipis dibanding untuk mulut. Tangkai itu lalu dimasukkan ke lubang hidung kanan lalu ditarik keluar dan dimasukkan ke lubang kiri. Sedikit sakit, geli, dan aneh hingga air mata saya keluar ketika benda itu dimasukkan. Tubuh saya bereaksi seolah akan bersin. Setelah itu sudah. Hanya begitu saja.

Ketika keluar ruangan, teman-teman yang lain bertanya penasaran: "Gimana?". "Ternyata tak lebih sakit dari yang saya bayangkan" ucap saya. Tahun lalu saya melakukan endoskopi. Sebuah slang kamera dimasukkan ke dalam kerongkongan saya. Slang itu lebih besar dan panjang dibandingkan cotton bud tadi. Slang tadi terus dimasukkan hingga ke lambung lalu diputar-putar beberapa kali. Sakitnya? berkali-kali lebih parah daripada swab. 

Lima hari kemudian hasil swab keluar. Alhamdulillah tidak terdeteksi. Takut swab itu hilang. Saya justru lebih khawatir penyakit lambung saya kambuh. Agar jangan sampai ada endoskopi lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cabut Bungsu

Saya baru tahu ada gigi yg baru tumbuh saat sudah kita dewasa. Gigi bungsu namanya. Letaknya paling belakang.  Dulu saya sering menghitung j...