Rabu, 29 Mei 2019

Ternyata Selayar Itu...




Kali ini saya ke Selayar. Sebuah Kabupaten di Sulawesi Selatan. Selayar merupakan Pulau memanjang di selatan Sulawesi yang berada di antara Laut Jawa dan Laut Flores. Dari Makassar saya menggunakan jalan darat lalu terus ke Bira untuk naik feri. Meski ada penerbangan dari Makassar ke Selayar, jalan darat lebih menarik. Waktu tempuh jalan darat ke Pelabuhan Bira di Bulukumba sekitar 4,5 jam. Dari Makassar mobil berangkat subuh melewati pesisir selatan mulai dari Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan terakhir Bulukumba.

Di Jeneponto saya melihat belasan kincir angin pembangkit listrik berputar-putar seperti di luar negeri. Di Bantaeng saya melihat kota sederhana yang tertata dengan baik. Nurdin Abdullah Bupati sebelumnya. Sekarang naik pangkat jadi Gubernur Sulsel. Mobil tiba sekitar pukul 09.00 WITA. Kapal feri ro-ro Balibo telah siap pagi itu. Ratusan penumpang, belasan sepeda motor, dan beberapa mobil serta truk dan bus siap naik ke kapal pagi itu. Suasana ramai. Mobil pengantar penumpang berhenti hingga depan kapal. Menurunkan penumpang dan barang bawaan. Mobil itu lalu parkir di tepi dermaga. Menunggu penumpang dari Selayar. Para penumpang kapal pagi itu datang dari pelosok Sulawesi.

Kapal kami meninggalkan Pelabuhan Bira. Melaju dengan kecepatan 8 knot. Dari kejauhan nampak dinding karang tepi Pulau Selayar. Suasana laut pagi itu tenang, cuaca pun cerah. Dua jam pelayaran, kapal tiba di Selayar. Di Pelabuhan Pamatata. Dari pelabuhan ke pusat kota Selayar di Benteng sekitar satu jam. Sejak dari pelabuhan saya melihat tanah karang. Kepulauan ini terbentuk dari pertemuan gunung muda. Karang-karang yang lapuk menjadi tanah yang subur. Karang-karang keras seukuran kepala disusun memanjang setinggi 1 meter. Ditumpuk begitu saja menjadi pagar-pagar penanda lahan. Sepanjang perjalanan di kanan dan kiri dipenuhi pohon kelapa. Kebun kelapa yang tingginya hingga belasan meter. Menjulang menggapai sinar surya. Puas melihatnya. Selayar salah satu daerah penghasil kopra. Kelapa-kelapa dari Selayar diangkut dengan truk menyeberang ke Sulawesi.

Karena pulau ini berada di antara dua laut, maka tak heran di sepanjang pantai dipenuhi sampah plastik. Ribuan mungkin jutaan gelas dan sampah plastik. Terbawa angin barat dan timur. Terdampar di Selayar. Seolah pulau penampung sampah di laut. Tak ada yang memunguti plastik-plastik itu. Mobil pengantar berhenti di Hotel Raihan. Yang sederhana dan bagus. Sepanjang perjalanan tadi saya kehilangan sinyal ponsel. Kalau pun ada hanya jaringan GPRS. Saya diajak ke Pantai Sunari untuk berbuka puasa disana. Sunari Beach merupakan resort kecil yang dimiliki oleh Pak Eka. Dia asli Bali yang merantau dan menikah dengan wanita Selayar. Lalu membuka resort di tepi pantai barat Selayar. Bagus untuk melihat sunset. Saya melihat 3 cottage sederhana di tepi pantai. Malam itu saya disuguhi ikan bakar. Rasanya manis sekali. Segar. Dihidangkan pula segelas kelapa muda Selayar yang manis. Ditemani asamnya cerita politik di Kabupaten Selayar. Siapa sanggup jual pasti dibeli.

Cottage di Sunari Beach
Ada juga orang Selayar yang mencoba membuka resort di tepi pantai seperti punya Pak Eka. Namun kebanyakan mati suri tak terurus. Mata pencarian masyarakat Selayar nelayan dan petani. Kelapa, coklat, dan vanili banyak ditanam.

Setelah kembali ke hotel dan membersihkan diri. Saya diajak menikmati saraba di tepi pantai Benteng. Saraba merupakan minuman jahe khas Sulawesi. Seperti bajigur atau bandrex. Ditemani goreng pisang dan ubi dengan sambal. Sungguh nikmat.

Selasa, 07 Mei 2019

Sekadau


Sekadau itu lima jam dari Pontianak, tapi jalanannya bagus!. Itu informasi awal yang kami terima. Kami harus ke sana. Ke Kabupaten Sekadau. Ada tugas baru. Kami pilih penerbangan pagi. Tiba di Pontianak kami sudah dijemput. Mobil penumpang penuh barang waktu itu. Sampai-sampai per-nya mentok. Setelah mampir makan siang, perjalanan ke Sekadau kami mulai. Saya berusaha memejamkan mata. Sudah ngantuk karena di pesawat tadi tidak tidur. Sempat khawatir masalah transportasi ke Sekadau

Perjalanan 5-6 jam ke Sekadau sudah bisa saya bayangkan. Belum lama saya ke Bontang dari Balikpapan. Waktu tempuhnya hampir sama. Cuma kali ini lebih banyak jalan datar. Setelah keluar dari Pontianak, saya mencoba memperhatikan sepanjang jalan. Sepi, perkampungan juga jarang. Hanya ada rumah warga yang dibangun saling berjauhan. Tidak ada listrik. Sepanjang jalan beberapa kali berpapasan dengan truk pengangkut sawit. Memang daerah Kalimantan Barat ini penghasil sawit dan karet. Tampak sebuah bukit diratakan untuk diambil tanahnya guna menimbun dataran rendah di pinggir jalan. Memang di sisi sepanjang jalan hanya dataran rendah, mungkin gambut. Supir kami mengatakan, jalanan yang kami lewati ini baru diperbaiki. Kualitasnya lumayan. Rata-rata mobil melaju di kecepatan 90 km/jam. Telepon seluler saya simpan, sinyal di sepanjang jalan hilang.

Sore hari kami berhenti sejenak di simpang Sanggau. Saat itu turun hujan. Kami melanjutkan perjalanan yang masih separuh lagi meski hujan masih deras sebab kalau tidak kami akan kemalaman di jalan. Sepanjang perjalanan sisa itu saya mencoba untuk memejamkan mata. Sekitar pukul 19.30 WIB kami tiba di Sekadau. Kami mampir shalat. Selesai shalat kami putuskan menuju lokasi tugas. Masih sekitar setengah jam lagi dari Sekadau. Setelah sempat tersesat karena kehilangan petunjuk arah, kami sampai di Sungai Asam. Setelah berdiskusi sejenak kami putuskan untuk kembali besok pagi.

Kelotok pengangkut penumpang

Kelotok di Sungai Asam
Esok hari kami kembali ke Sungai Asam. Di sana ada penyeberangan Sungai Asam - Sunyat di Sungai Kapuas. Sungai Asam dan Sunyat adalah nama daerah di pinggiran Sungai Kapuas. Di Sunyat itu ada tiga kecamatan yang jika kendaraan akan ke Sekadau harus memutar jauh menerobos kebun sawit. Lewat penyeberangan situ hanya 2 menit. Lebih cepat dan hemat. Dulu telah lama ada tongkang atau ponton besi yang dimiliki warga lokal sebagai sarana menyeberang. Ponton tanpa penggerak tersebut didorong menggunakan kelotok atau perahu. Sekali angkut bisa enam truk. tapi kini ponton tersebut tidak beroperasi lagi dan telah digantikan oleh kapal ro-ro. Ponton itu dinilai kurang aman. Untuk penyeberangan orang dan sepeda motor menggunakan kelotok kecil. Dua pelabuhan tersebut dibangun oleh pemerintah pusat namun kondisinya kurang terawat.

Sekadau merupakan sebuah kabupaten di Kalimantan Barat yang dibelah oleh Sungai Kapuas. Lintas Penyeberangan Sungai Asam-Sunyat merupakan andalan transportasi warga di sisi utara yang ingin ke pusat Sekadau atau ke Pontianak. Para pengusaha di Sekadau sangat terbantu dengan penyeberangan Sungai Asam-Sunyat. Banyak truk mengangkut buah sawit dan karet menggunakan penyeberangan itu. Tak mau mereka menghabiskan biaya memutari hutan sawit.




Sabtu, 09 Maret 2019

Jagung Titi dan Bulu Babi di Alor



Kami harus ke Alor ada tugas di sana. Ini adalah pengalaman kedua saya ke NTT setelah sebelumnya ke Kupang tahun 2013. Dari Kupang harus naik pesawat ATR 72 lagi ke Alor. Penerbangan sekitar 40 menit. Penumpangnya tak sampai 10 orang pagi itu. Ada juga kapal feri, tapi lama, butuh 12 jam ke Alor. Nama bandara Alor adalah Mali. Tiba di pintu keluar bandar kami sudah diburu supir taksi lokal. Tapi kami sudah janjian dengan Pak Mad. Pegawai Dinas Kelautan Provinsi NTT. Dia datang menjemput Kami.

Tujuan Kami kali ini adalah Desa Aimoli. Terletak di pesisir utara Pulau Alor. Sekitar 1 jam dari Kalabahi ibukota Kabupaten Alor. Tapi Kami mampir dulu ke hotel untuk menaruh barang. Tak banyak pilihan hotel di Kalabahi. Dari Google saya dapat hotel Pulo Alor. Di tengah perjalanan, Pak Mad menyarankan untuk menginap di tengah kota saja. Hotel Pulo Alor jauh dari kota dan susah cari tempat makan. Kami ikut saja. Lalu Kami diantarkan ke Hotel Melati di tepi Teluk Alor. Setelah menaruh tas kami langsung ke Desa Aimoli.

Kami berangkat bersama Syahbandar Kalabahi, di sepanjang perjalanan Kami diceritakan bahwa di Alor ada sawah, kebun vanili, cengkeh, jagung. Namun susah mencari buah-buahan di Alor. Jika pulang ke Alor, oleh-olehnya beli buah-buahan saja. Saat ini musim mangga sudah lewat sementara panen jagung masih lama. Di Alor sedang musim penghujan, saat yang tepat untuk menanam jagung. Sepanjang jalan, sekeliling rumah semua ditanami jagung. Hanya tanaman semacam jagung yang dapat tumbuh subur di tanah karang. Alor dan banyak daerah selatan timur tanahnya keras, terbuat dari karang, dasar lautan yang muncul ke permukaan, meskipun terlihat hijau di perbukitan Alor, pohon-pohonnya berukuran kecil, akarnya sulit menembus karang. Sementara di tepi pantai yang tanahnya agak berpasir banyak ditemui pohon-pohon besar seperti kenari dan sukun.

Tak ada sungai di Alor. Sumurnya hanya ada di daerah tepi pantai, meskipun dekat dengan laut, air sumurnya tidak asin. Saya baru tahu kalau di Alor terdapat 13 bahasa yang berbeda-beda. Bahkan kampung yang bersebelahanpun, yang jaraknya sama dengan Kampung Melayu - Jatinegara itu bahasanya berbeda. Untuk komunikasi di tempat umum mereka menggunakan bahasa Indonesia.

(Akan dilanjutkan nanti...



Kamis, 22 November 2018

Babe Servis Kipas Angin

Belum genap setahun. Kipas di ruang tengah itu kini rusak, tak berputar. Dua minggu sebelumnya tanda-tanda kerusakan itu sudah muncul. Pemutar didalamnya patah dan putaran kipasnya mulai tersendat. Kipas itu kubawa ke tukang servis langganan. Sayang kiosnya sekarang sudah tutup. Aku mampir di kios sebelahnya, tempat servis peralatan kerja. Kutanya apakah bisa memperbaiki kipas, lelaki muda di tempat servis itu menjawab tak bisa. "Itu di seberang jalan raya ada!" katanya mencoba meyakinkanku.

Aku langsung bergegas ke seberang jalan raya. Dari seberang jalan yang terhalang rerimbunan pohon kulihat ada kios memajang berbagai peralatan listrik. Kios servis itu sudah buka pagi itu. Kupacu sepeda motorku lalu memutar di jalan dua jalur menuju seberang jalan. Saat sampai di sana kuperhatikan kios servis itu memajang kipas angin, blender, mixer, dan di dalamnya tersusun bebragai suku cadang. Kios itu kosong, kusapu pandangan mencari anak muda si tukang servis di dalam kios berukuran 2,5 x 2,5 meter itu. Hanya ada lelaki tua yang sedang sibuk di warung makan yang masih tutup tepat di sebelah kios.

"Mau apa?"tanyanya. Kupastikan lelaki tua itu tukang servisnya. "Bisa betulin kipas angin?" tanyaku ragu. "Bisa!" jawabnya pelan. Kuambil kipas angin dari motorku. Kutaruh di atas bangku kayu di hadapan lelaki tua itu. Kuberitahukan kerusakannya, patahan di dalamnya. Dengan percaya diri dia katakan bisa memperbaikinya. Lelaki tua itu menunjuk kipas dan patahannya. "Ini 50, ini 25, semua 75" jelasnya menunjukkan tarif servisnya. Aku masih bengong bertanya dalam hati. Nih orang main langsung kasih harga aja, diperiksa dulu kek apa rusaknya. "Sore ya diambil" sahutnya lagi dengan akses betawinya sembari aku menerka-nerka apa benar dia bisa memperbaikinya.

Setahuku menggulung ulang lilitan dinamo itu paling tidak butuh 1 harian. Tapi lagak lelaki tua seperti sudah ahli. Memang banyak peralatan listrik di kiosnya saat itu. Kusapu pandanganku di dalam kiosnya mencari gulungan motor listrik yang mungkin sedang dikerjakan, untuk meyakinkanku ia bisa memperbaikinya, tapi tak ketemu. Ah mungkin ia kerjakan di rumahnya bersama orang yang ahli. Baiklah saya percaya, mungkin lelaki tua itu hanya penjaga kios. "Sore tutup jam berapa?" tanyaku. "Habis ashar lah" jawabnya. "Kalau minggu buka?" tanyaku lagi khawatir aku tak terlewat sore nanti. "Buka terus" jawabnya meyakinkanku.

Habis ashar aku kembali ke kios itu untuk mengambil kipasnya. Itu sudah hampir pukul empat sore. Cuaca mendung seakan hendak hujan. Kios itu sudah tutup ketika aku tiba.  Pintunya digembok dari luar. Kupastikan benar-benar telah tutup dan lelaki tua itu telah tak disitu lalu aku pulang. "Mungkin ia sedang ada urusan" pikirku. Keseokan pagi aku kembali. Kipasku diletakkan di meja kerjanya. Dihidupkannya. Kipas itu hidup. Aku tes dengan tombol kecepatan berbeda dan bekerja bagus. Aku puas meski tetap ragu bagaimana ia memperbaikinya. Ah biarkan saja. yang penting kipasku hidup kembali. Maaf Babe aku meragukanmu.

Senin, 11 Juni 2018

Kunjungan ke NSW Crashlab dan Menghadiri TSF 2018


Seperti tahun-tahun sebelumnya, Indonesia dan Australia melakukan pertemuan tahunan membahas masalah keselamatan transportasi. Sejak kejadian Garuda Indonesia tergelincir di Yogyakarta tahun 2007 yang menyebabkan banyak warga Australia menjadi korban, pemerintah Australia merasa "perlu" membantu Indonesia, memperbaiki tingkat keselamatan transportasi di negeri Nella Kharisma itu. Bertempat di Stamford Plaza Melbourne pertemuan Transport Safety Forum (TSF) itu dilaksanakan pada 17-18 April 2018.


KNKT diwakili oleh Ketua KNKT Dr. Soerjanto Tjahjono di pertemuan tersebut. Namun sebelum hadir di pertemuan tersebut, Ketua KNKT bersama perwakilan dari Balai Teknologi Transportasi Darat Heri Prabowo dan Saiful Jihad melakukan kunjungan ke Crashlab di New South Wales (NSW) pada tanggal 16 April 2018. Dalam kunjungan tersebut, delegasi Indonesia didampingi oleh Manager International ATSB, Richard Batt.

Dari Pullman Airport Sydney hotel bintang lima yang sarapannya minimalis itu, kami berangkat menuju NSW Crashlab pukul 0745 LT. Waktu tempuh dari hotel menuju crashlab sekitar 1 jam. Letak laboratorium itu jauh di pinggiran kota Sydney. Batt memesan minivan taxi untuk kami. Pengemudinya keturunan timur tengah. Selagi mengemudi Saya dengar ia menghubungi seseorang dengan bahasa arab.

Ross menjelaskan tentang Crashlab
Kunjungan ini dilakukan dalam rangka pengembangan fungsi BTTD. Ketua KNKT mengharapkan bantuan ATSB untuk mendorong Crashlab membantu pengembangan BTTD. Biar Indonesia punya laboratorium uji tabrak yang keren. Yang periksanya tidak hanya lampu dan rem. Tapi juga airbag, sabuk keselamatan, konstruksi dsb. Biar produsen tidak sembarangan bikin mobil kaleng kerupuk.

Di Crashlab itu kami disambut oleh Ross Dal Nevo, dia Manajer Crashlab. Dia pria paruh baya yang bersahabat. Kami diajak masuk ke ruang pertemuan. Di situ dia pamer laboratoriumnya. Ditunjukkannya video uji-uji kendaraan, yang biasa dilihat di youtube. Mereka bisa melakukan semuanya. Mulai uji helm, safety belt, baby car seat, safety harness, hingga yang paling keren, uji tabrak kendaraan. Di laboratorium itu mereka memberi bintang pada kendaraan yang mereka uji. Kalau kelas mobil sejuta umat atau selevelnya di negeri Nella Kharisma itu cuma dikasih bintang 1, paling tinggi dikasih 2.

Crashlab mereka itu punya lapangan uji indoor dan outdoor. Yang di indoor kami ga boleh foto-foto. Rahasia katanya. Pas kami disana sempat menyaksikan uji baby car seat di dalam  ruang uji khusus. Laboratorium ujinya berukuran 5 x 15 meter. Kursi bayi itu ditarik lalu dihentikan secara tiba-tiba seolah skenario tubrukan atau ngerem mendadak. Di dalam kursi itu didudukkan dummy (boneka uji) bayi. Kata Ross, persiapannya butuh waktu bulanan, tapi tesnya hanya hitungan belasan menit. Mereka banyak gunakan kamera ber-resolusi tinggi dari berbagi sudut untuk merekam proses pengujian. Lalu dianalisa. Hasilnya diberikan ke klien.

Lapangan Uji Outdoor

Ruang Uji Indoor
Boneka uji mereka itu harganya mahal, miliaran, namun itu bisa dipakai berulang-ulang, hanya perlu dikalibrasi secara berkala. Biaya operasi mereka dari pemerintah negara bagian dan juga dari pelanggan mereka yang menguji produknya. Jalan-jalan di Crashlab berakhir siang itu, Ross ada tamu lain. Dia berjanji akan membantu Indonesia mengembangkan Crashlab jika diminta. Apalagi tersedia lahan yang luas di Bekasi situ, mau bikin laboratorium uji tabrak kereta juga bisa. Cuma masalahnya tidak boleh dengan model Balai seperti sekarang ini. Para pegawainya harus tetap di laboratorium, tak boleh dimutasi kemana-mana. Mereka harus membangun dan mengembangkan laboratoriumnya.

Pukul 13.00 LT lewat 1 jam dari jadwal yang seharusnya, kami kembali ke hotel, dengan van dan supir yang sama. Batt sebelumnya janjian dengan supir taxi itu untuk menjemput kami. Sampai di hotel, Saya, Pak Heri, dan Saiful pamit ke Pak Soer ingin ke kota melihat Harbour Bridge dan Opera House. Dari hotel kami jalan kaki ke Stasiun Mascot. Dari situ kami turun di Stasiun Central. Sampai malam kami di pinggir pelabuhan Sydney itu.

Setelah sarapan pagi, kami bersiap di lobi hotel. Kami harus ke bandara Sydney menuju Melbourne.

Delegasi Indonesia dan Australia dalam TSF

Menghabiskan waktu sore di pingir pelabuha Sydney

Pesawat Challanger milik AMSA



Minggu, 03 Juni 2018

Pertama Kali Di Dabo


"Ok, bareng aku". Itu WhatsApp Aleik kepadaku saat ada tawaran pemeriksaan kapal terbakar di grup investigator sesaat setelah sahur. Saat itu naluri keingintahuanku mengenai kebakaran sedang tinggi. Maklum dua minggu yang lalu aku baru pulang dari Banyuwangi, juga memeriksa kapal terbakar. Aku menyatakan siap ikut.

Kami berangkat siang. Jadwal penerbangan hari itu ke Batam kesiangan. Karena kapal dari Batam ke Dabo pukul 10.30. Kalaupun harus berangkat pagi-pagi pun kami belum siap. Seperti biasa, masalah administrasi kantor. Sebenarnya ada pesawat Susi Air ke Dabo dari Pekanbaru dan Jambi. Cuma penerbangan itu tidak setiap hari. Aleik juga tak mau naik itu. Terlalu ekstrem buatnya. Pagi itu aku langsung ke kantor dengan membawa perlengkapan untuk mengambil peralatan dan surat menyurat.
Aku dan Aleik berangkat ke Bandara Soetta pukul 09.00. Kami ke Batam dulu. Ke kantor pemilik kapal itu. Di pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur.

Tiba di Batam kami dijemput Alwi, kebetulan minggu itu ia pulang kampung. Izin rutin. Kami langsung ke Telaga Punggur mencari informasi kapal feri ke Dabo. Benar saja, feri ke Dabo cuma sekali sehari. Berangkat pukul 10.30. Ada juga kapal ro-ro dari Batam ke Dabo. Tapi hanya hari Jumat dan Selasa. Waktu tempuhnya pun 12 jam. Terlalu lama dibanding feri yang hanya 4 jam. Terlalu lama di jalan jika harus naik feri..

Hari itu kami putuskan menginap dulu di Batam. Di kawasan Nagoya. Kami berbuka puasa di warung sup ikan Yonkee. Lalu shalat di masjid besar Jabal Arafah dekat hotel kami. Yang salat tarawihnya 8 rakaat. Bacaan imamnya khusu' dan merdu. Masjidnya pun bagus, aku dibuat kagum. Desainnya juga kompak. Tidak seperti Terminal 3 Soetta yang panjang itu, yang tiap jalan ke gate ujungnya selalu kumaki dalam hati. Masjid itu dibangun oleh Asman Abnur tahun 2010. Dia orang Padang dan tinggal di Batam. Pengusaha sekaligus politisi Batam. Pernah jadi Walikota Batam dan anggota dewan. Ayahnya seorang pengusaha emas. Asman pernah menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara RB.

Keesokan harinya kami berangkat pukul 08.00 dari hotel. Sampai di Telaga Punggur kami harus menunggu lagi. Kapal Ocenana 3 yang akan mengantarkan kami ke Dabo belum tiba. Pukul 10.40 kapal kami siap dan langsung berangkat. Kapalnya dari aluminium. Bagus dan nyaman. Penumpang agak penuh saat itu.Cuaca pagi menjelang siang cukup cerah. Kapal melaju kencang hingga 20 knot. Sepanjang perjalanan sinyal telepon hilang timbul. Aku memilih tidur sepanjang perjalanan. Pukul 14.30 kapal tiba di Dermaga Jagoh. Setelah shalat di musala pelabuhan, kami langsung ke kapal yang terbakar. Kerusakan hanya di bagian atas. Kapal itu merupakan kapal Ro-Ro penyeberangan antara Pulau Lingga dan Pulau Singkep. Yang bisa mengangkut kendaraan dan penumpang. Sejak kejadian itu kapal berhenti beroperasi. Tak ada Ro-Ro pengganti. Kapal itu hanya satu-satunya Ro-Ro disitu. Ada kapal penumpang kecil, tapi tak bisa memuat kendaraan. Tarifnya pun lebih mahal. Padahal Ro-Ro itu  pilihan utama masyarakat Singkep.

Selesai memeriksa kapal kami langsung ke Kota Singkep. Bersiap untuk buka puasa. Perjalanan dari Jagoh ke Singkep lumayan jauh. Sekitar 40 menit. Menyusuri pantai barat Pulau Singkep. Pulau ini merupakan penghasil karet. Ada sedikit cengkeh. Duren juga ada dan sering dibawa ke Batam. Lebih menguntungkan jual disana. Aspal jalan dari Jagoh ke pusat kota nampak mulus. Terlihat perkampungan penduduk sepanjang jalan. Selain berkebun, masyarakat Singkep banyak bekerja sebagai nelayan. Dari jauh memandang ke tengah laut banyak kelong (bagan) tempat memelihara ikan. Kami buka puasa di warung seberang kantor pelabuhan. Setelah itu kami salat Magrib. Lalu mulai mewawancarai awak kapal. Wawancara itu sampai tengah malam. Kami memang harus menyelesaikannya malam ini. Mencari tahu semuanya. Sebab esok tak ada waktu lagi. Kapal ferry ke Batam pukul 08.30. Dan Aleik sudah pesan pesawat ke Jakarta sore harinya.

Selesai wawancara kami menunggu pemilik kapal di warung seberang menyelesaikan beberapa administrasi mereka. Aku tak tertarik makanan di warung itu. Sate ayam buka puasa tadi tidak habis. Tak ada menu cepat yang ingin aku coba. Dari situ kami langsung kembali ke hotel. Aleik dan orang-orang perusahaan akan ke pemandian air panas, mereka ingin berendam hingga waktu sahur. Entah mengapa aku tak begitu tertarik, mungkin karena kelelahan. Lokasi kolam air panas hanya 3 kilo meter dari pusat kota. Pemandian itu buka hingga malam. Aleik akhirnya pergi ke pemandian sedangkan Aku memilih mandi dan pergi mencari makan keluar. Kutanya penjaga hotel warung makan terdekat. Aku berjalan kaki mencoba keberuntungan mencari warung makan yang masih buka atau sekedar warung kopi. Dini hari itu hujan gerimis. Dari belakangku seseorang berteriak sambil mengendarai motor pelat merah. "Saya antar saja, Pak. Jauh soalnya". Pemuda hotel yang kutanyai tadi menawarkan bantuan.

Warung pertama yang kami datangi masih buka tetapi makanannya sudah habis dan sudah akan tutup. Pemuda hotel itu menenangkanku. "Di sebelah sana masih ada warung" katanya. Aku menurut saja. Aku diantarkan ke warung makan sederhana oleh pemuda hotel itu. Terlihat masih banyak lauk terpajang di etalase warung. Kupilih menu ayam goreng. Kutawarkan pemuda itu memesan makan juga. Dia menolak. Nama pemuda itu Jujur. Ia ingin jadi pelaut. Baru kerja di hotel itu setengah tahun. Ia anak ke delapan dari sembilan saudara. Abangnya ada di Jakarta. Bekerja di kapal. Mungkin karena itu ia juga mau jadi pelaut. Ia lulusan SMA. Ayahnya seorang syahbandar pulau kecil di seberang Dabo. Kuceritakan pengalamanku jadi pelaut. Kucatat nomor teleponnya. Kusarankan ia mengikuti diklat pelaut gratis.

Pulau Singkep ukurannya hampir sebesar Singapura. Hutannya masih lebat. Selain perkebunan dan hasil laut. Penduduk di sana juga menambang timah. Tanah kuning pulau ini mengingatkanku pada Kijang yang penuh dengan bauksit. Dan Bangka dengan timahnya. Tapi di Dabo ini tambangnya tidak besar. Di perjalanan kulihat tiga kapal keruk sedang sandar. Kapal itu mengeruk dasar laut yang mengandung timah.

Selesai makan dan membungkus makanan untuk sahur dan untuk Jujur, kami berdua pulang. Hujan rintik-rintik masih turun. Aku mengkhawatirkan cuaca esok pagi. Sesampai di hotel kulihat Aleik dan orang-orang perusahaan asyik mengobrol di lobi. Rupanya ada pohon tumbang di tengah jalan. Mobil mereka tak bisa lewat. Impian berendam di air panas pupus malam itu.

Keesokan paginya pukul 06.00 kami bersiap ke pelabuhan. Sampai di Pelabuhan Jagoh ternyata kapal ke Batam berangkat pukul 08.30. Kapalnya sama dengan kapal kami ke Dabo. Kapal itu harus bermalam di dermaga seberang karena dermaga di Jagoh pagi-pagi sudah disandari kapal lain dari Tanjungpinang. Meski gelombang saat pulang sedikit lebih tinggi dibanding saat datang, Aku paksakan mataku terpejam, istirahat karena kelelahan. Nanti lain kali datang ke Dabo, ingin kucoba berendam di air panasnya.

Senin, 23 April 2018

Kereta Layang, Kereta Bandara, Kereta Rel Listrik, Kereta Yang Penting Ada...

Gua baru pulang dari luar negeri, self check in dan self baggage handling sendiri di bandara. Sampai di Indonesia, top up kartu KRL gua mesti dibantu satpam. Bangke!
Sekali waktu saya ingin mencoba Kereta Bandara-KA Bandara. Saya sedang terburu-buru dari Soetta mengejar kelas sore di Bogor. Siang itu pilihan naik KRL di stasiun Kota saya urungkan. Saya lihat di maps, tol bandara macet. Jadilah ini kesempatan menjajal KA Bandara. Meski hanya sampai di Stasiun Sudirman Baru, saya bisa sambung dengan KRL dari Stasiun Sudirman.

Sebenarnya sudah lama saya ingin mencoba KA Bandara, cuma karena harga tiketnya sedikit mahal dibanding bus Damri dan juga saya selalu terburu-buru, makanya saya tak pernah mencobanya. KA Bandara dari berita yang saya baca dan sempat viral, belum jelas. Klo pun jelas, headway-nya masih terlalu lama, setengah jam. Tapi kali ini saya ingin mencobanya.

Dari Terminal 3, saya harus mengejar Kereta Layang-KA Layang yang sebentar lagi berangkat, telat sedikit saja akan ditinggal dan harus menunggu kereta berikutnya. Beberapa petugas mengatur penumpang yang akan turun dan naik, di depan pintu kereta diberi penghalang, petugas mendahulukan penumpang yang turun, setelah selesai penghalang dibuka, penumpang yang akan naik baru dipersilahkan masuk. Klo di Malaysia KLIA, kereta antar terminalnya memanfaatkan 2 sisi pintu kereta. Satu sisi untuk penumpang turun, dan sisi lainnya untuk penumpang naik, sehingga tak perlu petugas untuk mengatur naik turun penumpang. Setelah melewati stasiun Terminal 2, KA Layang selanjutnya berhenti di stasiun KA Bandara. Saya pun turun, tidak ada petunjuk yang jelas kemana saya harus menuju. Ada 3 petugas sekuriti berdiri mengarahkan penumpang. Saya tetap berjalan tanpa tahu menuju kemana. Saya mengikuti lelaki di depan saya. Saya rasa ia juga akan ke KA Bandara. Setelah turun ke lantai bawah. masih belum terlihat penunjuk yang jelas ke arah mana peron KA Bandara Kalaupun ada, desain dan penempatan sign-nya sungguh buruk sama buruknya seperti desain Terminal 3 Soekarno Hatta. Saya terus mengikuti lelaki tadi. Kami tiba di lobi ruang penumpang KA Bandara. terlihat lelaki tadi menuju ke meja informasi, mata saya segera mencari mesin tiket. Dapat. Itu ada di sebelah kiri. Saya langsung menuju mesin tiket. Mesin tiketnya sederhana. Tak terlihat jika mesin itu menerima uang tunai. Hanya ada perangkat EDC di panelnya.

Saya tanya petugas apakah kartu ATM bisa digunakan? Bisa katanya. Syukurlah. Saya pesan tiket. Cukup memasukkan no telepon dan pilih jam serta stasiun tujuan. Setelah itu saya menggesekkan kartu ATM di EDC. Tiket diprint. Selesai. Tiketnya hanya sehelai kertas tipis. Ada barcode-nya. Cukup mudah untuk orang seperti saya. Saya memerlukan waktu sekitar 1 - 2 menit untuk menyelesaikan proses tersebut. Lain lagi bagi orang yang kurang paham, mungkin lebih dari 3 menit, karena tulisan di layar ukurannya kecil, sehingga harus benar-benar teliti. Dari jadwal yang ada, KA Bandara berangkat tiap 30 menit. Saya langsung menuju ke gate masuk. Oleh petugas, saya belum diperbolehkan masuk, harus menunggu di ruang tunggu dulu. Tidak lama kereta datang, petugas memanggil penumpang yang akan naik. Penumpang menuju ke peron. Cukup ramai di ruang tunggu waktu itu. Namun tak semuanya langsung naik ke kereta. Mungkin mereka menunggu kereta berikutnya.

Untuk membuka gate, penumpang harus menggunakan tiket. Scan barcode di tiket di alat scan gate. Tralaaa gate terbuka. Ketika masuk, terdapat 2 peron di jalur KA Bandara, jika ada 2 kereta di stasiun penumpang akan bingung kereta mana yang berangkat duluan, mesti bertanya ke petugas. Peron KA ada 2 (klo ga salah). Lebar peron sekitar 2,5 meter. Karena tidak ada nomor tempat duduk dan nomor gerbong di tiket jadi bisa bebas pilih tempat duduk. Saya pilih di depan. Keretanya bersih. Separuh bangku di gerbong menghadap ke depan dan separuh lagi menghadap ke belakang. Saya pilih bangku di tengah. Saya pikir ruang kakinya luas ternyata tidak. Bangku tengah justru ruang kakinya sempit. Entah siapa yang mendesainnya, sungguh buruk pengaturan jarak tempat duduknya. Sandaran kursi bisa disesuaikan. Di bagian tengah kursi terdapat colokan USB. Di dalam gerbong terdapat papan informasi elektronik. Tujuan kereta, kecepatan dan suhu gerbong bisa dilihat disitu. KA Bandara siang itu sepi penumpang. Beberapa menit kemudian kereta berangkat. Satu gerbong mungkin hanya diisi 3 penumpang.

Dari Soetta ke Sudirman Baru memerlukan waktu tempuh sekitar 50 menit. Stasiun pemberhentian pertama adalah Stasiun Batu Ceper, disusul Duri, dan Sudirman Baru. Sebelumnya di benak saya bertanya jika naik kendaraan dai Jakarta ke Soetta hanya perlu waktu 40 menit di lalu lintas lancar. Tapi kereta bandara yang harusnya lebih cepat justru perlu waktu 50 menit. Ternyata jalur kereta dari Stasiun Bandara dan Batu Ceper tidak lurus, jalurnya berbelok-belok, makanya agak lama, belum lagi di Duri kereta berhenti agak lama, antri dengan kereta KRL.

Saya tiba di Stasiun Sudirman Baru tepat 50 menit dari keberangkatan. Penumpang harus menggunakan tiket untuk membuka gate keluar. Padahal tiket kertas tipis itu sudah saya lipat-lipat. Stasiun Sudirman dan Sudirman baru letaknya berbeda, penumpang harus jalan kaki sekitar 100 meter, menyusuri jalan di samping rel. Waktu itu saya membawa travel bag. Ada tangga dan turunan terbuat dari pelat yang sangat curam, maksudnya mungkin ingin memudahkan bagi penumpang yang membawa travel bag, tapi desainnya sungguh curam. Seperti tak punya niat. Yang penting ada.

Sampai di Stasiun Sudirman, desain tangganya tidak memudahkan penumpang yang membawa travel bag. Bahkan saya harus naik tangga membawa travel bag saya karena isi ulang tiket THB hanya bisa dilakukan di lantai atas stasiun. Sampai di mesin isi ulang, saya agak bingung, jika mesin isi ulang kartu Multitrip agak sederhana, mesin isi ulang kartu THB ukurannya 2 kali lebih besar, ada dispenser, ada slot kartu beberapa buah, ada tempat memasukkan uang kertas, pertama kali menggunakan mesin itu saya agak bingung, untung ada petugas satpam di dekat situ, ia mengajari saya mengisi ulang kartu THB. Menurut saya desain mesin itu sungguh buruk. Pemilihan warnanya norak, terlalu banyak aksesoris dan tulisan ga penting malah bikin bingung. Dari sekian banyak negara yang saya gunakan mesin tiket keretanya, mesin tiket kereta KRL ini paling tidak ramah digunakan.

Baiklah, setelah menggunakan KA Layang, KA Bandara, dan lanjut KRL di Sudirman berikut komentar saya.

  1. Desain Terminal 3 buruk, terlalu jauh berjalan kaki ke gate yang di ujung, (kan ada mobil golf) iya tapi itu tidak sustainable, penyinaran lampunya, colokan listriknya semua buruk. Hanya toiletnya yang bagus dan bakmi GM-nya. Eh lupa saya kan mau komentar keretanya bukan bandaranya. Tapi ga papa sekalian unek-unek saya.
  2. KA Layang. Untuk kereta ini penunjuk ke arah stasiunnya perlu ditambah, biar lebih mudah. Di stasiun belum ada papan informasi berapa lama kereta berikut akan datang. Saya harus bertanya ke petugas. Trus hilangkan saja itu petugas sekuriti pengatur naik turun, biar penumpang mandiri mengatur sendiri naik turun. Yang penting diberi sign yang jelas.
  3. Penunjuk di Stasiun Bandara perlu ditambah dan penempatannya mudah dilihat. Penunjuknya mungkin sudah ada, cuma penempatannya kurang pas. Sama seperti di atas, hilangkan saja petugas sekuriti pengarah penumpang.
  4. Lanjut ke KA Bandara, mesin tiketnya untuk sementara bolehlah, tapi beberapa tahun ke depan harus diganti ke mesin yang benar-benar mesin yang bagus, bukan alakadarnya. Harus bisa menerima uang tunai. Interfacenya sederhana dan jelas. 
  5. KA Bandara ini terlalu eksklusif, di stasiunnya ada ruang tunggunya karena headwaynya yang lama, jadi penumpang yang menunggu harus ditempatkan di lobi. Awalnya dulu ada nomor tempat duduknya, karena kapasitas angkutnya terbatas, di dalam gerbong juga ada nomor tempat duduknya, sekarang ga pakai nomor tempat duduk karena banyak bangku kosong. Padahal kalau dibuat model KRL mungkin banyak yang akan naik. Tak perlu ruang tunggu karena headwaynya sebentar. Tarifnya disesuaikan jarak tempuh. Sepertinya konsep KA Bandara sudah salah dari awal.
  6. Perpindahan dari Sudirman Baru ke Sudirman tidak ramah penumpang yang bawa travel bag. Trus, dimana-mana namanya Sudirman Baru, saya lihat di luar stasiun plang namanya Stasiun BNI City, ga pa pa sih, itu untuk meyakinkan orang kalau masih di Indonesia. Sering dibuat bingung sendiri.
  7. Mesin isi ulang kartu THB dari segi desain, interface, warna dan semuanya buruk. Ganti yang lebih modern dan canggih. Dulu waktu studi banding gimana sih, KAI?
  8. Oh ya terkait penunjuk arah (sign) yang desain dan penempatannya buruk di stasiun-stasiun tadi dan dibiarkan begitu hingga kini, saya tahu jawabannya. Karena para bos-bos dan pejabat-pejabatnya selalu diarahkan oleh pengawalnya jadi mereka ga perlu liat penunjuk arah. Salah sendiri penumpang ga bawa pengawal.
Demikian cerita dan komentar saya tentang kereta yang penting ada. Saatnya kembali menikmati sistem transportasi di Indonesia. Seperti biasa, kalau bisa dibuat susah kenapa dipermudah. 

Minggu, 04 Februari 2018

Tak ade Roti, Lendir pun jadilah

Kami melewati kawasan kawasan Jodoh. "Saya turun disini saja!" ujarku. "mau kemana?" tanya temanku. "Ngga, mau jalan-jalan aja" jawabku.

Turun dari mobil aku langsung berjalan menuju bangunan ruko-ruko tua. Kawasan ini agak sepi dibandingkan 15 tahun lalu pikirku. Di dalam deretan ruko-ruko tersebut ada pasar, namanya Pasar Jodoh. Dulu aku sering mampir kemari.

Tujuanku ke kawasan ini adalah mencari warung prata, roti khas Asia Selatan dengan kuah kari kambing yang lezat. Aku sering diajak kemari oleh Pak Tefur, ayah temanku. Kopi dan pratanya enak. kusisiri tiap blok ruko namun tak kutemukan. Seharusnya ada disini di antara pasar, restoran itu dulu dikelola oleh apek (panggilan orang Tionghoa), namun sepertinya sekarang sudah tutup. Benar sudah tutup, hanya kutemukan satu warung disitu, namun warung itu sepi, interiornya juga tidak sama, mungkin warung baru.

Kutinggalkan kawasan Jodoh. Kawasan ini sekarang sepi, perekonomian Batam sedang lesu beberapa tahun terakhir sejak harga minyak dunia jatuh. Bisnis di Batam sangat terkait dengan operasi minyak. Banyak galangan kapal di Batam yang berhenti beroperasi karena bisnis minyak yang suram. Aku berjalan menuju kawasan Nagoya, dulu aku pernah mampir menikmati kopi di salah satu ruko di kawasan ini. Lama ku mengingat lokasi kedai kop itu, kulihat di maps namun tak berhasil kutemukan.

Akhirnya kuputuskan ke kedai kopi  Harum Manis, ada pempek enak disana selain kopi. Kuputari deretan ruko kawasan Nagoya itu untuk memastikan aku tidak salah masuk. Akhirnya aku menemukan kedai kopi Harum Manis, pagi itu suasana sarapan pagi ramai seperti dulu. Kupesan satu Kopi-O tapi tak ada lagi penjual pempek disini. Kulihat menu yang terpampang di dinding di kedai itu, kutanya pelayan apakah ada roti disini? rupanya tidak ada. Kulihat di salah satu gerai ramai orang memesan mie lendir. Aku pernah makan mie itu sekali tapi lupa seperti apa rasanya.

Pagi itu meskipun sudah sarapan pagi di hotel, aku begitu menikmati aroma kopi dan nikmatnya mie lendir atau mie pekat orang menyebutnya. Bagi anda yang ingin mencoba, pergilah ke kedai kopi Harum Manis yang terletak di jalan komplek Bumi Indah, tidak jauh dari kedai Martabak har simpang 4 Nagoya.

Jumat, 22 Desember 2017

Pasar Apung Lok Baintan

Hari masih subuh dan rencana kami melihat pasar apung di dekat masjid raya berakhir kecewa. Pasar apung disana hanya ada hari sabtu dan minggu. Tukang parkir di masjid raya mengatakan kepada kami, pergi saja ke Lok Baintan atau ke Kuin, tapi lelaki tua itu menyarankan kami ke Lok saja, disana lebih unik katanya. Dari masjid raya kami ke Bang Amat. Disitu lokasi perahu yg bisa membawa kami ke Lok Baintan. Lokasinya yg berada di tepi sungai Martapura dan akses jalan yang sempit membuat kami memilih perahu menjadi alternatif ke Lok Baintan. Kami tiba di Bang Amat pukul 0615. Itu adalah sebuah warung soto banjar tepat di tepi sungai Martapura, disamping warung itu tertambat beberapa perahu yang di Banjarmasin disebut Kelotok yang siap mengantar wisatawan yang datang. Setelah negosiasi harga dengan pemilik perahu, kami sepakat dengan tarif 300rb pp Lok Baintan. Itu adalah tarif standar tak peduli berapa orang penumpangnya.

Bergegas lelaki muda pemilik kapal itu menyiapkan kelotoknya, dibentangkannya karpet berukuran 2 x 1,5 meter sebagai alas buat kami duduk. Kelotok itu merupakan perahu kayu berukuran 7 x 2 meter dilengkapi dengan atap yang rendah, ruang penumpangnya yang rendah itu memaksa penumpang harus merangkak untuk masuk. Kemudinya berada di depan berupa setir mobil, di bagian depan dilengkapi pintu kaca untuk pengemudi melihat dan dibiarkan terbuka, mesinnya berada di bawah lantai ruang penumpang, yang kalau mau dihidupkan harus diengkol dahulu. Hanya tersedia bangku di belakang kapal jika penumpang ingin bersantai. Dibukanya papan lantai kayu untuk mengengkol mesin kapal. Sebentar saja suara tok tok tok mesin menyala dan kami bersiap berangkat menuju Lok Baintan. Setelah semua siap, lelaki itu duduk di depan memegang kemudi.

Berlayar menyusuri sungai Martapura di atas sebuah kelotok di pagi yang tenang, begitu mengesankan. Di pinggir sungai itu terdapat banyak kerambah, tempat orang memelihara ikan patin, bawal,  dan nila. Ikan-ikan itu menjadi menu makanan yang banyak ditemui di tempat-tempat makan di Banjarmasin. Tidak jauh dari situ masih terdapat pepohonan sagu yang nampak liar, walau pepohonan itu nampak tak bertuan sebenarnya ada pemiliknya terang lelaki itu. Sungai Martapura begitu tenang pagi itu, hanya sesekali bertemu dengan jukung, sampan kecil dengan dayung yang banyak ditemui di sungai-sungai di Banjarmasin. Sebuah jukung melintas di samping kiri kelotok kami, berisi 3 orang dan beberapa karung barang muatan, seorang diantaranya anak sekolah. Sepertinya seorang ibu pergi mengantarkan anaknya sekolah pagi itu.

Setiap rumah di pinggir sungai itu memiliki satu Jukung. Rumah-rumah di sepanjang sungai Martapura itu adalah rumah kayu sederhana. Lantainya hampir tenggelam di permukaan air. Pagi itu mulai nampak beberapa orang mandi di belakang rumahnya, anak-anak dengan riang mandi bersama ibunya, bermain dengan saudaranya. Sepertinya suara bising mesin kelotok mulai membangunkan orang-orang di sepanjang sungai itu. Seorang remaja berkaos merah terjun ke sungai, ia berenang ke tengah, lalu kembali ke belakang rumahnya, saya pikir itu adalah cara mandi dan membangunkan tubuh paling cepat pagi itu. Di tempat lain, nampak seorang Acil di atas Jukung sedang menawarkan kue-kue dagangannya dari rumah ke rumah. Acil artinya ibu, sedangkan bapak disebut Amang dalam bahasa Banjar, lelaki pemilik kelotok itu memberitahukan. Jalan di depan rumah-rumah di sepanjang sungai Martapura itu dihubungkan dengan titian, titian adalah jalan kayu selebar 1 meter.

Perjalanan kami masih jauh. Dari warung soto Bang Amat ke pasar terapung Lok Baintan memakan waktu sekitar 50 menit. Sepanjang perjalanan itu pemilik kelotok bercerita kepada saya. Dirinya memulai mengemudikan kelotok sejak tahun 2002, sebelumnya ia hanya sebagai asisten. Baru tahun itu ia bisa membeli sebuah kelotok seharga 3,5 juta. Kelotok itu akhirnya dijual lagi seharga 9 juta. Kini kelotok yang dimilikinya itu takkan dijualnya lagi, padahal pernah ada yang menawar 20 juta. Pasar kelotok disini masih cukup tinggi, karena jenis kelotok atap rendah yang dimilikinya sudah jarang di produksi. Ada jenis kelotok baru yang lebih modern, tapi harganya mencapai 150juta, tak sanggup bagi kebanyakan pengusaha kecil disini. Sambil bercerita sesekali ia melihat ke belakang, memeriksa air pendingin mesin bersirkulasi. Dibelokkannya perahu menghindari sampah yang mengapung, takut terkena baling-baling katanya.

Di sepanjang sungai itu terpasang rambu-rambu peringatan navigasi pelayaran, namun lelaki itu tak tahu artinya. Ia tak memiliki sertifikat untuk mengemudikan kelotok itu. Tak juga ada pengawasan dari dinas setempat. Usaha kelotok mengantar wisatawan adalah mata pencahariannya, ia memiliki 3 anak, anak sulungnya kelas 6 SD. Itu yang menjadi pikirannya, menarik kelotok tidak tiap hari, ia harus antri dengan 13 rekannya, kadang menunggu hingga 2 hari baru bisa bekerja lagi, memang seperti itu disini.

Akhirnya kami sampai di Lok Baintan. Puluhan jukung tampak memenuhi sisi sungai Martapura pagi itu, 2 kelotok sudah lebih dulu hadir dibandingkan kami, mereka dikelilingi oleh jukung-jukung sembari menawarkan dagangannya. Di atas jukung itu, para acil menjual buah-buahan, sayur, kue, ada juga yg menjual perlengkapan dapur dan soto. Beberapa jukung mulai mendekati kami, menawarkan jeruk, kue, dan buah lainnya. Beli pak, jeruknya pak, begitu rayu para acil. Saya akhirnya membeli kue, ikan kering, dan keripik pisang, teman saya membeli jeruk dan pisang. Berkali-kali para acil menawarkan jeruk namun saya tolak, saya kurang suka makan jeruk pagi-pagi. Dibanding Kuin, pasar apung Lok Baintan memang unik, disini jukung terbawa arus dan ketika sudah hanyut pemilik jukung harus mendayung kembali ke atas, begitu seterusnya. Sebuah perahu besar terlihat mengumpulkan semua barang-barang dari jukung, sepertinya diborong dan akan dijual di Banjarmasin.

Hari beranjak siang, setelah puas menyaksikan aktivitas masyarakat di pasar Lok Baintan, kami kembali. Bang, kita pulang kata saya. Lelaki itu segera memutar kelotoknya. Meninggalkan para acil yang masih sibuk menawarkan dagangannya. Sebenarnya ada beberapa amang,  namun jumlahnya pagi itu sangat sedikit. Selama perjalanan pulang ke Soto Bang Amat saya merebahkan diri di lantai kapal. Pukul 0815 kami tiba di soto Bang Amat, setelah kelotok tertambat, saya serahkan ongkos kami ke lelaki itu sambil berterima kasih. Terima kasih, bay.

*sejak bercerita di kelotok ia selalu memanggil saya bay (bang)





Selasa, 28 November 2017

What a Journey! Kia Ora

Hari itu tanggal 4 bulan November tahun 2017, aku harus ke bandara sebelum dzuhur karena pesawat jam 1530. Paling tidak jam 1330 aku harus tiba. Perjalanan ke Jakarta dengan kereta listrik tidak pasti meskipun hari sabtu, meskipun paling tidak agak lengang. Aku agak telat, kereta ke Jakarta baru kunaiki hampir jam 1200. Seharusnya aku tiba di Gambir jam 1300, itu telah lewat 15 menit. Saat tiba di halte Damri, bus bandara sudah jalan, terpaksa harus naik bus berikutnya yang jalan 15 menit lagi. Lalu lintas ke bandara agak merah kulihat di maps, itu artinya macet, aku sangsi bisa tiba dalam 30 menit. Padahal penerbangan ke luar negeri harus tiba 2 jam sebelumnya. Benar saja, baru saja masuk ke dalam tol,  kendaraan sudah berjalan merayap. Kuulangi membuka maps, menghitung lama perjalanan, dan sepertinya akan telat. Jika aku tidak membawa paspor pak Haryo dan uang jalan tak mengapa, masalahnya uang jalan dan paspor aku yang pegang. Kacau, bisa-bisa gagal berangkat cemasku. Sebenarnya macet di tol hanya di pertemuan dengan tol JORR, setelahnya itu lancar.

Aku mengabari Aleik kalau jalan macet dan agak telat. Pak Haryo sudah di bandara setengah jam yang lalu. Bodoh kau Nico, kenapa tadi tak naik taksi saja, lebih cepat. Kau bisa lewat JORR, dalam setengah jam kau akan tiba di bandara!. Hatiku semakin was was, di boarding pas kulihat jam 1445 bagasi drop, sementara sekarang sudah 1430 aku masih di dalam bis, terjebak macet di tol. Sepanjang jalan aku istighfar, berdoa semoga Allah memberi kemudahan. Sesekali kulihat ke kaca depan mobil ingin memastikan bahwa tidak ada kecelakaan yang membuat macet ini, semoga hanya karena pertemuan jalur tol JORR.

Sesaat kemudian Aleik memberitahu kalau boarding jam 1515. Cukup lega mendengarnya, aku masih punya 30 menit menuju bandara. Setiap detik dan menit kuhitung, dikira, aku akan sampai di terminal 2 jam 1500. Lepas dari macet, belum melegakan perasaanku, karena masih ada pintu tol dan pemeriksaan petugas Damri. Belum lagi nanti bus akan ke terminal 3 dulu, terminal 1 dan terakhir baru ke terminal 2, bodohnya aku. Lagi-lagi aku memaki diriku, kenapa aku naik Damri, sepanjang sisa perjalanan aku hanya bisa menyesali keputusanku.

Allah menyelamatkanku, aku berlari saat bus berhenti di terminal internasional 2D, kupercepat gerakan saat melewati pemeriksaan, untung penumpang tidak terlalu ramai, tepat jam 1455 aku tiba di konter Check in Malaysia Airlines, disitu sudah sepi, satu konter sudah tutup, bergegas kuhampiri petugasnya. Raut ramah wajah petugas menenangkan aku, kuserahkan paspor ku dan pak Haryo dan handphone. Petugas itu bertanya apakah penumpang yang satu lagi sudah tiba. Aku bilang ya. Kuhubungi pak Haryo, ternyata beliau masih di lobby luar bersama aleik. Kulihat mereka mulai masuk. Aku hampiri pak Haryo dan meminta maaf aku sangat telat. Akhirnya boarding pass kami dapatkan dan 10 menit lagi baru akan masuk ke pesawat. Malaysia Airlines kami pilih karena murah, selain itu meski harus transit di Kuala Lumpur namun kami tak memerlukan visa. Opsi lainnya waktu itu naik Qantas, namun kami ragu apakah harus mengurus visa transit atau tidak, meski di situs imigrasi Australia mengatakan warga negara Indonesia tidak perlu visa transit jika kurang dari 72 jam. Lagipula Malaysia Airlines makanannya terjamin halal.

Seperti biasa, di bandara Soetta, waktu untuk take off dan landing cukup lama, pesawat harus antri. Tidak seperti Kuala Lumpur Airport yang landasannya ada 3, di Soetta dengan hanya 2 landasan dan lalu lintas pesawat yang tinggi jadilah waktu antrinya lebih lama. Penerbangan ke KL hanya 2 jam, jam 1800 atau 1900 waktu KL pesawat mendarat. Kami shalat magrib di surau bandara. Jam 2130 kami masuk ke boarding room dan bersiap masuk ke pesawat. Setelah semua siap, pesawat kemudian take off menuju Auckland.

Entah mengapa selama di pesawat tubuhku merasa sangat fit. Tidak seperti biasanya yang selalu mual, padahal makanannya juga tidak terlalu enak. Kecuali Snack kacang masinnya, aku suka. Pukul 1300 pesawat mendarat di Auckland. Setelah proses imigrasi selesai, selanjutnya pemeriksaan bea cukai. Aku agak khawatir, pemeriksaannya akan ketat, peringatan untuk membuang bahan makanan terpampang sepanjang jalan ke bea cukai, kalau ketahuan dan tidak dilaporkan maka didenda. Aku tuliskan bawa makanan dalam form bea cukai karena aku dan aleik membawa beberapa Snack dari Indonesia. Saat ditanya oleh 2 ibu petugas bea cukai bandara apa makanan yg kami bawa, aku katakan hanya bawa Snack, kacang masin atau peanut. Aleik ditanya ada yang lain dibawa, ya, bawa obat-obatan. Pemeriksaan seperti itu yang penting kita harus jujur. Petugasnya juga tersenyum saat kami berterus terang. Dan akhirnya kami lewat saja, terakhir bagasi kami masuk mesin pemindai lagi, lalu selesai.

Sampai di luar sudah pukul 1400, itu artinya jadwal bus sudah lewat. Kami harus segera memesan bus berikutnya. Setelah mencari informasi di pusat informasi, bus berikutnya juga sudah penuh. Pihak informasi menawarkan opsi naik bus travel yang biayanya 2 kali lipat. Ya mau bagaimana lagi, akhirnya kami pesan bus travel ke Rotorua itu. Kami memang dari awal tidak mem-booking bus intercity ke Rotorua karena takut proses imigrasi dan bea cukai akan lama. Bus travel baru akan siap jam 1800, jadi kami masih bisa makan siang dan shalat dulu. Kami makan siang di lantai 2, disitu ada KFC, sembari menunggu pesanan, kami bergantian shalat. Tempat shalat di terminal internasional bandara Auckland terletak di lantai 2 mengarah ke toilet lalu menuju ke sebuah lorong terbuka. Di tengah lorong itu dibentangkan Karpet seukuran 3x3 meter dan diberi tulisan di dindingnya "Moslem Pray Area". Juga tersedia setumpuk sajadah dan beberapa alquran disana.

Pukul 1800, setelah menunggu 3 orang penumpang tujuan Hamilton, bus travel berangkat. Bus itu adalah Mercedes van dengan kapasitas 12 penumpang, di bagian belakang ada ruang untuk bagasi. Bersama kami ada seorang wanita paruh baya, sepertinya dia pekerja kantoran, karena hampir sepanjang perjalanan ia membalas email di handphone nya. Dua penumpang lainnya adalah pasangan muda yang membawa bayi, sepertinya mereka baru kembali dari liburan. Mereka semua turun di Hamilton, kota di antara Auckland dan Rotorua. Supir travel kami bernama Jhony, ia keturunan India, namun sudah lama di NZ. Pukul 2000 Setelah mengantar 3 penumpang tadi, Jhony mengatakan harus mengisi bahan bakar dulu, perjalanan ke Rotorua masih 2 jam lagi. Dari Auckland hingga ke Rotorua aku melihat beberapa ruas jalan masih diperbaiki, namun tidak terdapat kemacetan karenanya. Di kiri dan kanan terhampar padang rumput yang luas dibatasi pagar sebagai padang ternak domba, sapi dan kuda. Melintasi jalan menuju Rotorua di kegelapan malam, Jhony memacu Mercedes nya di atas 80 km/jam, dia harus kembali lagi ke Auckland setelah mengantarkan kami.

Pukul 2150 kami tiba di Ledwich Lodge Motel, di tepi danau Rotorua. Lampu ruang resepsionis motel masih menyala, Aleik sebelumnya sudah mengabarkan kalau kami tiba agak larut. Kami langsung memanggil pemilik motel, sesaat keluar lelaki gendut dari pintu belakang. Halo! sahutnya menyambut kami hangat, lalu ia mulai menyiapkan administrasi dan kunci kamar kami. Jhony waktu itu langsung pamit, kami berterima kasih kepadanya sudah diantar dengan selamat. Setelah membayar penginapan selama 7 hari kedepan, Webb nama pemilik motel itu, mengantar kami ke kamar. Pak Haryo di lantai bawah, aku dan Aleik di lantai atasnya. Motel itu memiliki sekitar 14 kamar, setiap kamar dilengkapi kasur dan sofa, bisa untuk bertiga. Di dalamnya ada kamar mandi dan dapur lengkap dengan alat masak.

Setelah menaruh barang, kami langsung keluar mencari makan. Itu sudah jam 2200, sebagian besar restoran sudah tutup sejam yang lalu. Setelah memutar berusaha mencari tempat makan, akhirnya kami kembali ke EatStreat. Kawasan restoran di Rotorua, ada satu restoran yang masih buka. Kami memesan roti bawang, kentang, ayam dan goreng cumi, beserta air putih, lumayan untuk mengganjal perut malam ini. Setelah makan malam yang larut, kami kembali ke hotel dan bersiap untuk acara besok.

Pagi itu aku tak bisa tidur, efek jet lag masih mengacaukan pola istirahat tubuhku, suhu dingin ruang kamar juga mengganggu tidurku. Aku hanya sarapan sisa kentang dari KFC kemarin siang, kami tak sempat membeli makanan pagi ini, meskipun sempat, kami lebih memilih istirahat. Jam 0850 kami  menuju ke tempat acara. Tiba disana acara penyambutan oleh suku Maori sudah dimulai. Istirahat sore aku keluar ke ISite membeli tiket bus pulang, takut kami tak kebagian lagi. Aku pesan bus jam 1600 ke Auckland Internasional airport hari Jumat, itu setelah acara Eksekursi.

Hari pertama yang melelahkan,  pak Haryo bahkan sempat down karena tidak sarapan. Jadilah sore itu kami berbelanja ke market membeli bahan makanan untuk sarapan. Sebelum pulang kami mampir membeli lauk ayam dan domba di Mecca Kebab. Sampai di hotel, aku langsung menanak nasi, perutku sudah terasa lapar. Setelah magrib kami makan malam, itu pukul 1930, disini lagi di akhir musim semi, waktu siang lebih panjang. Cuaca musim semi ini tak menentu, meski sering cerah lusa diperkirakan akan hujan deras, suhu di siang hari sekitar 14 derajat celcius, di malam hari bisa turun hingga 9 derajat.

Keesokan pagi kami agak telat ke acara, malam itu efek jetlag belum juga hilang, pola tubuhku semakin kacau, meskipun suhu dingin tidak mengganggu lagi sejak heater di samping tempat tidurku kunyalakan kemarin siang. Malam tadi aku mencoba tidur jam 2000, tengah malam aku sudah terbangun dan tak bisa tidur lagi hingga pagi, meskipun mencoba, pak Haryo juga sama. Di toko Asia Market kemarin kami beli indomie, beras, dan cemilan, kami juga mampir ke ParknSave membeli telur, udang, lalapan dan snack. Nasi dan mie itulah yang dimasak Aleik jadi nasi goreng untuk sarapan pagi tadi ditambah lauk makan malam yang masih tersisa.

Malam ini kami tak perlu masak makan malam karena ada acara formal dinner. Makanan di Novotel malam ini sangat enak dibanding makan siang 2 hari ini, panitia menyajikan banyak masakan sea food yang lezat. Alhamdulillah sewaktu mengirimkan form registrasi peserta aku mencantumkan permintaan makanan halal ke panitia dan selama 2 hari ini kami tidak menemukan makanan dari babi. Saat pulang ke hotel aku pastikan akan tidur jika benar-benar mengantuk biar tidurku bisa lelap.

Aku bangun pukul 0430 subuh itu dan langsung shalat. Setelah tidur lagi sebentar pagi itu, aku dan Aleik menyiapkan sarapan pagi, dengan telur dan mie. Hari ini kami telat lagi ke pertemuan hari ke 3, sekitar 5 menit, itu karena hujan deras sekali, untung sudah berhenti pas jam 9. Istirahat makan siang kami selalu kembali ke hotel untuk shalat. Sore itu kami mengelilingi kota Rotorua, melihat toko-toko penjual suvenir.

Hari kamis adalah pertemuan terakhir. Sore harinya kami ke kota lagi, membeli suvenir dan makanan. Waktu itu sedang ada acara di pusat kota, ada festival makanan. Kami kembali ke hotel dengan membawa penuh belanjaan.

Hari terakhir di Rotorua, tuan rumah mengajak para peserta ke Agrodome, sebuah tempat atraksi domba, lucu. Di awal acara dipertontonkan berbagai jenis domba, lalu pertunjukan anjing penggembala domba, mencukur domba, memberi makan sapi dan bayi domba, lucu.

Hiburan domba lucu di Agrodome

Kawah belerang di Te Puia

Asal suku Maori

Setelah membeli beberapa suvenir dan menikmati kue yang disediakan panitia, perjalanan kami lanjutkan. panitia menyediakan 2 bus besar. Tujuan berikutnya adalah Te Puia, sebuah kampung suku Maori. Selain melihat museum suku Maori disana kami melihat kawah belerang sumber air panas. Rotorua pada zaman dahulu adalah pegunungan besar yang meletus. Di sekitar Rotorua banyak ditemui sumber mata air panas hingga hari ini. Dari Te Puia aku baru tahu jika suku Maori berasal dari Indochina, mereka menyebar melalui Kalimantan dan terus berlayar hingga ke Selandia Baru, sebagian dari mereka berlayar ke Utara menuju Hawai dan pulau sekitarnya. Beberapa kata seperti "Lima, Mata" merupakan kata-kata di nusantara yang juga sama digunakan suku Maori. Pukul 1500, kami kembali ke hotel dan langsung bersiap menuju stasiun bus karena bus ke Auckland pukul 1615.

Tepat pukul 1615 bus yang kami tumpangi tiba.



akan dilanjutkan nanti ya...

Selasa, 11 Juli 2017

Proyek Jalan Yang Hebat


Saya memutuskan untuk naik bus dan sangat ingin melihat pemandangan yang indah sepanjang perjalanan. Saya duduk di belakang sopir, di dekat jendela, agar mata ini bisa leluasa memandang ke depan. Cuaca pagi ini cukup cerah meski suasana masih gelap, saya berangkat subuh waktu itu.
Sebentar lagi bus memasuki perbatasan Lampung-Bengkulu saya mengetahuinya dari papan petunjuk yang saya lihat, saya tahu bus melewati jalan baru menuju Bengkulu. Jalan dipisahkan menjadi dua jalur utama dan satu jalur utama digunakan hanya untuk satu arah saja. Mata saya yang sudah mulai mengantuk langsung tertarik untuk melihat apa yang terjadi di sini. Setiap jalur jalan itu memiliki lebar sekitar 9 meter yang terbagi menjadi 2 lajur kendaraan dan 1 lajur darurat. Saya pikir kami sedang masuk ke jalan tol baru, tapi sudah beberapa kilo meter saya tidak melihat ada loket pembayaran, Hmmmmm. Jalan tersebut sebagian besar terbuat dari beton sedang sebagian yang lain dari aspal hotmix. Di sisi jalan juga dibuatkan saluran air tertutup hanya beberapa lubang dengan besi di atasnya sebagai jalur air masuk dibuat sepanjang saluran itu. Di sisi jalan juga di pasang besi penahan (guard rail). Jalan baru ini membelah hutan yang lebat, perkebunan karet dan sawit di daerah ini, juga pemukiman penduduk. Setiap pemukiman yang dipisahkan oleh jalan yang sangat lebar tersebut dibuatkan jembatan diantaranya dan selain itu di setiap pemukiman dan perkebunan juga dibuatkan jalan masuk dan keluar menuju jalan utama, seperti jalan tol saja. Namun tidak banyak pemukiman yang dipisahkan oleh jalan ini, jalan baru ini sepertinya memang dibuat untuk menghindari pemukiman sebisa mungkin.
Tidak ada persimpangan langsung di jalan ini, setiap jalan masuk dan keluar dari dan ke jalan utama dibuatkan jalan lain di sisinya. Beberapa lampu penerangan jalan jenis led dengan tenaga surya terpasang hanya di pertemuan-pertemuan jalan itu. Setiap 2 kilometer terdapat tanda khusus telepon darurat yang mungkin terhubung ke suatu instansi yang bertanggungjawab mengelola jalan ini. Saya melihat sebuah mobil patroli dengan dua orang petugas di dalamnya berada di sisi jalan, namun sepertinya bukanlah mobil polisi saya pikir itu juga mobil patroli instansi yang bertanggung jawab mengelola jalan ini. Dengan menyalakan lampu diatas kendaraannya seakan mereka mengatakan ‘kami mengawasi kalian’, sehingga sopir-sopir juga harus menjaga kecepatannya jika tidak ingin berurusan dengan petugas patroli itu. Selain itu, beberapa kamera pemantau kecepatan juga terpasang di pinggir jalan ini. Jalannya sangat mulus tanpa lubang dan beberapa guncangan hanya terjadi di setiap persambungan jembatan, selebihnya halus mulus tak terasa. Di sisi jalan juga tampak tersedia beberapa lokasi tempat istirahat atau perbaikan darurat. Wah! hebat sekali Bengkulu saat ini, berapa banyak waktu yang bisa di hemat dengan menggunakan jalan baru ini. Bus selanjutnya keluar di daerah Air Sebakul Kota Bengkulu namun jalan itu belum habis, dari marka penunjuk saya baca jalan baru itu bisa terus mengarah ke Padang, Hebat...ckckck.
Masuk di jalanan kota yang belasan tahun lalu sering saya lewati, tidak ada perubahan pada jalan-jalan kota ini, lebarnya tidak bertambah mungkin karena sudah banyak pemukiman penduduk di sisi-sisi jalan, namun kualitas jalan ini terlihat lebih baik, jalannya mulus tanpa lubang dan marka jalannya juga sangat jelas, jalan-jalan untuk para pejalan kaki juga  dibuat dengan rapi sepanjang jalan kota.
Bus berhenti di persimpangan lampu merah kota Sydney dan membangunkan saya dari mimpi, sebuah mimpi tentang perjalanan ke kampung halaman saya. Perjalanan 3 jam dari Canberra ke Sydney tidak terasa, di kanan dan kiri jalan terhampar padang rumput yang luas juga ada peternakan sapi dan domba yang bebas berkeliaran dalam kandang yang sangat luas. Bus membelah kabut dingin yang tebal pagi itu, yang membuat saya sempat berpikir kalau itu awan. Beberapa rambu peringatan "hati-hati' kanguru melintas terpasang di daerah hutan. Pemandangan yang betul-betul indah dan perjalanan yang begitu nyaman, saya berpikir bagaimana mereka bisa membangun ini semua. Mereka menggunakan seluruh sumber daya yang mereka miliki dan membangun suatu kesempurnaan dengan itu, termasuk jalan yang mulus itu. Oh andai negeriku bisa melakukan ini semua...

Cabut Bungsu

Saya baru tahu ada gigi yg baru tumbuh saat sudah kita dewasa. Gigi bungsu namanya. Letaknya paling belakang.  Dulu saya sering menghitung j...