Senin, 23 April 2018

Kereta Layang, Kereta Bandara, Kereta Rel Listrik, Kereta Yang Penting Ada...

Gua baru pulang dari luar negeri, self check in dan self baggage handling sendiri di bandara. Sampai di Indonesia, top up kartu KRL gua mesti dibantu satpam. Bangke!
Sekali waktu saya ingin mencoba Kereta Bandara-KA Bandara. Saya sedang terburu-buru dari Soetta mengejar kelas sore di Bogor. Siang itu pilihan naik KRL di stasiun Kota saya urungkan. Saya lihat di maps, tol bandara macet. Jadilah ini kesempatan menjajal KA Bandara. Meski hanya sampai di Stasiun Sudirman Baru, saya bisa sambung dengan KRL dari Stasiun Sudirman.

Sebenarnya sudah lama saya ingin mencoba KA Bandara, cuma karena harga tiketnya sedikit mahal dibanding bus Damri dan juga saya selalu terburu-buru, makanya saya tak pernah mencobanya. KA Bandara dari berita yang saya baca dan sempat viral, belum jelas. Klo pun jelas, headway-nya masih terlalu lama, setengah jam. Tapi kali ini saya ingin mencobanya.

Dari Terminal 3, saya harus mengejar Kereta Layang-KA Layang yang sebentar lagi berangkat, telat sedikit saja akan ditinggal dan harus menunggu kereta berikutnya. Beberapa petugas mengatur penumpang yang akan turun dan naik, di depan pintu kereta diberi penghalang, petugas mendahulukan penumpang yang turun, setelah selesai penghalang dibuka, penumpang yang akan naik baru dipersilahkan masuk. Klo di Malaysia KLIA, kereta antar terminalnya memanfaatkan 2 sisi pintu kereta. Satu sisi untuk penumpang turun, dan sisi lainnya untuk penumpang naik, sehingga tak perlu petugas untuk mengatur naik turun penumpang. Setelah melewati stasiun Terminal 2, KA Layang selanjutnya berhenti di stasiun KA Bandara. Saya pun turun, tidak ada petunjuk yang jelas kemana saya harus menuju. Ada 3 petugas sekuriti berdiri mengarahkan penumpang. Saya tetap berjalan tanpa tahu menuju kemana. Saya mengikuti lelaki di depan saya. Saya rasa ia juga akan ke KA Bandara. Setelah turun ke lantai bawah. masih belum terlihat penunjuk yang jelas ke arah mana peron KA Bandara Kalaupun ada, desain dan penempatan sign-nya sungguh buruk sama buruknya seperti desain Terminal 3 Soekarno Hatta. Saya terus mengikuti lelaki tadi. Kami tiba di lobi ruang penumpang KA Bandara. terlihat lelaki tadi menuju ke meja informasi, mata saya segera mencari mesin tiket. Dapat. Itu ada di sebelah kiri. Saya langsung menuju mesin tiket. Mesin tiketnya sederhana. Tak terlihat jika mesin itu menerima uang tunai. Hanya ada perangkat EDC di panelnya.

Saya tanya petugas apakah kartu ATM bisa digunakan? Bisa katanya. Syukurlah. Saya pesan tiket. Cukup memasukkan no telepon dan pilih jam serta stasiun tujuan. Setelah itu saya menggesekkan kartu ATM di EDC. Tiket diprint. Selesai. Tiketnya hanya sehelai kertas tipis. Ada barcode-nya. Cukup mudah untuk orang seperti saya. Saya memerlukan waktu sekitar 1 - 2 menit untuk menyelesaikan proses tersebut. Lain lagi bagi orang yang kurang paham, mungkin lebih dari 3 menit, karena tulisan di layar ukurannya kecil, sehingga harus benar-benar teliti. Dari jadwal yang ada, KA Bandara berangkat tiap 30 menit. Saya langsung menuju ke gate masuk. Oleh petugas, saya belum diperbolehkan masuk, harus menunggu di ruang tunggu dulu. Tidak lama kereta datang, petugas memanggil penumpang yang akan naik. Penumpang menuju ke peron. Cukup ramai di ruang tunggu waktu itu. Namun tak semuanya langsung naik ke kereta. Mungkin mereka menunggu kereta berikutnya.

Untuk membuka gate, penumpang harus menggunakan tiket. Scan barcode di tiket di alat scan gate. Tralaaa gate terbuka. Ketika masuk, terdapat 2 peron di jalur KA Bandara, jika ada 2 kereta di stasiun penumpang akan bingung kereta mana yang berangkat duluan, mesti bertanya ke petugas. Peron KA ada 2 (klo ga salah). Lebar peron sekitar 2,5 meter. Karena tidak ada nomor tempat duduk dan nomor gerbong di tiket jadi bisa bebas pilih tempat duduk. Saya pilih di depan. Keretanya bersih. Separuh bangku di gerbong menghadap ke depan dan separuh lagi menghadap ke belakang. Saya pilih bangku di tengah. Saya pikir ruang kakinya luas ternyata tidak. Bangku tengah justru ruang kakinya sempit. Entah siapa yang mendesainnya, sungguh buruk pengaturan jarak tempat duduknya. Sandaran kursi bisa disesuaikan. Di bagian tengah kursi terdapat colokan USB. Di dalam gerbong terdapat papan informasi elektronik. Tujuan kereta, kecepatan dan suhu gerbong bisa dilihat disitu. KA Bandara siang itu sepi penumpang. Beberapa menit kemudian kereta berangkat. Satu gerbong mungkin hanya diisi 3 penumpang.

Dari Soetta ke Sudirman Baru memerlukan waktu tempuh sekitar 50 menit. Stasiun pemberhentian pertama adalah Stasiun Batu Ceper, disusul Duri, dan Sudirman Baru. Sebelumnya di benak saya bertanya jika naik kendaraan dai Jakarta ke Soetta hanya perlu waktu 40 menit di lalu lintas lancar. Tapi kereta bandara yang harusnya lebih cepat justru perlu waktu 50 menit. Ternyata jalur kereta dari Stasiun Bandara dan Batu Ceper tidak lurus, jalurnya berbelok-belok, makanya agak lama, belum lagi di Duri kereta berhenti agak lama, antri dengan kereta KRL.

Saya tiba di Stasiun Sudirman Baru tepat 50 menit dari keberangkatan. Penumpang harus menggunakan tiket untuk membuka gate keluar. Padahal tiket kertas tipis itu sudah saya lipat-lipat. Stasiun Sudirman dan Sudirman baru letaknya berbeda, penumpang harus jalan kaki sekitar 100 meter, menyusuri jalan di samping rel. Waktu itu saya membawa travel bag. Ada tangga dan turunan terbuat dari pelat yang sangat curam, maksudnya mungkin ingin memudahkan bagi penumpang yang membawa travel bag, tapi desainnya sungguh curam. Seperti tak punya niat. Yang penting ada.

Sampai di Stasiun Sudirman, desain tangganya tidak memudahkan penumpang yang membawa travel bag. Bahkan saya harus naik tangga membawa travel bag saya karena isi ulang tiket THB hanya bisa dilakukan di lantai atas stasiun. Sampai di mesin isi ulang, saya agak bingung, jika mesin isi ulang kartu Multitrip agak sederhana, mesin isi ulang kartu THB ukurannya 2 kali lebih besar, ada dispenser, ada slot kartu beberapa buah, ada tempat memasukkan uang kertas, pertama kali menggunakan mesin itu saya agak bingung, untung ada petugas satpam di dekat situ, ia mengajari saya mengisi ulang kartu THB. Menurut saya desain mesin itu sungguh buruk. Pemilihan warnanya norak, terlalu banyak aksesoris dan tulisan ga penting malah bikin bingung. Dari sekian banyak negara yang saya gunakan mesin tiket keretanya, mesin tiket kereta KRL ini paling tidak ramah digunakan.

Baiklah, setelah menggunakan KA Layang, KA Bandara, dan lanjut KRL di Sudirman berikut komentar saya.

  1. Desain Terminal 3 buruk, terlalu jauh berjalan kaki ke gate yang di ujung, (kan ada mobil golf) iya tapi itu tidak sustainable, penyinaran lampunya, colokan listriknya semua buruk. Hanya toiletnya yang bagus dan bakmi GM-nya. Eh lupa saya kan mau komentar keretanya bukan bandaranya. Tapi ga papa sekalian unek-unek saya.
  2. KA Layang. Untuk kereta ini penunjuk ke arah stasiunnya perlu ditambah, biar lebih mudah. Di stasiun belum ada papan informasi berapa lama kereta berikut akan datang. Saya harus bertanya ke petugas. Trus hilangkan saja itu petugas sekuriti pengatur naik turun, biar penumpang mandiri mengatur sendiri naik turun. Yang penting diberi sign yang jelas.
  3. Penunjuk di Stasiun Bandara perlu ditambah dan penempatannya mudah dilihat. Penunjuknya mungkin sudah ada, cuma penempatannya kurang pas. Sama seperti di atas, hilangkan saja petugas sekuriti pengarah penumpang.
  4. Lanjut ke KA Bandara, mesin tiketnya untuk sementara bolehlah, tapi beberapa tahun ke depan harus diganti ke mesin yang benar-benar mesin yang bagus, bukan alakadarnya. Harus bisa menerima uang tunai. Interfacenya sederhana dan jelas. 
  5. KA Bandara ini terlalu eksklusif, di stasiunnya ada ruang tunggunya karena headwaynya yang lama, jadi penumpang yang menunggu harus ditempatkan di lobi. Awalnya dulu ada nomor tempat duduknya, karena kapasitas angkutnya terbatas, di dalam gerbong juga ada nomor tempat duduknya, sekarang ga pakai nomor tempat duduk karena banyak bangku kosong. Padahal kalau dibuat model KRL mungkin banyak yang akan naik. Tak perlu ruang tunggu karena headwaynya sebentar. Tarifnya disesuaikan jarak tempuh. Sepertinya konsep KA Bandara sudah salah dari awal.
  6. Perpindahan dari Sudirman Baru ke Sudirman tidak ramah penumpang yang bawa travel bag. Trus, dimana-mana namanya Sudirman Baru, saya lihat di luar stasiun plang namanya Stasiun BNI City, ga pa pa sih, itu untuk meyakinkan orang kalau masih di Indonesia. Sering dibuat bingung sendiri.
  7. Mesin isi ulang kartu THB dari segi desain, interface, warna dan semuanya buruk. Ganti yang lebih modern dan canggih. Dulu waktu studi banding gimana sih, KAI?
  8. Oh ya terkait penunjuk arah (sign) yang desain dan penempatannya buruk di stasiun-stasiun tadi dan dibiarkan begitu hingga kini, saya tahu jawabannya. Karena para bos-bos dan pejabat-pejabatnya selalu diarahkan oleh pengawalnya jadi mereka ga perlu liat penunjuk arah. Salah sendiri penumpang ga bawa pengawal.
Demikian cerita dan komentar saya tentang kereta yang penting ada. Saatnya kembali menikmati sistem transportasi di Indonesia. Seperti biasa, kalau bisa dibuat susah kenapa dipermudah. 

Minggu, 04 Februari 2018

Tak ade Roti, Lendir pun jadilah

Kami melewati kawasan kawasan Jodoh. "Saya turun disini saja!" ujarku. "mau kemana?" tanya temanku. "Ngga, mau jalan-jalan aja" jawabku.

Turun dari mobil aku langsung berjalan menuju bangunan ruko-ruko tua. Kawasan ini agak sepi dibandingkan 15 tahun lalu pikirku. Di dalam deretan ruko-ruko tersebut ada pasar, namanya Pasar Jodoh. Dulu aku sering mampir kemari.

Tujuanku ke kawasan ini adalah mencari warung prata, roti khas Asia Selatan dengan kuah kari kambing yang lezat. Aku sering diajak kemari oleh Pak Tefur, ayah temanku. Kopi dan pratanya enak. kusisiri tiap blok ruko namun tak kutemukan. Seharusnya ada disini di antara pasar, restoran itu dulu dikelola oleh apek (panggilan orang Tionghoa), namun sepertinya sekarang sudah tutup. Benar sudah tutup, hanya kutemukan satu warung disitu, namun warung itu sepi, interiornya juga tidak sama, mungkin warung baru.

Kutinggalkan kawasan Jodoh. Kawasan ini sekarang sepi, perekonomian Batam sedang lesu beberapa tahun terakhir sejak harga minyak dunia jatuh. Bisnis di Batam sangat terkait dengan operasi minyak. Banyak galangan kapal di Batam yang berhenti beroperasi karena bisnis minyak yang suram. Aku berjalan menuju kawasan Nagoya, dulu aku pernah mampir menikmati kopi di salah satu ruko di kawasan ini. Lama ku mengingat lokasi kedai kop itu, kulihat di maps namun tak berhasil kutemukan.

Akhirnya kuputuskan ke kedai kopi  Harum Manis, ada pempek enak disana selain kopi. Kuputari deretan ruko kawasan Nagoya itu untuk memastikan aku tidak salah masuk. Akhirnya aku menemukan kedai kopi Harum Manis, pagi itu suasana sarapan pagi ramai seperti dulu. Kupesan satu Kopi-O tapi tak ada lagi penjual pempek disini. Kulihat menu yang terpampang di dinding di kedai itu, kutanya pelayan apakah ada roti disini? rupanya tidak ada. Kulihat di salah satu gerai ramai orang memesan mie lendir. Aku pernah makan mie itu sekali tapi lupa seperti apa rasanya.

Pagi itu meskipun sudah sarapan pagi di hotel, aku begitu menikmati aroma kopi dan nikmatnya mie lendir atau mie pekat orang menyebutnya. Bagi anda yang ingin mencoba, pergilah ke kedai kopi Harum Manis yang terletak di jalan komplek Bumi Indah, tidak jauh dari kedai Martabak har simpang 4 Nagoya.

Jumat, 22 Desember 2017

Pasar Apung Lok Baintan

Hari masih subuh dan rencana kami melihat pasar apung di dekat masjid raya berakhir kecewa. Pasar apung disana hanya ada hari sabtu dan minggu. Tukang parkir di masjid raya mengatakan kepada kami, pergi saja ke Lok Baintan atau ke Kuin, tapi lelaki tua itu menyarankan kami ke Lok saja, disana lebih unik katanya. Dari masjid raya kami ke Bang Amat. Disitu lokasi perahu yg bisa membawa kami ke Lok Baintan. Lokasinya yg berada di tepi sungai Martapura dan akses jalan yang sempit membuat kami memilih perahu menjadi alternatif ke Lok Baintan. Kami tiba di Bang Amat pukul 0615. Itu adalah sebuah warung soto banjar tepat di tepi sungai Martapura, disamping warung itu tertambat beberapa perahu yang di Banjarmasin disebut Kelotok yang siap mengantar wisatawan yang datang. Setelah negosiasi harga dengan pemilik perahu, kami sepakat dengan tarif 300rb pp Lok Baintan. Itu adalah tarif standar tak peduli berapa orang penumpangnya.

Bergegas lelaki muda pemilik kapal itu menyiapkan kelotoknya, dibentangkannya karpet berukuran 2 x 1,5 meter sebagai alas buat kami duduk. Kelotok itu merupakan perahu kayu berukuran 7 x 2 meter dilengkapi dengan atap yang rendah, ruang penumpangnya yang rendah itu memaksa penumpang harus merangkak untuk masuk. Kemudinya berada di depan berupa setir mobil, di bagian depan dilengkapi pintu kaca untuk pengemudi melihat dan dibiarkan terbuka, mesinnya berada di bawah lantai ruang penumpang, yang kalau mau dihidupkan harus diengkol dahulu. Hanya tersedia bangku di belakang kapal jika penumpang ingin bersantai. Dibukanya papan lantai kayu untuk mengengkol mesin kapal. Sebentar saja suara tok tok tok mesin menyala dan kami bersiap berangkat menuju Lok Baintan. Setelah semua siap, lelaki itu duduk di depan memegang kemudi.

Berlayar menyusuri sungai Martapura di atas sebuah kelotok di pagi yang tenang, begitu mengesankan. Di pinggir sungai itu terdapat banyak kerambah, tempat orang memelihara ikan patin, bawal,  dan nila. Ikan-ikan itu menjadi menu makanan yang banyak ditemui di tempat-tempat makan di Banjarmasin. Tidak jauh dari situ masih terdapat pepohonan sagu yang nampak liar, walau pepohonan itu nampak tak bertuan sebenarnya ada pemiliknya terang lelaki itu. Sungai Martapura begitu tenang pagi itu, hanya sesekali bertemu dengan jukung, sampan kecil dengan dayung yang banyak ditemui di sungai-sungai di Banjarmasin. Sebuah jukung melintas di samping kiri kelotok kami, berisi 3 orang dan beberapa karung barang muatan, seorang diantaranya anak sekolah. Sepertinya seorang ibu pergi mengantarkan anaknya sekolah pagi itu.

Setiap rumah di pinggir sungai itu memiliki satu Jukung. Rumah-rumah di sepanjang sungai Martapura itu adalah rumah kayu sederhana. Lantainya hampir tenggelam di permukaan air. Pagi itu mulai nampak beberapa orang mandi di belakang rumahnya, anak-anak dengan riang mandi bersama ibunya, bermain dengan saudaranya. Sepertinya suara bising mesin kelotok mulai membangunkan orang-orang di sepanjang sungai itu. Seorang remaja berkaos merah terjun ke sungai, ia berenang ke tengah, lalu kembali ke belakang rumahnya, saya pikir itu adalah cara mandi dan membangunkan tubuh paling cepat pagi itu. Di tempat lain, nampak seorang Acil di atas Jukung sedang menawarkan kue-kue dagangannya dari rumah ke rumah. Acil artinya ibu, sedangkan bapak disebut Amang dalam bahasa Banjar, lelaki pemilik kelotok itu memberitahukan. Jalan di depan rumah-rumah di sepanjang sungai Martapura itu dihubungkan dengan titian, titian adalah jalan kayu selebar 1 meter.

Perjalanan kami masih jauh. Dari warung soto Bang Amat ke pasar terapung Lok Baintan memakan waktu sekitar 50 menit. Sepanjang perjalanan itu pemilik kelotok bercerita kepada saya. Dirinya memulai mengemudikan kelotok sejak tahun 2002, sebelumnya ia hanya sebagai asisten. Baru tahun itu ia bisa membeli sebuah kelotok seharga 3,5 juta. Kelotok itu akhirnya dijual lagi seharga 9 juta. Kini kelotok yang dimilikinya itu takkan dijualnya lagi, padahal pernah ada yang menawar 20 juta. Pasar kelotok disini masih cukup tinggi, karena jenis kelotok atap rendah yang dimilikinya sudah jarang di produksi. Ada jenis kelotok baru yang lebih modern, tapi harganya mencapai 150juta, tak sanggup bagi kebanyakan pengusaha kecil disini. Sambil bercerita sesekali ia melihat ke belakang, memeriksa air pendingin mesin bersirkulasi. Dibelokkannya perahu menghindari sampah yang mengapung, takut terkena baling-baling katanya.

Di sepanjang sungai itu terpasang rambu-rambu peringatan navigasi pelayaran, namun lelaki itu tak tahu artinya. Ia tak memiliki sertifikat untuk mengemudikan kelotok itu. Tak juga ada pengawasan dari dinas setempat. Usaha kelotok mengantar wisatawan adalah mata pencahariannya, ia memiliki 3 anak, anak sulungnya kelas 6 SD. Itu yang menjadi pikirannya, menarik kelotok tidak tiap hari, ia harus antri dengan 13 rekannya, kadang menunggu hingga 2 hari baru bisa bekerja lagi, memang seperti itu disini.

Akhirnya kami sampai di Lok Baintan. Puluhan jukung tampak memenuhi sisi sungai Martapura pagi itu, 2 kelotok sudah lebih dulu hadir dibandingkan kami, mereka dikelilingi oleh jukung-jukung sembari menawarkan dagangannya. Di atas jukung itu, para acil menjual buah-buahan, sayur, kue, ada juga yg menjual perlengkapan dapur dan soto. Beberapa jukung mulai mendekati kami, menawarkan jeruk, kue, dan buah lainnya. Beli pak, jeruknya pak, begitu rayu para acil. Saya akhirnya membeli kue, ikan kering, dan keripik pisang, teman saya membeli jeruk dan pisang. Berkali-kali para acil menawarkan jeruk namun saya tolak, saya kurang suka makan jeruk pagi-pagi. Dibanding Kuin, pasar apung Lok Baintan memang unik, disini jukung terbawa arus dan ketika sudah hanyut pemilik jukung harus mendayung kembali ke atas, begitu seterusnya. Sebuah perahu besar terlihat mengumpulkan semua barang-barang dari jukung, sepertinya diborong dan akan dijual di Banjarmasin.

Hari beranjak siang, setelah puas menyaksikan aktivitas masyarakat di pasar Lok Baintan, kami kembali. Bang, kita pulang kata saya. Lelaki itu segera memutar kelotoknya. Meninggalkan para acil yang masih sibuk menawarkan dagangannya. Sebenarnya ada beberapa amang,  namun jumlahnya pagi itu sangat sedikit. Selama perjalanan pulang ke Soto Bang Amat saya merebahkan diri di lantai kapal. Pukul 0815 kami tiba di soto Bang Amat, setelah kelotok tertambat, saya serahkan ongkos kami ke lelaki itu sambil berterima kasih. Terima kasih, bay.

*sejak bercerita di kelotok ia selalu memanggil saya bay (bang)





Selasa, 28 November 2017

What a Journey! Kia Ora

Hari itu tanggal 4 bulan November tahun 2017, aku harus ke bandara sebelum dzuhur karena pesawat jam 1530. Paling tidak jam 1330 aku harus tiba. Perjalanan ke Jakarta dengan kereta listrik tidak pasti meskipun hari sabtu, meskipun paling tidak agak lengang. Aku agak telat, kereta ke Jakarta baru kunaiki hampir jam 1200. Seharusnya aku tiba di Gambir jam 1300, itu telah lewat 15 menit. Saat tiba di halte Damri, bus bandara sudah jalan, terpaksa harus naik bus berikutnya yang jalan 15 menit lagi. Lalu lintas ke bandara agak merah kulihat di maps, itu artinya macet, aku sangsi bisa tiba dalam 30 menit. Padahal penerbangan ke luar negeri harus tiba 2 jam sebelumnya. Benar saja, baru saja masuk ke dalam tol,  kendaraan sudah berjalan merayap. Kuulangi membuka maps, menghitung lama perjalanan, dan sepertinya akan telat. Jika aku tidak membawa paspor pak Haryo dan uang jalan tak mengapa, masalahnya uang jalan dan paspor aku yang pegang. Kacau, bisa-bisa gagal berangkat cemasku. Sebenarnya macet di tol hanya di pertemuan dengan tol JORR, setelahnya itu lancar.

Aku mengabari Aleik kalau jalan macet dan agak telat. Pak Haryo sudah di bandara setengah jam yang lalu. Bodoh kau Nico, kenapa tadi tak naik taksi saja, lebih cepat. Kau bisa lewat JORR, dalam setengah jam kau akan tiba di bandara!. Hatiku semakin was was, di boarding pas kulihat jam 1445 bagasi drop, sementara sekarang sudah 1430 aku masih di dalam bis, terjebak macet di tol. Sepanjang jalan aku istighfar, berdoa semoga Allah memberi kemudahan. Sesekali kulihat ke kaca depan mobil ingin memastikan bahwa tidak ada kecelakaan yang membuat macet ini, semoga hanya karena pertemuan jalur tol JORR.

Sesaat kemudian Aleik memberitahu kalau boarding jam 1515. Cukup lega mendengarnya, aku masih punya 30 menit menuju bandara. Setiap detik dan menit kuhitung, dikira, aku akan sampai di terminal 2 jam 1500. Lepas dari macet, belum melegakan perasaanku, karena masih ada pintu tol dan pemeriksaan petugas Damri. Belum lagi nanti bus akan ke terminal 3 dulu, terminal 1 dan terakhir baru ke terminal 2, bodohnya aku. Lagi-lagi aku memaki diriku, kenapa aku naik Damri, sepanjang sisa perjalanan aku hanya bisa menyesali keputusanku.

Allah menyelamatkanku, aku berlari saat bus berhenti di terminal internasional 2D, kupercepat gerakan saat melewati pemeriksaan, untung penumpang tidak terlalu ramai, tepat jam 1455 aku tiba di konter Check in Malaysia Airlines, disitu sudah sepi, satu konter sudah tutup, bergegas kuhampiri petugasnya. Raut ramah wajah petugas menenangkan aku, kuserahkan paspor ku dan pak Haryo dan handphone. Petugas itu bertanya apakah penumpang yang satu lagi sudah tiba. Aku bilang ya. Kuhubungi pak Haryo, ternyata beliau masih di lobby luar bersama aleik. Kulihat mereka mulai masuk. Aku hampiri pak Haryo dan meminta maaf aku sangat telat. Akhirnya boarding pass kami dapatkan dan 10 menit lagi baru akan masuk ke pesawat. Malaysia Airlines kami pilih karena murah, selain itu meski harus transit di Kuala Lumpur namun kami tak memerlukan visa. Opsi lainnya waktu itu naik Qantas, namun kami ragu apakah harus mengurus visa transit atau tidak, meski di situs imigrasi Australia mengatakan warga negara Indonesia tidak perlu visa transit jika kurang dari 72 jam. Lagipula Malaysia Airlines makanannya terjamin halal.

Seperti biasa, di bandara Soetta, waktu untuk take off dan landing cukup lama, pesawat harus antri. Tidak seperti Kuala Lumpur Airport yang landasannya ada 3, di Soetta dengan hanya 2 landasan dan lalu lintas pesawat yang tinggi jadilah waktu antrinya lebih lama. Penerbangan ke KL hanya 2 jam, jam 1800 atau 1900 waktu KL pesawat mendarat. Kami shalat magrib di surau bandara. Jam 2130 kami masuk ke boarding room dan bersiap masuk ke pesawat. Setelah semua siap, pesawat kemudian take off menuju Auckland.

Entah mengapa selama di pesawat tubuhku merasa sangat fit. Tidak seperti biasanya yang selalu mual, padahal makanannya juga tidak terlalu enak. Kecuali Snack kacang masinnya, aku suka. Pukul 1300 pesawat mendarat di Auckland. Setelah proses imigrasi selesai, selanjutnya pemeriksaan bea cukai. Aku agak khawatir, pemeriksaannya akan ketat, peringatan untuk membuang bahan makanan terpampang sepanjang jalan ke bea cukai, kalau ketahuan dan tidak dilaporkan maka didenda. Aku tuliskan bawa makanan dalam form bea cukai karena aku dan aleik membawa beberapa Snack dari Indonesia. Saat ditanya oleh 2 ibu petugas bea cukai bandara apa makanan yg kami bawa, aku katakan hanya bawa Snack, kacang masin atau peanut. Aleik ditanya ada yang lain dibawa, ya, bawa obat-obatan. Pemeriksaan seperti itu yang penting kita harus jujur. Petugasnya juga tersenyum saat kami berterus terang. Dan akhirnya kami lewat saja, terakhir bagasi kami masuk mesin pemindai lagi, lalu selesai.

Sampai di luar sudah pukul 1400, itu artinya jadwal bus sudah lewat. Kami harus segera memesan bus berikutnya. Setelah mencari informasi di pusat informasi, bus berikutnya juga sudah penuh. Pihak informasi menawarkan opsi naik bus travel yang biayanya 2 kali lipat. Ya mau bagaimana lagi, akhirnya kami pesan bus travel ke Rotorua itu. Kami memang dari awal tidak mem-booking bus intercity ke Rotorua karena takut proses imigrasi dan bea cukai akan lama. Bus travel baru akan siap jam 1800, jadi kami masih bisa makan siang dan shalat dulu. Kami makan siang di lantai 2, disitu ada KFC, sembari menunggu pesanan, kami bergantian shalat. Tempat shalat di terminal internasional bandara Auckland terletak di lantai 2 mengarah ke toilet lalu menuju ke sebuah lorong terbuka. Di tengah lorong itu dibentangkan Karpet seukuran 3x3 meter dan diberi tulisan di dindingnya "Moslem Pray Area". Juga tersedia setumpuk sajadah dan beberapa alquran disana.

Pukul 1800, setelah menunggu 3 orang penumpang tujuan Hamilton, bus travel berangkat. Bus itu adalah Mercedes van dengan kapasitas 12 penumpang, di bagian belakang ada ruang untuk bagasi. Bersama kami ada seorang wanita paruh baya, sepertinya dia pekerja kantoran, karena hampir sepanjang perjalanan ia membalas email di handphone nya. Dua penumpang lainnya adalah pasangan muda yang membawa bayi, sepertinya mereka baru kembali dari liburan. Mereka semua turun di Hamilton, kota di antara Auckland dan Rotorua. Supir travel kami bernama Jhony, ia keturunan India, namun sudah lama di NZ. Pukul 2000 Setelah mengantar 3 penumpang tadi, Jhony mengatakan harus mengisi bahan bakar dulu, perjalanan ke Rotorua masih 2 jam lagi. Dari Auckland hingga ke Rotorua aku melihat beberapa ruas jalan masih diperbaiki, namun tidak terdapat kemacetan karenanya. Di kiri dan kanan terhampar padang rumput yang luas dibatasi pagar sebagai padang ternak domba, sapi dan kuda. Melintasi jalan menuju Rotorua di kegelapan malam, Jhony memacu Mercedes nya di atas 80 km/jam, dia harus kembali lagi ke Auckland setelah mengantarkan kami.

Pukul 2150 kami tiba di Ledwich Lodge Motel, di tepi danau Rotorua. Lampu ruang resepsionis motel masih menyala, Aleik sebelumnya sudah mengabarkan kalau kami tiba agak larut. Kami langsung memanggil pemilik motel, sesaat keluar lelaki gendut dari pintu belakang. Halo! sahutnya menyambut kami hangat, lalu ia mulai menyiapkan administrasi dan kunci kamar kami. Jhony waktu itu langsung pamit, kami berterima kasih kepadanya sudah diantar dengan selamat. Setelah membayar penginapan selama 7 hari kedepan, Webb nama pemilik motel itu, mengantar kami ke kamar. Pak Haryo di lantai bawah, aku dan Aleik di lantai atasnya. Motel itu memiliki sekitar 14 kamar, setiap kamar dilengkapi kasur dan sofa, bisa untuk bertiga. Di dalamnya ada kamar mandi dan dapur lengkap dengan alat masak.

Setelah menaruh barang, kami langsung keluar mencari makan. Itu sudah jam 2200, sebagian besar restoran sudah tutup sejam yang lalu. Setelah memutar berusaha mencari tempat makan, akhirnya kami kembali ke EatStreat. Kawasan restoran di Rotorua, ada satu restoran yang masih buka. Kami memesan roti bawang, kentang, ayam dan goreng cumi, beserta air putih, lumayan untuk mengganjal perut malam ini. Setelah makan malam yang larut, kami kembali ke hotel dan bersiap untuk acara besok.

Pagi itu aku tak bisa tidur, efek jet lag masih mengacaukan pola istirahat tubuhku, suhu dingin ruang kamar juga mengganggu tidurku. Aku hanya sarapan sisa kentang dari KFC kemarin siang, kami tak sempat membeli makanan pagi ini, meskipun sempat, kami lebih memilih istirahat. Jam 0850 kami  menuju ke tempat acara. Tiba disana acara penyambutan oleh suku Maori sudah dimulai. Istirahat sore aku keluar ke ISite membeli tiket bus pulang, takut kami tak kebagian lagi. Aku pesan bus jam 1600 ke Auckland Internasional airport hari Jumat, itu setelah acara Eksekursi.

Hari pertama yang melelahkan,  pak Haryo bahkan sempat down karena tidak sarapan. Jadilah sore itu kami berbelanja ke market membeli bahan makanan untuk sarapan. Sebelum pulang kami mampir membeli lauk ayam dan domba di Mecca Kebab. Sampai di hotel, aku langsung menanak nasi, perutku sudah terasa lapar. Setelah magrib kami makan malam, itu pukul 1930, disini lagi di akhir musim semi, waktu siang lebih panjang. Cuaca musim semi ini tak menentu, meski sering cerah lusa diperkirakan akan hujan deras, suhu di siang hari sekitar 14 derajat celcius, di malam hari bisa turun hingga 9 derajat.

Keesokan pagi kami agak telat ke acara, malam itu efek jetlag belum juga hilang, pola tubuhku semakin kacau, meskipun suhu dingin tidak mengganggu lagi sejak heater di samping tempat tidurku kunyalakan kemarin siang. Malam tadi aku mencoba tidur jam 2000, tengah malam aku sudah terbangun dan tak bisa tidur lagi hingga pagi, meskipun mencoba, pak Haryo juga sama. Di toko Asia Market kemarin kami beli indomie, beras, dan cemilan, kami juga mampir ke ParknSave membeli telur, udang, lalapan dan snack. Nasi dan mie itulah yang dimasak Aleik jadi nasi goreng untuk sarapan pagi tadi ditambah lauk makan malam yang masih tersisa.

Malam ini kami tak perlu masak makan malam karena ada acara formal dinner. Makanan di Novotel malam ini sangat enak dibanding makan siang 2 hari ini, panitia menyajikan banyak masakan sea food yang lezat. Alhamdulillah sewaktu mengirimkan form registrasi peserta aku mencantumkan permintaan makanan halal ke panitia dan selama 2 hari ini kami tidak menemukan makanan dari babi. Saat pulang ke hotel aku pastikan akan tidur jika benar-benar mengantuk biar tidurku bisa lelap.

Aku bangun pukul 0430 subuh itu dan langsung shalat. Setelah tidur lagi sebentar pagi itu, aku dan Aleik menyiapkan sarapan pagi, dengan telur dan mie. Hari ini kami telat lagi ke pertemuan hari ke 3, sekitar 5 menit, itu karena hujan deras sekali, untung sudah berhenti pas jam 9. Istirahat makan siang kami selalu kembali ke hotel untuk shalat. Sore itu kami mengelilingi kota Rotorua, melihat toko-toko penjual suvenir.

Hari kamis adalah pertemuan terakhir. Sore harinya kami ke kota lagi, membeli suvenir dan makanan. Waktu itu sedang ada acara di pusat kota, ada festival makanan. Kami kembali ke hotel dengan membawa penuh belanjaan.

Hari terakhir di Rotorua, tuan rumah mengajak para peserta ke Agrodome, sebuah tempat atraksi domba, lucu. Di awal acara dipertontonkan berbagai jenis domba, lalu pertunjukan anjing penggembala domba, mencukur domba, memberi makan sapi dan bayi domba, lucu.

Hiburan domba lucu di Agrodome

Kawah belerang di Te Puia

Asal suku Maori

Setelah membeli beberapa suvenir dan menikmati kue yang disediakan panitia, perjalanan kami lanjutkan. panitia menyediakan 2 bus besar. Tujuan berikutnya adalah Te Puia, sebuah kampung suku Maori. Selain melihat museum suku Maori disana kami melihat kawah belerang sumber air panas. Rotorua pada zaman dahulu adalah pegunungan besar yang meletus. Di sekitar Rotorua banyak ditemui sumber mata air panas hingga hari ini. Dari Te Puia aku baru tahu jika suku Maori berasal dari Indochina, mereka menyebar melalui Kalimantan dan terus berlayar hingga ke Selandia Baru, sebagian dari mereka berlayar ke Utara menuju Hawai dan pulau sekitarnya. Beberapa kata seperti "Lima, Mata" merupakan kata-kata di nusantara yang juga sama digunakan suku Maori. Pukul 1500, kami kembali ke hotel dan langsung bersiap menuju stasiun bus karena bus ke Auckland pukul 1615.

Tepat pukul 1615 bus yang kami tumpangi tiba.



akan dilanjutkan nanti ya...

Selasa, 11 Juli 2017

Proyek Jalan Yang Hebat


Saya memutuskan untuk naik bus dan sangat ingin melihat pemandangan yang indah sepanjang perjalanan. Saya duduk di belakang sopir, di dekat jendela, agar mata ini bisa leluasa memandang ke depan. Cuaca pagi ini cukup cerah meski suasana masih gelap, saya berangkat subuh waktu itu.
Sebentar lagi bus memasuki perbatasan Lampung-Bengkulu saya mengetahuinya dari papan petunjuk yang saya lihat, saya tahu bus melewati jalan baru menuju Bengkulu. Jalan dipisahkan menjadi dua jalur utama dan satu jalur utama digunakan hanya untuk satu arah saja. Mata saya yang sudah mulai mengantuk langsung tertarik untuk melihat apa yang terjadi di sini. Setiap jalur jalan itu memiliki lebar sekitar 9 meter yang terbagi menjadi 2 lajur kendaraan dan 1 lajur darurat. Saya pikir kami sedang masuk ke jalan tol baru, tapi sudah beberapa kilo meter saya tidak melihat ada loket pembayaran, Hmmmmm. Jalan tersebut sebagian besar terbuat dari beton sedang sebagian yang lain dari aspal hotmix. Di sisi jalan juga dibuatkan saluran air tertutup hanya beberapa lubang dengan besi di atasnya sebagai jalur air masuk dibuat sepanjang saluran itu. Di sisi jalan juga di pasang besi penahan (guard rail). Jalan baru ini membelah hutan yang lebat, perkebunan karet dan sawit di daerah ini, juga pemukiman penduduk. Setiap pemukiman yang dipisahkan oleh jalan yang sangat lebar tersebut dibuatkan jembatan diantaranya dan selain itu di setiap pemukiman dan perkebunan juga dibuatkan jalan masuk dan keluar menuju jalan utama, seperti jalan tol saja. Namun tidak banyak pemukiman yang dipisahkan oleh jalan ini, jalan baru ini sepertinya memang dibuat untuk menghindari pemukiman sebisa mungkin.
Tidak ada persimpangan langsung di jalan ini, setiap jalan masuk dan keluar dari dan ke jalan utama dibuatkan jalan lain di sisinya. Beberapa lampu penerangan jalan jenis led dengan tenaga surya terpasang hanya di pertemuan-pertemuan jalan itu. Setiap 2 kilometer terdapat tanda khusus telepon darurat yang mungkin terhubung ke suatu instansi yang bertanggungjawab mengelola jalan ini. Saya melihat sebuah mobil patroli dengan dua orang petugas di dalamnya berada di sisi jalan, namun sepertinya bukanlah mobil polisi saya pikir itu juga mobil patroli instansi yang bertanggung jawab mengelola jalan ini. Dengan menyalakan lampu diatas kendaraannya seakan mereka mengatakan ‘kami mengawasi kalian’, sehingga sopir-sopir juga harus menjaga kecepatannya jika tidak ingin berurusan dengan petugas patroli itu. Selain itu, beberapa kamera pemantau kecepatan juga terpasang di pinggir jalan ini. Jalannya sangat mulus tanpa lubang dan beberapa guncangan hanya terjadi di setiap persambungan jembatan, selebihnya halus mulus tak terasa. Di sisi jalan juga tampak tersedia beberapa lokasi tempat istirahat atau perbaikan darurat. Wah! hebat sekali Bengkulu saat ini, berapa banyak waktu yang bisa di hemat dengan menggunakan jalan baru ini. Bus selanjutnya keluar di daerah Air Sebakul Kota Bengkulu namun jalan itu belum habis, dari marka penunjuk saya baca jalan baru itu bisa terus mengarah ke Padang, Hebat...ckckck.
Masuk di jalanan kota yang belasan tahun lalu sering saya lewati, tidak ada perubahan pada jalan-jalan kota ini, lebarnya tidak bertambah mungkin karena sudah banyak pemukiman penduduk di sisi-sisi jalan, namun kualitas jalan ini terlihat lebih baik, jalannya mulus tanpa lubang dan marka jalannya juga sangat jelas, jalan-jalan untuk para pejalan kaki juga  dibuat dengan rapi sepanjang jalan kota.
Bus berhenti di persimpangan lampu merah kota Sydney dan membangunkan saya dari mimpi, sebuah mimpi tentang perjalanan ke kampung halaman saya. Perjalanan 3 jam dari Canberra ke Sydney tidak terasa, di kanan dan kiri jalan terhampar padang rumput yang luas juga ada peternakan sapi dan domba yang bebas berkeliaran dalam kandang yang sangat luas. Bus membelah kabut dingin yang tebal pagi itu, yang membuat saya sempat berpikir kalau itu awan. Beberapa rambu peringatan "hati-hati' kanguru melintas terpasang di daerah hutan. Pemandangan yang betul-betul indah dan perjalanan yang begitu nyaman, saya berpikir bagaimana mereka bisa membangun ini semua. Mereka menggunakan seluruh sumber daya yang mereka miliki dan membangun suatu kesempurnaan dengan itu, termasuk jalan yang mulus itu. Oh andai negeriku bisa melakukan ini semua...

Angkot: Roda Kehidupan Tak Berputar Disini


Mungkin anda pernah mendengar ungkapan 'Roda Kehidupan Pasti Berputar'. Ungkapan itu sepertinya tak berlaku di dunia Angkot, transportasi umum berupa mobil berpenumpang belasan orang yang hampir ada di seluruh kota di Indonesia.

Tulisan ini hasil penelusuran singkat bersama orang-orang yang terlibat di dalam per-angkot-an di kota Bandung.

Kejayaan Angkot
Pada tahun 80an-90an mungkin industri angkot dirintis di kota Bandung. Pada waktu itu orang yang memiliki kendaraan pribadi masih sangat sedikit. Masyarakat sangat mengandalkan Angkot. Usaha yang dirintis oleh beberapa orang ini lalu berkembang, dan menjadi andalan. Seiring perkembangan kota, jumlah angkot semakin bertambah. Masa-masa ini adalah masa-masa jaya pemilik dan pengemudi Angkot. Penghasilan yang di dapat oleh pengemudi dan pemilik dari usaha Angkot sangatlah besar. Mereka bisa membayar kredit Angkot, bahkan tidak sedikit yang mampu membangun rumah hanya dari usaha Angkot. Para pengusaha yang awalnya punya satu armada, sedikit-sedikit berkembang hingga belasan dan bahkan puluhan. Sementara para pengemudi waktu itu cukup bekerja setengah hari, hasilnya sudah sangat wah. Kebanyakan satu Angkot dioperasikan dua orang pengemudi yang berganti shift pagi dan siang, sementara di malam hari banyak yang beristirahat. 

Industri ini juga berhasil menarik para pekerja kalangan bawah, mereka para pengemudi banyak yang hanya berbekal ijazah SMP, SD, bahkan ada yang tak bersekolah. Mereka datang dari berbagai daerah menikmati manisnya industri angkutan umum di kota Bandung. Sementara waktu itu, para penumpang rela menunggu dan berebut untuk naik angkot. Mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu-ibu ke pasar, dan para pekerja, setia menggunakan Angkot. Sampai-sampai mereka rela duduk di lantai angkot, berimpitan, bergelantungan di pintu agar bisa sampai ke tempat tujuan. Saat krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998, saat banyak orang merasa khawatir akan perekenomiannya, industri angkot tak terpengaruh, tuh. Penghasilan para pengemudi waktu itu bisa mencapai 250-300 ribu dalam sehari, sudah diluar makan dan bahan bakar. Masa-masa ini adalah masa indah kehidupan pengusaha dan pengemudi angkot.

Mereka pun Mulai Kolaps
Pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung, lalu meningkatnya ekonomi masyarakat secara perlahan mulai memberikan pengaruh pada industri ini. Banyak orang mulai memiliki kendaraan pribadi dan meninggalkan Angkot. Kepemilikan motor dengan cicilan yang murah perlahan-lahan mulai mengurangi jumlah pengguna Angkot. Kondisi ini direspon tidak dengan meningkatkan pelayanannya, para pengemudi angkot seakan terlena dan tak menyadari bahwa para penumpang mulai menimbang untung rugi menggunakan angkot dan membandingkannya dengan membeli  motor. Kondisi ini terus berjalan hingga tahun 2000an. Pada masa-masa ini mulai timbul persaingan antara Angkot dan kepemilikan kendaraan. Faktor ekonomis, keamanan, kecepatan, menerobos sempitnya jalanan di Kota Bandung telah menjadikan sepeda motor mengalahkan semua moda, sepeda motor mulai mendominasi dan menjadi pilihan masyarakat, sedang angkot perlahan mulai ditinggalkan.

Pertambahan jumlah penduduk yang diikuti pertumbuhan kepemilikan kendaraan pribadi lalu memunculkan masalah di kota. Kemacetan adalah hal yang nampak dan paling dirasakan. Pemerintah lalu muncul dengan wacana untuk membangun angkutan massal, dengan bus dan kereta. Sementara angkot, industri ini mulai diperketat dengan pengelolaan yang harus berbadan hukum, meski di lapangan masih diurus oleh pemilik masing-masing. Industri ini kini mulai dipandang negatif, mulai dari masalah kenyamanan dan keamanan, hingga kejelasan tarif dan stigma buruk lainnya. Tak ayal pemerintah semakin menjadi-jadi untuk mengembangkan angkutan massal, sementara angkot tetap ditinggalkan. Aturan baru tentang pengelolaan yang berbadan hukum diikuti oleh aturan standar pelayanan yang harus diberikan angkot bukannya menyelamatkan industri ini, masyarakat sudah tidak tertarik dengan angkot, kecuali mereka yang tidak memiliki kendaraan.

Kondisi-kondisi tersebut semakin menekan para pengusaha, pengeluaran untuk biaya perawatan lebih besar dari pemasukan yang didapat akibat rendahnya jumlah penumpang. Sekarang anda akan melihat banyak angkot Kota Bandung berlalu-lalang hanya membawa 1 atau 2 penumpang, bahkan seringkali kosong. Lalu anda juga akan melihat banyak angkot yang diparkir dan tidak beroperasi hingga berhari-hari. Semua itu karena tidak ada sopir yang mampu memenuhi setoran akibat rendahnya jumlah penumpang. "Sekarang Angkot sudah susah!", "Angkot sudah kolaps", "bisa dapat 50 ribu sehari saja udah hebat", Itu yang mereka pengusaha dan pengemudi ungkapkan. 

Apalagi sekarang, di Bandung juga mulai berkembang angkutan berbasis aplikasi, murah dan praktis. Kita tinggal memesan darimana dan mau kemana, maka tarif akan muncul. Untuk kota Bandung, terobosan ini cukup membantu terutama ketika kondisi lalu lintas macet parah, angkutan berbasis aplikasi dengan moda motor atau disebut ojek online jadi primadona. Maka angkot telah semakin jauh ditinggalkan. Entah apa perasaan mereka para pengemudi ketika melihat orang-orang lebih banyak menggunakan ojek online, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Pemerintah? Sepertinya kehabisan akal untuk mengatasi kondisi ini, apakah akan membantu memperbaiki kondisi industri angkot atau 'membunuhnya perlahan-lahan'. Sudah banyak pengusaha yang lebih memilih menjual angkot-angkot mereka dengan alasan biaya operasional tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. "saya akan jual saja angkot saya" begitu kata seorang pengusaha yang telah berkecimpung dalam industri angkot selama lebih dari belasan tahun. Tingginya kepemilikan motor, pembiaran angkutan berbasis aplikasi dan pengembangan sistem angkutan massal baru telah menghancurkan industri angkot di kota Bandung. Akan kah industri ini kembali berputar dan berjaya seperti tahun 1980an? Rasa-rasanya sudah tak mungkin, roda kehidupan tak berputar lagi disini.

Sabtu, 28 Januari 2017

Jalan-Jalan Singkat di Kota Pisa dan Milan

Dari Roma saya melanjutkan perjalanan ke Pisa. Pisa berada di utara Roma. Saya berangkat dengan kereta malam, dinihari bahkan, agar bisa sampai di Pisa pas pagi hari. Rencananya hanya sebentar di sana kemudian lanjut lagi ke Milan. Masih menggunakan kereta Trenitalia, saya berangkat dari stasiun Ostiense kota Roma.

Selama perjalanan saya mencoba untuk tidur, tapi tak bisa. Kereta sampai sekitar pukul 4 pagi, hampir saja terlewat stasiun Pisa, kondisi gelap di luar dan tak terlihat nama stasiunnya, saya putuskan untuk turun, jikalau belum sampai saya bisa lanjut kereta berikutnya, tapi jika terlewat, mungkin akan langsung ke Milan saja, tapi untunglah itu benar Stasiun Pisa.

Suasana sunyi pagi itu, saat di dalam stasiun saya berharap menjumpai colokan listrik, saya perlu mengisi ulang hape dan kamera, tapi tak menemukannya, di kereta tadi juga tak ada tempat isi ulang, duh. Karena tak menemukan tempat isi ulang, saya langsung saja berjalan keluar menuju ke menara miring. Berjalan pelan agar sampai di sana pas matahari terbit. Jarak menara miring dari stasiun tidak terlalu jauh, itu berada di utaranya stasiun, sengaja saya memutar ke arah timur agar pulang bisa melihat daerah sebelah barat.

Saya melintasi jembatan Ponte Di Mezzo di atas sungai Arno yang membelah kota Pisa, suasana subuh dengan sinar lampu kuning di sisi sungai menjadikan pemandangan yang indah.  Saya terus berjalan ke utara dan akhirnya sampai di kawasan menara miring Pisa melalui jalan Cardinale Pietro. Ternyata kawasan itu dilengkapi pagar tinggi yang masih terkunci, saya lalu memutar ke jalan Contessa Matilde, tembok tinggi yang mengelilingi kawasan itu terlihat sudah usang. Saya tiba di pintu sisi barat yang ternyata sudah dibuka, kawasan itu sedang direnovasi termasuk tiga bangunan utama di dalamnya. Di kawasan itu berdiri Menara Pisa, Cattedrale Di Pisa, dan Battistero di San Giovanni. Saat itu Cattedrale Di Pisa sedang direnovasi begitu juga pusat informasi. Suasana masih sepi pagi itu, di sekitar menara tampak dua orang tentara bersiap-siap untuk berpatroli.

Sungai Arno 
Batistero di San Giovanni
Cattedrale di Pisa
Menara Pisa
Setelah puas berfoto-foto ria, saya meninggalkan kawasan itu dan berjalan kaki menuju stasiun sekaligus berkeliling di kota kecil itu. Sampai di pusat kota, saya mampir sebentar di toko pakaian untuk membeli oleh-oleh, mumpung lagi ada diskon. Selesai membeli oleh-oleh saya lalu menyusuri jalan Corso Italia dan membeli beberapa souvenir di sana. Sejak dari Roma saya perhatikan, jika di belahan Eropa utara banyak saya jumpai orang-orang dari Turki dan Afrika utara, sedangkan di Italia ini saya banyak melihat orang-orang dari Asia Selatan. Kereta ke Milan masih lama, masih ada waktu untuk bersantai di pusat Kota Pisa, sambil menunggu, saya putuskan untuk mampir ke pangkas rambut, kepala saya sudah terasa gatal, tarifnya sama dengan di Belanda sekitar 13 euro. Selesai potong rambut saya langsung ke stasiun kereta. Kereta ke Milan sudah siap, saatnya melanjutkan perjalanan.

Kereta ke Milan siang itu tidak terlalu ramai. Di kabin saya waktu itu hanya ada seorang lelaki muda. Jadi saya bisa bersantai. Kereta yang saya naiki itu kelas ekonomi, di dalam gerbong terbagi menjadi beberapa kabin, satu kabin terdiri dari enam tempat duduk. Saya pilih dekat jendela biar bisa memandang bebas ke luar jendela. Jika dari Milan ke Roma disuguhi pemandangan bukit dan perkebunan hijau. Jalur Pisa ke Milan disuguhi pemandangan lautan biru. Kereta tiba di Milan sore hari. Saya bergegas langsung ke hotel.

Dari Stasiun Milan Porta Garibaldi saya pindah kereta naik metro menuju Stasiun Istria. Dibanding Roma yang kusam. Stasiun di Milan lebih bersih. Di Roma, stasiun, kereta, dan sudut kota dipenuhi coretan-coretan cat semprot, saya menduga itu pasi ulah pendukung Roma dan Lazio. Melihat kota Roma waktu itu, saya teringat Jakarta, mirip, coretan di mana-mana, kualitas jalan asal-asalan, trotoar yang buruk, persis. Dari Stasiun Istria saya berjalan kaki ke hotel Music B&B di jalan Alfredo Comandini. Setelah mandi dan menaruh beberapa barang saya bergegas ke pusat kota Milan, ada yang harus saya beli.

Dari Stasiun Istria saya naik metro ke Stasiun San Babila, dari situ saya bergegas ke jalan Corso Europa, membeli souvenir di Juventus Store, lalu ke Inter Store. Mencari Juventus Store gampang, nah mencari toko Inter yang susah karena mereka pindah ke toko baru. Saya harus mampir ke Milan Store untuk menanyakan di mana Inter Store. saya harus bergegas karena sebentar lagi toko akan tutup. Akhirnya saya menemukan toko Inter Store dan mendapatkan souvenir yang saya cari. Tempat berikutnya yang saya tuju adalah San Siro. Meski Seri-A telah berakhir, saya tetap ingin ke datang ke San Siro yang menjadi kandang tim Inter dan Milan, ini adalah salah satu impian saya. Hanya berkeliling di situ karena tur ke dalam stasiun sudah tutup beberapa jam lalu. Setelah menikmati makan malam di tengah kota, saya kembali ke hotel dan istirahat.

Inter Store
stadion San Siro
Jadwal penerbangan kembali ke Belanda pukul 1 siang, pagi-pagi sekali saya bergegas ke pusat kota Milan, hanya itu kesempatan saya untuk melihat kota ini. Tempat yang ingin saya tuju pagi itu adalah Duomo. (bersambung)

Akan dilanjutkan nanti ya....


Jumat, 21 Oktober 2016

Sepenggal Kisah GoJek Malam Ini



Saya baru saja tiba di Bandung. Setelah memesan Gojek dari stasiun ke Taman Teras Cikapundung terpampang di handphone icon beberapa driver yang online waktu itu. Tak lama notifikasi seorang driver muncul. Namun selang beberapa detik pesanan saya dibatalkannya. Mungkin dia lelah. Aplikasi lalu mencari driver lain. Ketemu. Namanya Gilang. Kami sudah janjian. Dia menghubungi saya. Dari cara bicaranya ke pelanggan sepertinya dia baru jadi driver. Sekitar 8 menit dia akan sampai ke tempat penjemputan karena harus memutar dulu. Karena banyak jalur satu arah di Bandung. Saya menunggu sekitar 100 meter-an dari gerbang stasiun. Lokasi itu adalah sebuah rumah makan sunda, ada tulisan 'Wilujeng Sumping' di pintunya. Ampera namanya. Memang di situ lokasi penjemputan konsumen Gojek. Driver merasa tak enak dengan ojek pangkalan dan supir taxi di depan gerbang. Melalui aplikasi saya pantau Gilang semakin mendekat. Seharusnya ia sudah di depan saya saat ini. Tetiba muncul seorang driver. Menjelang dinihari itu saya tak bisa memastikan wajah driver tersebut. Seandainya di depan motornya ditulis nama driver-nya, mungkin saya bisa mengenalinya. Di dekat saya juga ada penumpang lain. Seorang lelaki muda. Ia mendekati driver yg baru datang itu. Mereka berdua berbincang sejenak. Entah apa yg mereka bicarakan dalam sekian detik itu. Diberikannya helem oleh driver ke lelaki muda itu. Lalu lelaki itu naik. Sekejap mereka menghilang di kegelapan malam. Tak lama kemudian muncul seorang driver lagi. Saya tanya "Gilang?", "Bukan" katanya. Driver itu lalu bertanya tujuan saya kemana? "Teras Cikapundung" kata saya. Sepertinya bukan Gilang. Lalu driver bertanya lagi "Sudah ada driver?". "Sudah" kata saya. Lalu tak berapa lama muncul driver lainnya. Dia bertanya nama seseorang mungkin pemesannya yang terdengar bukan nama saya, saya bilang bukan karena ia tak menyebut nama saya. Kemana Gilang saya? Seharusnya dia sudah di sini. Dua driver tadi masih menunggu di sini. Seorang masih menunggu pemesannya dan yang satu lagi menghubungi pemesannya lalu pergi. Saya pikir yg pertama tadi itu Gilang. Rasa-rasanya ia salah ambil penumpang. Saya cek di aplikasi ternyata benar. Gilang saya sudah menjauh. Mengarah ke Teras Cikapundung. 😅 Entah siapa yang dibawanya itu. Saya yang memesannya masih berdiri di sini menunggunya dari tadi.

Saya lalu membuat pesanan baru di aplikasi. Dapat. Namanya Maman. Dia menanyakan posisi saya di mana. Saya katakan sudah di Ampera. Lalu dia infokan jika dirinya memakai motor biru dan helm merah. Lima menit kemudian seorang driver datang. Motor biru helm merah. "Maman?" tanya saya. "Iya!" katanya. Sementara itu, saya lihat di aplikasi si Gilang sudah hampir sampai. Karena saya tak bisa membatalkan pesanan si Gilang jadi saya masih bisa memantaunya. Saya ceritakan ke Maman ada driver salah ambil penumpang. Di jalan saya membayangkan keributan antara Gilang dan penumpangnya. "Loh koq ke sini, Pak?. "Lah bukannya tujuannya ke Teras, Mas?". "Bukan!". "Bapak namanya Xxx kan?". "Saya Gilang". "Yah, koq bapak ga bilang tadi?". "Lah, mas nya gimana tadi kan saya udah bilang" (main naik aja sih). Dan seterusnya... Ha ha ha

Sampai di kos. Saya lihat ada lima kali panggilan tak terjawab dari si Gilang. Saya tetap kasih dia bintang lima atas usahanya malam ini. Gilang...Gilang... Selamat tidur, Lang.

Bandung yang setia dingin , 00.06 Rabu 191016

Rabu, 07 September 2016

Membawa Sepeda Dari Belanda Dengan Pesawat Ternyata Mudah

Saya mau berbagi pengalaman tentang cara membawa sepeda dari Belanda ke Indonesia dengan menggunakan pesawat Garuda.  Nah langkah pertama tentu kamu harus bawa sepedanya ke Schiphol terserah dengan menggunakan mobil atau kereta. Kalau menggunakan kereta, di kereta NS Belanda ada tempat khusus untuk memuat sepeda, taruh saja disana.

Membawa sepeda dengan kereta ke Schiphol
Tiba di Schiphol, dari peron kereta ke terminal keberangkatan lebih enak menggunakan lift. Setelah tiba di bandara kamu harus membeli kotak kardus sepedanya. Kotaknya beli di Baggage Storage, harganya 23 euro, itu kotak kardus yang bisa di bongkar pasang, ada nomornya di tiap sisi, tinggal dihubungkan. Baggage store itu ada di lantai bawah dekat terminal kedatangan 2. Kalo kamu bingung dimana itu, lebih baik tanya saja ke petugas disana. Kalo kamu lupa membawa peralatan untuk membongkar sepeda, terpaksa sepeda harus dibawa ke Baggage store, pinjam saja alat ke petugas Baggage Store. Karena saya membawa alat-alat untuk membongkar sepeda, jadi saya tak perlu membawa sepeda ke Baggage store.

Tempat bagasi ukuran besar
Nah, setelah berhasil mendapatkan kotak kardus, saatnya membongkar bagian sepeda. Tidak perlu lepas semuanya karena kardusnya cukup besar. Bagian yang perlu dilepas antara lain: Ban depan (klo sepedanya kecil ngga perlu dilepas), sedal dua duanya, rak depan sepeda (jika ada). Sementara stang sepeda cukup di kendorkan lalu diputar memanjang tapi kalo stangnya besar ya harus dilepas. Oh ya, karena ban depan dilepas, kamu perlu memberi alas pada  garpu sepeda supaya tidak merusak atau membolongi kardus, waktu itu saya beri tambahan alas kertas yang tebal. Selanjutnya kamu juga harus memastikan tidak ada bagian tajam dari sepeda yang dapat merusak kardus, bagian-bagian semacam itu harus dilindungi. Terakhir sebelum dimasukkan, ban sepeda harus dikempeskan, aturannya seperti itu. Setelah sepeda dimasukkan ke dalam kardus lalu ditutup mungkin sebaiknya diberi lakban untuk memastikan kardus tidak terbuka saat proses pemindahan. Beri saja lakban di bagian persambungan.

Nah selanjutnya antri check in sekalian lapor ke petugas check in Garuda kalo kamu membawa sepeda. Oh ya, pada saat memesan tiket sebelumnya kamu juga harus melaporkan kalo kamu akan membawa sepeda, ingat ya!. Soalnya bisa jadi banyak orang juga membawa sepeda sehingga bagasi pesawat jadi penuh.

Saat check in sepeda akan di timbang, maksimal beratnya adalah 30 kg. Jika lebih kamu harus membayar kelebihan bagasi. Ingat, kamu tidak boleh memasukkan barang tambahan ke kardus sepeda. Setelah di timbang dan diberi label bagasi, lalu kamu harus mengantarkan sendiri kardus sepeda tersebut ke loket Odd size Baggage, dekat saja sekitar 15 meter dari konter check in Garuda. Disana kamu akan bertemu petugas bagasi, turuti saja perintah petugas bagasinya. Selesai memasukkan kardus maka selesai sudah proses di bandara Schiphol nya.

Mengambil Sepeda di Bandara Soetta

Pengalaman saya di terminal 2 Soetta, kotak sepeda akan di keluarkan paling akhir setelah semua bagasi penumpang selesai. Keluarnya pun bukan dari tempat biasa kamu mengambil bagasi. Nanti petugas bagasi yang akan mengantarkannya ke penumpang. Tapi kamu bisa memastikan itu ke petugas bagasi, biasanya kotak kardus sepeda akan keluar dari ruang dekat penumpang prioritas tunggu saja disitu. Setelah kotak sepeda kamu terima selanjutnya akan diperiksa oleh petugas Bea Cukai. Kalo kamu beli sepeda baru dengan harga tertentu (saya kurang tahu mungkin lebih dari 250 dollar atau setara), tapi kalo itu sepeda bekas tak jadi masalah, mungkin kamu akan diminta untuk menunjukkan kuitansi pembelian sepeda.

Demikian informasi yang dapat saya berikan jika kamu ingin membawa sepeda dari Belanda ke Indonesia.


Rabu, 22 Juni 2016

Akhirnya Ke Roma Juga


Seri liburan di Eropa saya ditutup dengan pergi ke Italia, Roma adalah kota pertama yang saya pilih. Saya memulai perjalanan dari Stasiun Tibutina menuju stasiun Tirmini dengan menggunakan metro, tiketnya hanya 1,5 euro untuk sekali jalan. Tujuan pertama saya adalah stasiun Re Di Roma, Selatan kota. Dari stasiun Re Di Roma saya memulai perjalanan ke Basilica di Santa Croce in Gerusalemme lalu terus melewati taman Giardini di Via Carlo Felice ke basilica di San Giovanni in Laterano, dari sini sudah nampak puluhan wisatawan yang sedang mengikuti tour, mereka para lansia.

Peta metro di Roma
Mesin tiket metro Roma
Stasiun Metro Roma Tiburtina
Suasana di dalam metro
Stasiun Re di Roma 
Basilica di San Giovanni in Laterano
Karena saya akan menghabiskan hampir seharian di kota Roma, saya akhirnya memutuskan menyewa sepeda untuk mengelilingi kota Roma, daripada berjalan kaki akan terasa lebih ringan dengan sepeda. Pengalaman di Amsterdam terbukti lebih mudah mengelilingi kota mengunjungi banyak objek wisata dengan sepeda. Saya menyewa sepeda di Top Bike Rental di jalan Via Labicana 49. Mereka menyediakan berbagai jenis sepeda, harga sewanya seharian 15 euro. Meski informasi di internet menyatakan tempatnya buka jam 10.00 pagi, saat tiba disana jam 09.00 saya sudah bisa mengambil sepeda yang sebelumnya saya booking. Tidak lupa peta gratis kota Roma saya comot dari sana. Oke, sepeda sudah siap, peta sudah di tangan, saatnya berkeliling kota Roma. Obyek wisata pertama yang saya tuju adalah, Colosseum, itu tidak jauh dari tempat penyewaan sekitar seratusan meter. Tidak seperti kota-kota di Belanda, Roma tidak menyediakan banyak jalur sepeda, dan tidak banyak pula yang menggunakan sepeda, oleh karenanya saya mesti berhati-hati, terutama dengan mobil dan tram. Colosseum pagi itu sudah ramai disesaki wisatawan, mereka datang menggunakan bus-bus besar.
Top Bike Rental

Menuju Colosseum

Colosseum
Setelah berfoto-foto sejenak di Colosseum saya langsung memacu sepeda menuju Vatikan menyusuri sungai Tiber. Nah di sisi sungai ini baru terdapat jalur sepeda, beberapa orang juga tampak berolahraga di pagi yang cerah itu. Dari sisi sungai saya harus naik setinggi 25 meteran melewati puluhan anak tangga untuk menuju ke kawasan Vatikan City. Seorang wisatawan dari India bertanya kepada saya dimana letak Vatikan, untung koneksi data internet saya bisa digunakan meski roaming, jadi saya bisa menunjukkan kepadanya lewat google maps. Saat tiba di Vatikan, sebelum masuk ke Peter's Square tas pengunjung harus diperiksa. Suasana siang yang terik itu di kawasan Peter's Square di penuhi puluhan wisatawan yang asyik berfoto, beberapa orang juga sedang mengantri masuk ke Basilica. Saya menyempatkan membeli beberapa souvenir di Square sana juga di pinggir jalan Via della Conciliazione yang ternyata sedikit lebih murah.

Sungai Tiber
Jalur sepeda di sisi sungai Tiber
Di St Peter's Square dengan latar Basilica di San Pietro
St Peter's Square dan St Peter's Basilica
Toko souvenir di Vatikan
Setelah puas berbelanja, dari Vatikan saya terus ke Castel Sant Angelo, disini juga ramai pengunjung anak-anak muda, mereka berteduh di bawah bayangan bangunan itu, cuaca Roma memang panas sekali siang itu. Setelah itu saya melewati Corte Suprema dan berisitirahat sejenak di simpang Piazza di Ponte Umberto I.
Jembatan Ponte Sant'Angelo
Castel Sant' Angelo
Corte Suprema di Cassazione
Jembatan Ponte Sant'Angelo
Sudah masuk waktu Dzuhur, saatnya shalat di Rome Grand Mosque. Sebelum ke sana, saya mampir ke stadion Olimpico yang sepi karena kompetisi liga Serie A sudah usai. Masjid besar Roma terletak di Utara kota di kawasan berbukit, perlu tenaga ekstra untuk ke sana dengan sepeda. Suasana menjelang dzuhur di Masjid besar Roma tampak begitu sepi, hanya terlihat beberapa orang perempuan berpakaian sari, sepertinya mereka orang Asia Selatan, duduk disekitar gerbang masuk mesjid. Saya langsung menuju ke dalam masjid lalu berwudhu. Masjid itu terdiri dari dua lantai, tempat shalatnya berada di lantai dua. Shalat dzuhur siang itu diikuti sekitar 20-an jamaah termasuk jamaah wanita. Selesai menjalankan shalat dzuhur, perjalanan saya lanjutkan, kembali memacu sepeda mengarah ke selatan kota Roma. Menyusuri jalan Via Flaminia melewati Fontana di Papa Guilio lalu beristirahat di sebuah cafe di persimpangan Piazzale Flaminio.
Stadion Olimpico
Rome Grand Mosque
Fontana di papa giulio

Tram di Roma
Jalan Flaminia
Setelah beristirahat sejenak memperhatikan lalu lalang tram dan orang-orang di simpang itu, saya berjalan ke arah Piazza del Popolo yang sedikit ramai di siang hari itu. Saya terus berjalan ke selatan melewati jalan Via del Corso yang ramai dengan pejalan kaki. Di sepanjang jalan itu terdapat pertokoan menjual barang-barang ternama. Cuaca yang panas membuat perhatian saya malah tertuju ke gerai gelato yang ada di situ. Saya juga berhenti sejenak di depan gerai H&M situ mendengarkan aksi 3 pengamen jalanan memainkan musik latin. Di sebelahnya ada dua orang pedagang mainan yang sibuk memainkan dagangannya. Mata mereka sesekali mengawasi mobil yang berjalan pelan diujung jalan, tiba-tiba seperti ada yang mengagetkan mereka, cepat-cepat mereka kemasi dagangannya dan menjauh dari tempat mereka mangkal. Setelah sebuah mobil yang dari tadi mereka perhatikan itu lewat, dagangan mainan itu mereka gelar kembali.

Porta del Popolo

Piazza del Popolo
Fontana del Nettuno

Santa Maria in Montesanto
Salah satu gerai gelato yang ada di Via del Corso

Aksi pengamen jalanan

Pedagang kaki lima
Ramai pengunjung di Via del Corso
Objek wisata selanjutnya yang saya tuju adalah lapangan Piazza di Spagna. Piazza di Spagna terletak di bawah The Spanish Steps, lapangan ini dirancang oleh Francesco De Sanctis antara tahun 1723 dan 1726. Di tengah lapangan terdapat monumen berbentuk perahu air mancur setengah tenggelam yang disebut "La Barcaccia", Piazza di Spagna merupakan salah satu lapangan yang terkenal di kota Roma. The Spanish Steps merupakan tangga yang dirancang oleh Francesco De Sanctis disitu terdapat 135 anak tangga untuk menghubungkan lapangan dengan Gereja Trinita Dei Monti yang ada di atasnya. Saat tiba di sana, ramai wisatawan yang duduk bersantai di La Barcaccia. Saya lalu menyentuh airnya yang jernih, airnya terasa sejuk. Dari situ saya terus ke selatan menuju Trevi Fountain. Untuk menuju ke sana saya harus menyusuri jalan yang disesaki wisatawan, sepeda yang saya bawa tak bisa dengan leluasa lewat. Suasana di Trevi Fountain sangat sesak oeh wisatawan waktu itu sampai saya kesulitan menuntun sepeda saya. Mereka duduk di pinggir kolam, banyak yang berselfie ria. Tempat itu sesak oleh pengunjung karena area Trevi Fountain tidak terlalu luas. Tidak lama saya berada disana dan bergegas ke Piazza Navona.

The Spanish Steps
La Barcaccia
Piazza di Spagna
Trevi Fountain

Trevi Fountain
Menuju ke Piazza Navona saya melewati Il Tempio di Adriano dan Pantheon, melewati jalanan sempit di Piazza di Pietra, terlihat para pelukis jalanan dengan cat semprot di tangannya mulai melukis keindahan kota ini. Sampai di Piazza Navona saya istirahat sebentar sembari mengisi botol minum dengan air kran yang terus mengalir yang ada di dekat Fontana del Nettuno. Berisitirahat sejenak di sana lalu kembali mengayuh sepeda ke Il Vittoriano. Melihat reruntuhan kota tua Roma di Roman Forum. 

Il Tempio di Adriano
Piazza di Pietra
Pantheon
Piazza Navona
Il Vittoriano
Roman Forum

Sore yang melelahkan. Saya mengembalikan sepeda sekitar pukul 19.00 lt.  Berisitirahat sejenak Parco Del Colle Oppio untuk menunggu buka puasa. Demikian cerita perjalanan liburan saya di kota Roma.

Cabut Bungsu

Saya baru tahu ada gigi yg baru tumbuh saat sudah kita dewasa. Gigi bungsu namanya. Letaknya paling belakang.  Dulu saya sering menghitung j...