Jumat, 06 Mei 2016

Tempat shalat di University of Groningen

Hai, kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai lokasi shalat di Universitas Groningen. Universitas ini besar, kampusnya dimana-mana baik di Centrum maupun pinggir kota di Zernike. Dan sudah pasti membingungkan bagi pelajar muslim menemukan ruang shalat di kampus khususnya bagi pelajar baru. Dari informasi website RUG benar bahwa ada 3 lokasi shalat di University of Groningen. Pertama di kampus utama itu terletak di Harmonie Building, lalu UMCG, dan Zernike. Memang awal saya tiba tahun 2015 dulu masih ada pelajar menggunakan ruang emergency exit di perpustakaan pusat (UB) sebagai tempat shalat, namun sekarang pihak kampus melarangnya. Sebenarnya ada 2 Masjid di kota Groningen ini, cuma mungkin agak jauh dari kampus.

Ruang shalat di Harmonie Building
Ruang shalat di Harmonie building
Baiklah, berikut akan coba saya beritahu ketiga tempat tersebut. Tempat shalat pertama adalah di Harmonie Building, gedungnya berada di sebelah Barat gedung utama terletak di jalan Oude Kijk in Het Jatstraat. Dari gerbang masuk itu terus lurus melewati plaza, lalu melewati pintu putar besar terus lurus saja keluar di pintu putar kecil. Dari situ sudah kelihatan gedung lainnya gedung Gebouw 15. Masuk saja, nah tepat di sebelah kanan itu adalah Prayer Room (silent room) ruang nomor 0027 berdekatan dengan toilet, ruangannya tidak besar hanya 2 x 3 meter. Di dalamnya tersedia sajadah dan tempat menaruh sepatu. Untuk mengambil wudhu, tersedia sink di toilet samping Prayer Room. Jadi kalian yang sedang berada di kampus utama atau lagi belajar di UB silahkan shalat disini. Namun karena Sabtu dan Minggu Harmonie Building ini tutup, bagi kalian yang sedang di UB bisa shalat di UMCG. Kalau kalian bingung tanya saja resepsionisnya. Pernah saya bertanya, mereka malah memberikan kunci ruang medical di samping ruang resepsionis. Sepertinya dulu ruang kecil itu dipakai untuk tempat shalat. Karena di penutup kotak sajadah yang ada di Prayer Room terpampang arah kiblat namun denahnya ruang medical, mungkin.

Lokasi shalat kedua ada di UMCG, sedikit sulit mengarahkan orang untuk mencari ruangan ini. Ruangnya terletak di lantai 1 tidak jauh dari lift besar di dekat kolam. Jika kamu masuk dari pintu Selatan dari jalan Oostersingel, kolam itu langsung terlihat. Namun jika kamu masuk dari pintu utama di Timur dari jalan Hanzeplein, kamu harus berjalan ke arah kiri sekitar 50 meter untuk menemukan kolam itu. Dari situ naik lift atau tangga ke lantai 1. Keluar dari lift, ruangan itu ada di sebelah kiri. Ruangan dengan pintu kaca itu cukup luas. Tidak seperti ruang di Harmonie Building yang dikhususkan untuk ruang shalat, di ruang ini semua agama boleh menggunakannya untuk beribadah. Di dalamnya ada sofa, meja dan kursi, terdapat pula buku buku bacaan dan juga dupa. Sajadah tersedia di ruang ini, cuma karena ini ruang bersama, ketika selesai shalat, sajadah itu harus dilipat dan ditaruh kembali ke tempatnya. Untuk berwudhu, tidak jauh di sebelah kanan dari lift tadi ada toilet, kalian bisa berwudhu disana.
Reflection room di Zernike
Ruang shalat di kampus Zernike
 Nah ruang shalat terakhir yang saya ketahui itu di kampus RUG yang di Zernike. Terletak di samping parkiran sepeda basement di gedung Duisenberg, di sekitar ruang Student Association di sebelah kiri menuruni tangga. Ruangnya diberi nama Reflection Room, kalau kamu bingung mencarinya, tanya saja di resepsionis nanti akan ditunjukkan. Ruangannya lumayan untuk menampung 8 orang jamaah. Meski bisa digunakan oleh semua agama, namun ruang ini lebih sering digunakan pelajar muslim saja.

Demikian informasi tentang ruang shalat di University of Groningen semoga bisa membantu.

Ayah... kebun dan kenangan indah di dusun

Pagi itu kutelepon dirinya, itu masih siang disana, perbedaan waktu antara Belanda dan Indonesia itu 5 jam.

"Assalamuallaikum..." kataku tak menyangka teleponku sudah tersambung.

Dua hari yang lalu kucoba menelpon dirinya, karena rindu tak ada kabar, biasanya kami bicara melalui pesan singkat, tapi teleponku yang satu itu rusak. Saat kutelepon kemarin itu terdengar suara orang sedang ceramah, pakai pengeras suara, sepertinya Ayah sedang di mesjid, sepertinya menunggu waktu isya disana. Karena suara tak terdengar jelas dan aku merasa tidak nyaman bicara dalam suasana seperti itu lalu kuputuskan sambungan telepon itu. Besok saja pikirku.

"Halo" kataku lagi sembari menunggu jawaban Ayah.
"Lagi apo Yah?" tanyaku lagi sembari menguji apakah ia mengenali suaraku.

"Kau Ko? hehehe" tanyanya sambil terkekeh di ujung telepon.

Dari suaranya aku merasakan kerinduan dan kebahagian seorang Ayah kepada anaknya, maafkan aku baru menghubungimu, Ayah. Kebiasaan burukku memang jarang sekali berkomunikasi lewat telepon, paling hanya pesan singkat.

"Dimano Ko?" tanyanya lagi seolah ingin memastikan keberadaanku.

Mungkin ia pikir aku sudah pulang ke tanah air. Kudengarkan pertanyaan-pertanyaan darinya untuk memastikan kami tak saling bicara.

"Masih di Belanda" jawabku.
"Sehat Yah?" tanyaku tapi tak dijawab, mungkin tak terdengar jelas.

Terdiam ku sejenak. Tak terbiasa ku berbicara banyak. Hanya hal-hal standar yang biasanya kutanyakan. Aku lebih senang mendengar cerita. Beberapa hari yang lalu aku teringat Almarhum Mama, ia paling senang bercerita jika aku menelpon ke rumah dulu sewaktu aku kuliah, masih terngiang suara bahagia Mama menerima telepon dariku.

"Ayah pikir la balik" candanya.

"Belum, masih empat bulan lagi"

Aku senang bisa kembali mendengar kabarnya, senang mendengar dia sedang sibuk dengan kegiatannya. Ia ceritakan kalau ia sedang di dusun. Di dusun itu berarti ia sedang di kebun miliknya. Segala macam tanaman ia tanam sejak dulu di kebun yang luas itu. Karet, durian, mangga, jambu monyet, alpukat, rambutan, nangka, melinjo, jengkol, terakhir ia banyak menanam sawit, di kebun itu banyak kolam, kolam di kebun itu sekarang ia jadikan tempat pemancingan umum. Kolam yang ia buat hampir dua puluh tahun yang lalu itu masih ia rawat. Kolam itu sekarang ia isi dengan ratusan ikan. Sejak ia pensiun 5 tahun lalu berbagai usaha Ia lakukan, apalagi sejak Mama tiada, kebun itu adalah pelariannya. Untuk mengisi kesibukannya selain ke kebun Ia juga menjadi pengurus di organisasi pensiunan pegawai kantornya dulu, pemilu di Bengkulu tahun lalu Ia menjadi pengurus di salah satu partai, syukurlah Ia masih sibuk.

Aku tidak bisa lagi menemaninya seperti dulu. Itu sejak kuliah dan kerja di luar Bengkulu. Dulu sewaktu di Bengkulu, ia sering mengajakku. Hampir setiap minggu kami ke kebun bersama Mama. Mama biasanya mencari kayu bakar, ia timbun kayu itu di pondok kebun, kadang dibawa pulang untuk masak di rumah. Bersama Ayah aku menjelajah ke dalam rimba. Kakiku kuat berjalan menjejak tanah tanpa alas, tergores ranting dan daun tajam, dari kecil seperti itu. Pernah kami berdua menjelajah hutan hingga sungai, ia mengajakku mancing, menerobos hutan lebat, sore itu hari hujan, ia potongkan sehelai daun pisang untuk menjadi payung anaknya yang kedinginan di sore yang basah, tapi aku tak mengeluh, itu di tengah rimba, tak ada orang disitu, tapi aku tak takut karena Ayah bersamaku. Memancing adalah kegemarannya, sementara hampir selalu ia mengajakku, banyak tempat telah kami jelajahi hanya untuk memancing. Sepertinya ia ingin mengajarkan cerita hidupnya dulu, berkelana di hutan, bermain di rimba, menggembala kerbau di sawah, memetik kopi di kebun, memanen padi di ladang, memancing ikan di sungai. Ia anak bungsu tapi itu tak membuatnya bermanja-manja, ia senang menjelajah kemana-mana,  layaknya tentara, seperti Bak-nya, nenek yang mantan seorang pejuang itu, dan semua itulah yang membuat ia begitu kuat.

Sore itu saat kutelpon Ia sedang menjaga kolam pemancingannya.

"Banyak yang datang" ceritanya dengan bangga tentang kolam pemancingan barunya itu
"Sekali masuk 15 ribu, lumayan"
"Banyak ikannyo Ayah lepas, ado Lele, ikan Mas, jadilah..." katanya lagi.

Tanah kebun itu adalah tanah warisan nenek (kakek). Lokasinya di pinggir jalan Bengkulu-Taba Penanjung. Kebun itu tak terlihat dari pinggir jalan, hanya sebuah rumah tua peninggalan nenek penandanya. Di belakang rumah itulah kebun itu, menuruni lembah yang curam. Rumah tua di pinggir jalan itu kini disewakan.

"Ado yang ngontrak rumah di atas tuh, Yah?" tanyaku.
"Ado orang ngisinyo" jawabnya.

Aku senang mendengar rumah itu ada yang menyewa. Itu artinya ada uang tambahan untuk Ayah. Paling tidak untuk kebutuhannya, meskipun belum banyak membantu Ibu. Sepeninggal Mama Ayah menikah lagi. Meskipun di dalam hati aku sendiri kurang setuju, namun itu adalah hak Ayah, dan dia punya alasan untuk itu. Sampai ia harus datang ke Bogor menemui aku, menggali pandanganku tentang rencananya waktu itu. Toh aku tetap datang di acara pernikahannya, menghormatinya, menghargai keputusannya, meski kecewa.

"Dipasang merek depan rumah" ceritanya.

Ia pasang iklan kolam pemancingan di depan rumah pinggir jalan itu. Ia bergantian menjaganya dengan Om Ron, temannya di dusun itu.

"Kadang Ayah yang jago, kadang Om Ron" ceritanya lagi.
"Sampai magrib Ayah (disini)" katanya ketika kutanya sampai kapan ia menunggu di kolam itu.

Masih sama seperti kebiasaan kami dulu. Menjelang magrib kami baru pulang dari kebun. Dulu kami pernah ke kebun itu naik sepeda dari kota, jaraknya tidak jauh, hanya 21 kilometer. Bukan karena ingin bersepeda, tapi itu hari raya, Ayah mengajak kami berlebaran ke tempat nenek. Tapi di rumah cuma ada satu vespa tua, tak cukup untuk mengangkut kami bertujuh. Tak lama sejak pindah di Pagar Dewa, Ayah bisa membeli sebuah mobil, mobil itu bekas mobil kantor yang dilelang. Mobil itulah yangg digunakannya setiap minggu ke kebun. Jika pulang dari kebun, di mobil itu biasanya sudah penuh dengan kayu bakar Mama dan macam-macam hasil kebun. Kadang kalau musim rambutan atau mangga bisa berkarung karung kami bawa.

"Kau sehat ajo, Ko?" tanyanya.
"Alhamdulillah sehat" jawabku.

Lalu kuceritakan jika sekarang sudah musim panas di Belanda.

Setiap mendengar ceritanya, semakin aku merasa betapa hebat dirinya, meski banyak kekurangan dimata kami anaknya tentang bagaimana seharusnya seorang ayah. Aku terus mengaguminya. Sehat terus Ayah, nanti kita jalan bersama, memancing bersama, tapi tidak di hutan atau di kebun, di kolam pemancingan saja, bersama cucu-cucumu Alzer dan Alfar.


Rabu, 04 Mei 2016

Belajar Dari Groningen, Menjaga Kota Selalu Bersih

Apa yang pertama kali anda bandingkan dengan negara kita, Indonesia, ketika anda berada di luar negeri? Apa hayo... Kalau boleh saya wakili mungkin yang dibandingkan adalah kebersihan kota, kerapian, keindahan dkk, betul tidak?. Di negara maju, Entah itu di Eropa, Australia, Korea, Jepang atau bahkan di tetangga kita Singapura, semua tertata dengan baik, yang namanya sampah walaupun ada itu paling hanya sedikit, seperti gelas kertas, botol bir, kertas pembungkus makanan, atau mungkin tisu, tapi secara keseluruhan semua terlihat bersih. Bagaimana kota-kota di luar negeri bisa seperti itu, bersih dan rapi?. Bisakah kota-kota di negara kita membuat seperti itu?, Mari saya beritahu bagaimana mereka, kota-kota itu menciptakannya, melihat di salah satu kota kecil di Eropa sini.

Mungkin benar bahwa ada aturan yang tegas bila anda membuang sebuah sampah kecil saja (ngga sampai sekarung) anda akan kena denda dan itu mahal, yang berperan menciptakan kota bersih. Memang sih di negara-negara berkembang (generalisasi ajalah ya) udah ada aturan semacam itu, banyak, tapi... entah kenapa kota di negara-negara itu masih saja banyak bertebaran sampah. Kalau saya lihat akar penyebabnya itu ya di orang-nya, budaya untuk menjaga kebersihan atau paling tidak tidak mengotori kota itu masih rendah alias ga peduli. Meskipun di kota itu kebanyakan orang-orang berpendidikan dan kaya namun pendidikan dan kekayaan tidak serta merta menghasilkan orang-orang dengan budaya bersih di kota. Lihat saja di jalanan kota anda, masih banyak orang membuang sampah dari dalam mobilnya entah itu gelas minuman atau plastik makanan ke jalan, hadeuh!.

Merubah budaya itu adalah hal yang sulit, butuh puluhan tahun, dua puluh bahkan tiga puluh, juga konsistensi, dan banyak lagi komponen untuk merubah itu, tidak cukup dengan aturan atau sosialisasi kesadaran, spanduk dan papan himbauan itu tak guna. Seperti di kota ini, Groningen, tempat saya kuliah, kota kecil di Belanda dengan populasi 500 ribu jiwa dan mungkin di kota-kota lainnya di negara maju, kesadaran tentang menjaga kebersihan itu sudah terbentuk dari kecil, mereka diajarkan disiplin, tidak mengotori kota. Lingkungan perumahan terlihat bersih begitu juga fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit dan taman. Jadi apa? kesimpulan menjaga kota selalu bersih itu adalah dari budaya. Kalau anda masih membuang sampah sembarangan meskipun kecil, misalnya bungkus permen saja, berarti budaya menjaga kebersihan anda nol! apalagi kalau anda membuang se-plastik sampah dapur di sungai, hadeuh!.

Petugas kebersihan dengan menggunakan blower
Meski budaya kebersihan masyarakat kota di negara maju sudah baik, seperti yang saya katakan sebelumnya, masih ada beberapa orang yang dengan sadar ataupun tidak (mungkin lagi mabuk) membuang sampah sembarangan, seperti di Groningen ini. Tapi jumlahnya sedikit, tidak masif, apalagi ter-struktur dan sistematis. Oh ya, sampah itu akan selalu dibersihkan, sama seperti di negara anda. Ada juga petugas kebersihannya, tapi disini lebih modern, beda, tak ada itu namanya sapu lidi, yang ada mesin blower yang disandang untuk meniup sampah dan 'menggiringnya' ke jalanan. Mereka, petugas kebersihan itu, kadang berkelompok, misalnya membersihkan daun kering di taman, ketika musim gugur daun-daun berjatuhan dan harus dibersihkan, jika tidak akan terbawa hujan dan menutup saluran air. Lalu nanti, sampah-sampah yang digiring ke jalanan tadi, akan di-sapu oleh mobil penyapu. Mobil itu ada yang kecil dan sedang ukurannya, ia bisa masuk ke gang-gang sempit, bahkan lidi-nya ada yang di-desain membersihkan rumput di trotoar. Di negara anda mungkin sudah ada, ya itu mencontoh dari negara maju. Dengan mobil itu, membersihkan kota jadi lebih cepat. Mereka itu dari dinas kebersihan kota, sama. Kegiatan membersihkan kota itu rutin, untuk pusat kota dan jalanan setiap hari dibersihkan antara pukul 7 pagi hingga 9 pagi. Untuk wilayah pemukiman tidak setiap hari, pokoknya terjadwal. Sama seperti petugas penyisir, mereka berbekal kantong dan tongkat pencapit menyusuri gang-gang kota guna memunguti sampah yang tidak tersapu.

Petugas kebersihan kota Groningen
Tempat sampah khusus, untuk sampah biasa dan botol
Truk khusus untuk menangani kotak sampah
Tentu saja merupakan hal yang standar, di setiap sudut kota tersedia tempat sampah, sama. Bedanya tempat sampah disini bukan hanya disediakan di tempat umum seperti taman dan pinggir jalan, tapi juga disediakan hingga ke kawasan pemukiman, bentuknya ada yang standard ukuran kecil dan ada yang khusus, yang khusus itu kelihatannya saja kecil, padahal besar, ukurannya 1,5x1,5x 3 meter, tersembunyi di bawah tanah. Akan ada truk khusus untuk menangani kotak sampah itu. Selain itu, di kota ini juga ada tempat sampah khusus botol, botol dimasukkan ke kotak sesuai dengan warna botol. Yang berbeda juga, beberapa kota besar menggunakan tempat sampah tenaga surya atau solar powered trash compactor, sampah akan dipadatkan, sehingga mampu menampung lebih banyak sampah, tentu saja sumber tenaga penggerak mesin pemadat-nya itu dari tenaga surya.

Mobil penyapu ukuran kecil
Solar powered trash compactor
Perlu diketahui juga jika Belanda ini memiliki 12 pembangkit listrik tenaga sampah. Bahkan karena sampah di dalam negeri mereka sedikit sedangkan kapasitas pembangkit listrik tenaga sampah cukup besar makanya mereka menerima kiriman sampah dari negara lain. Total kapasitas lisrik yang dihasilkan dari ke 12 pembangkit itu hampir mencapai 600 Mega Watt.
Kardus yang diletakkan di depan toko-toko setiap hari Kamis

Jika di negara anda baru-baru ini diterapkan plastik belanja berbayar, disini telah lama itu diterapkan, jadi penduduk kota sudah terbiasa membawa kantong belanja dari rumah, tentu saja itu akan mengurangi sampah plastik, paling tidak, karena di pasar, plastik masih diberikan gratis. Di toko-toko tertentu juga disediakan fasilitas pembelian botol bekas.

Mesin pengembalian barang bekas.
Botol ukuran tertentu bisa dikembalikan melalui mesin khusus dan anda akan mendapatkan uang dari itu. Tidak hanya botol, elektronik device dan baterai juga bisa dimasukkan. Setiap hari kamis, orang-orang mengeluarkan sampah kardus dan kertas, mereka cukup meletakkannya di depan toko atau rumah masing-masing, nanti ada petugas yang mengangkutnya. Begitulah bagaimana contoh kota di negara maju menjaga kebersihan kotanya, sudah dapat gambarannya kan?. Pertama budaya masyarakatnya, kedua fasilitas pendukung kebersihan kota, dan ketiga kompensasi. Nah mungkin kota anda bisa menerapkan semuanya. Selamat mencoba!.




Sabtu, 30 April 2016

Volendam: Keheningan Desa Nelayan Di Utara Amsterdam


Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, sekali jalan dua tiga tempat dikunjungi. Setelah perjalanan yang melelahkan dari Paris ke Amsterdam, pagi itu kami berencana menghabiskan sisa hari dengan mengunjungi desa nelayan di Utara Amsterdam, desa wisata Volendam, sebuah desa nelayan yang cukup terkenal. Kami tiba subuh di Amsterdam, itu memberi kami kesempatan untuk sarapan di kafe All Star steakhouse seberang stasiun Amsterdam Centraal, itu karena seorang lelaki tua memanggil-manggil setiap orang yang lewat agar mampir ke cafe itu, sambil menunjukkan menu yang ditawarkan, mungkin dia pemiliknya. Kami lihat ada menu halal, maka mampirlah kami. Setelah mengisi perut dengan menu telur ceplok, roti, dan kacang kami langsung menuju stasiun central, di situlah bus 316 tujuan Volendam-Edam berada, dari keterangan di google maps, perjalanan ke sana akan ditempuh selama lebih kurang 30 menit. Sesuai dengan jadwal, bus tersebut tiba di halte, tidak perlu menunggu lama, bus langsung melaju menuju Volendam lewat jalan S116 lalu masuk ke terowongan bawah air IJtunnel menyeberangi Buiten-IJ, saya baru sadar kalau jalan kami menyeberangi perairan lewat terowongan waktu perjalanan pulang, hebatlah negeri ini kalau yang berurusan dengan infrastruktur air.
Bus ke Volendam
Volendams Museum 
Disambut matahari terbit di tepi desa
Suasana pagi di desa Volendam
Aktivitas nelayan membongkar ikan
Kapal wisata
Sekitar 30 menit perjalanan bus sampai di Volendam, kami turun di halte Julianaweg atau Centrum lalu mulai menyusuri jalan Zeestraat menuju ke pinggir pelabuhan. Hari masih pagi, dan suhu udara masih dingin, beberapa toko baru saja buka, bangunan di desa ini sebagian tampak bangunan lama, sebagian lagi adalah rumah-rumah baru, ciri khas Volendam, kecil dan berdempet. Tiba di pinggir pelabuhan, kami disambut aktivitas nelayan yang sedang membongkar ikan hasil tangkapan mereka. Matahari baru saja terbit waktu itu, hembusan angin dingin memaksa saya mengenakan kembali sarung tangan yang tadi disimpan, puluhan burung camar terbang kesana kemari. Tampak dua kapal wisata juga bersender di pinggir dermaga.

Kolam pelabuhan bagi kapal-kapal nelayan
Salah satu studio foto dengan baju tradisional Belanda di Volendam
Mencoba fasilitas teropong di pinggir Markemeer
Di sisi jalan utama desa itu yang yang juga menjadi tanggul pelindung banjir bagi desa itu, beberapa toko souvenir sudah buka, toko itu juga menyediakan studio foto dengan pakaian khas belanda, banyak sekali foto-foto tokoh-tokoh dan artis Indonesia yang mereka pajang, puluhan bahkan ratusan, tak perlulah saya sebutkan satu persatu. Saya? tak tertarik ber-foto-foto seperti itu. Saya sempat mencoba menggunakan fasilitas teropong yang disediakan di pinggir Markermeer, dengan memasukkan uang koin 1 euro saya bisa melihat desa Marken di seberang sana.
Beberapa cafe di pinggir pelabuhan
Gereja Vincentius
Pelabuhan yatch di Marinahaven
Kami terus melanjutkan perjalanan mengelilingi desa kecil itu. Tampak di beberapa rumah dipasang iklan dijual, desa yang sepi, sebuah gereja tua Vincentiuskerk berada di antara rumah penduduk. Kami lalu menuju ke Marinapark dan melewati pelabuhan yatch Marinahaven, puluhan kapal layar bersandar di pelabuhan itu, sebuah kafe Marina Volendam juga berdiri di tengah pelabuhan itu. Sebenarnya di dekat situ juga ada pabrik sepatu khas belanda dan pabrik keju Alida Hoeve, namun itu masih terlalu pagi untuk mereka buka, kami lalu memutuskan mengakhiri perjalanan dan kembali ke Amsterdam.

Selasa, 26 April 2016

Ayolah kita berubah, meski hanya perubahan kecil bersama Putera Petir lainnya

The Sky Dancer (image source:fb r.e.)
Saya mengetahui kisahnya karena seorang Dahlan Iskan yang entah dari mana ia mengetahui 'putera petir' ini, nama itu, begitu Dahlan menyebutnya. Ambisi Dahlan untuk menginisiasi penciptaan mobil listrik karya anak negeri adalah alasan kenapa anak muda ini 'dipaksa' pulang  ke Indonesia, padahal di Jepang ia memiliki segalanya. Ia adalah seorang ahli motor listrik yang telah menciptakan berbagai penemuan terkait motor listrik dan telah dipatenkan di Jepang, hebatlah Ia pokoknya.

Di  Indonesia, negara yang saya sebut 'takkan berubah hingga kiamat', mimpi mengembangkan mobil listrik sepertinya harus disimpan sejenak, proyek itu seperti 'hidup tak mau, matipun tak diharap', banyak yang tidak mendukung proyek itu, saya pikir ini masalah yang kompleks, walau sebenarnya jalan keluarnya sangat mudah sekali, dan seorang Dahlan mungkin sudah tahu solusinya, namun sepertinya hanya sampai dipikirannya, tak terucap mungkin.

Pemuda itu sewaktu kembali ke Indonesia, ia membawa mimpi pribadinya, sebuah mimpi untuk mencipta dan mengembangkan apa yang ia sebut "The Sky Dancer", pembangkit listrik tenaga angin ukuran kecil, cocoklah untuk negerinya yang terkendala dengan yang besar dan mahal. Meski ia mengatakan terus mengembangkan temuannya itu, namun temuannya itu sudah terbukti berhasil menghadirkan senyuman ratusan bahkan ribuan rakyat negerinya di bagian Timur situ, wilayah yang berpuluh tahun tak pernah tersentuh listrik, sungguh mengenaskan memang, namun ia berhasil, meski ia mengelak bahwa itu usaha banyak orang, tak bisa dipungkiri itu adalah hasil karyanya, hebatlah Ia.

Pemuda itu dengan segala upaya yang ia lakukan, dengan keterbatasan yang dimilikinya, entah  mimpi besar apa yang Ia simpan, yang membuat ia tetap terus bertahan dan berjuang bersemangat, hingga rela berkotor-kotoran, menghidupi api mimpinya. Jutaan orang mengenal dirinya, mengetahui apa yang ia lakukan, tak memelas ia kepada negara.



(akan dilanjutkan nanti...)

Senin, 25 April 2016

Berlin-Hamburg: Dari Mengenang Runtuhnya Tembok Berlin Hingga Kota Pelabuhan


Horeee! Libur tlah tiba. Ini adalah liburan perdana keluar Belanda di akhir tahun 2015 setelah tiga bulan berkutat dengan belajar, belajar dan belajar. Setelah menimang kemanakah tujuan liburan perdana ini, antara Berlin, Brussel, atau Paris, akhirnya saya memilih Berlin, tentu saja tak lain karena saya menemukan tiket yang murah ha ha ha, 'Biasalah wak kami ni cumak mahasiswa, cari yang murah!'. Setelah menimbang-nimbang perbanding-an harga tiket bus, kereta atau pesawat, pilihan akhirnya jatuh ke Flixbus, tujuannya ke dua kota, Berlin dan Hamburg. Dengan Flixbus kami bisa berangkat langsung dari Groningen, tak perlu ke Amsterdam dulu. Saya atur keberangkatan dinihari dari Groningen agar bisa sampai paginya di Berlin lalu berkeliling sampai sore terus langsung ke Hamburg dan bermalam disana, begitulah rencananya.

Berangkat dini hari dengan Flixbus dengan warna hijaunya, bus itu dua tingkat, yang telah terparkir 15 menit di seberang stasiun Groningen sebelum jadwal berangkatnya, di dalamnya. Sebagian besar bangku dengan formasi dua-dua itu sudah terisi, rupanya penumpang bebas menentukan tempat duduknya masing-masing, siapa cepat dia dapat nyaman. Bus berangkat tepat waktu, khas negara maju. Saat memasuki perbatasan Jerman, bus harus berhenti untuk pemeriksaan, dua orang polisi Jerman naik ke atas bus dan memeriksa paspor dan ID penumpang. Mungkin level security Jerman dinaikkan saat itu sehingga ada pemeriksaan segala. Setelah pemeriksaan sekitar setengah jam itu bus lalu jalan kembali. 
Flixbus ke Berlin
Dari Groningen ke Berlin, jikalau tak salah, bus singgah di Odenburg dan Hamburg, beberapa penumpang ada yang turun dan ada juga yang naik. Sekitar pukul 6 pagi bus tiba di terminal bus Berlin Zoologischer Garten. Dari situ perjalanan kami di Berlin dimulai. Kami langsung berjalan ke Utara melewati taman Tiergarten lalu keluar di jalan Str des 17 Juni, hari masih gelap saat itu, keadaan masih sepi, hanya beberapa kendaraan yang melintas saat kami tiba di Victory Column. 
Brandenburg gate di pagi hari
Reichstag Building
Kami sampai di tujuan pertama kami, Brandenburg Gate. Brandenburg gate atau Brandenburg Tor disebutnya dalam bahasa Jerman adalah bekas gerbang kota dan merupakan ikon utama kota ini yang dibangun pada tahun 1788, desain gerbang ini didasarkan pada gerbang masuk Acropolis, di Athena, Yunani, di atasnya terdapat Quadriga-kereta yang ditarik empat ekor kuda. Setelah berfoto di Brandenburg Gate itu lalu kami berjalan 200 meter ke sisi Utara melihat dari luar gedung Reichstag atau gedung parlemen kekaisaran Jerman bersidang. Saat tiba disitu belasan pengunjung sudah terlihat antri untuk masuk ke dalam gedung. Untuk masuk ke situ harus melewati pemeriksaan yang ketat. Beberapa petugas berseragam terlihat sibuk memeriksa pengunjung yang masuk.
Memorial korban Holocaust
Sisa tembok Berlin di kawasan Postdamer Platz
Kami meneruskan perjalanan ke selatan melalui jalan Ebertstraße 21 melewati monumen jutaan korban Holocaust di Eropa. Kami lalu berhenti sejenak di kawasan Postdamer Platz, di simpang situ masih tersisa beberapa bagian tembok Berlin, tembok itu yang mengelilingi Berlin Barat dan menjadi tembok pemisah dengan Berlin Timur. Itu dibangun pada tahun 1961 sepanjang 155 kilometer dan menjadi simbol perang dingin waktu itu. Dari peta yang ada, masih banyak rupanya sisa-sisa tembok yang mulai dirobohkan pada tahun 1989 itu dibiarkan berdiri, tersebar di kota Berlin, terutama di tempat-tempat yang tidak mengganggu, seperti di Postdamer Platz ini, masih berdiri kokoh, bahkan garis di tanah yang menandakan bekas tembok-nya pun dibiarkan terlihat.
Patung Freiherr vom Stein di depan gedung parlemen
Check point charlie
Papan peringatan melewati perbatasan "YOU ARE LEAVING THE AMERICAN SECTOR'
Kami lalu meneruskan perjalanan ke arah Timur melalui jalan Niederkirchnerstraße melewati Abgeordnetenhaus of Berlin-Gedung Parlemen-nya Berlin yang dibangun tahun 1892. Kami tiba di Check point Charlie saat beberapa toko baru saja dibuka pagi itu, dan saya langsung membeli beberapa souvenir di sana. Check point charlie merupakan pintu perbatasan paling terkenal antara Berlin Barat dan Timur. Dulu di masa perang dingin, tank-tank Amerika dan Soviet saling berhadap-hadapan di perbatasan ini. Ini menjadi pintu perlintasan utama untuk diplomat, jurnalis dan pengunjung non-Jerman. Kini kawasan itu menjadi salah satu tujuan wisata di Berlin.
Museum für Kommunikation
Neue Kirche di dekat pasar Gendarmenmarkt
Museum Altes
Di kawasan Schlossbrücke dengan latar Berliner Dom
Di sekitar awasan Karl-Liebknecht-Str dengan Latar Berliner Fernsehturm dan gereja St. Mary's
Dari situ kami berjalan menyusuri jalan Friedrichstraße mampir di Museum Komunikasi menuju ke Utara, mampir sejenak di pasar Gendarmenmarkt terus ke timur menyeberangi sungai Kupfergraben dan berhenti sejenak di Lustgarten menikmati arsitektur Altes Museum dan Berliner Dom. Tampak beberapa orang penjual souvenir di sisi jalan Schloßplatz, mereka menjual pernak pernik tentara Jerman, di atas jembatan sungai Spree itu segerombolan penipu pinggir jalan mencoba mengerjai beberapa wisatawan yang lewat, termasuk kami, saya tahu mereka bersekongkol dengan permainan tebak dadu. Kami terus ke Timur melewati Berliner Fernsehturm sebuah menara stasiun televisi setinggi 200 meter yang dibangun sekitar tahun 1960an dan sekarang juga menjadi simbol penyatuan Jerman. Tidak jauh dari situ terdapat stasiun Berlin Alexanderplatz Bahnhof, disitulah kami makan siang. 
Tram di Berlin
Masjid Ayasofya
Setelah berkeliling sejenak di kawasan itu kami memutuskan untuk shalat dzuhur di Ayasofya Moschee, itu masjid terdekat menurut peta di handphone kami, terletak di bagian Barat kota menyebabkan kami harus naik kereta bawah tanah Berlin U-Bahn dari Alexanderplatz ke sana ke stasiun Birkenstr, selain itu, masjid itu juga dekat dengan terminal bus ZOB Reisebüro tempat pemberangkatan Flixbus tujuan Hamburg. Selesai shalat, kami lalu kembali naik U-Bahn di stasiun Birkenstr dan turun di Theodor-Heuss-Platz lalu jalan kaki ke terminal bus. Karena tidak mengerti tentang sistem tiket kereta U-Bahn itu, sejak dari Alexanderplatz tadi kami tidak beli tiket (tidak disarankan untuk ditiru), naik saja begitu, lagipula tak ada itu namanya gate masuk tempat biasanya tiket dimasukkan atau ditempelkan, tak ada petugas, entah bagaimana mereka mengaturnya, seperti tak diawasi.
Terminal bus ZOB Reiseburo
Kami harus menunggu di terminal itu, disini, di negeri orang ini, menunggu adalah lebih baik daripada kami ditinggal, paling tidak satu jam sebelum berangkat kami sudah tiba. Sekitar pukul lima sore bus tujuan Hamburg siap berangkat, kali ini kami antri paling depan siap berebut tempat duduk, seorang gadis muda sibuk mengabsen penumpang, dengan modal smartphone-nya ia men-scan barcode tiap tiket penumpang. Sebelum berangkat tadi kami sudah makan tidak jauh dari terminal itu, makan kebab dan kentang. Bus berangkat ke Hamburg dan di perkirakan butuh waktu tiga jam. 

Sampai di terminal ZOB Hamburg kami bergegas ke hotel, itu tidak jauh dari terminal. Sampai di hotel saya langsung mandi dan mengistirahatkan kaki yang pegal bersiap untuk besok berkeliling di kota Hamburg.

Stasiun Berliner Tor
Pagi yang berawan memayungi awal perjalanan kami di Hamburg. Kami berencana mulai berjalan dari pinggir kawasan pelabuhan lalu menuju pusat kota. Dari hotel kami hanya berjalan kaki ke stasiun Hamburg Berliner Tor, kali ini kami naik S-Bahn (kereta on the ground), kali ini kami beli tiket, harganya hanya 1,75 euro, stasiun tujuan kami adalah Hamburg Landungsbrücken di sisi sungai Norderelbe.
Di kawasan Bei den St. Pauli
Memandang ke Hafen City
Museum Rickmer Rickmers
Keluar dari stasiun Landungsbrücken kami langsung disuguhi pemandangan tepi sungai Elbe dan pelabuhan di sepanjang sisi sungai itu, tampak di sebelah timur adalah Hafen city dan Museum Rickmer Rickmers. Hafen City adalah kota di tengah sungai yang dirancang bukan menentang banjir namun cukup beradaptasi, makanya banyak bangunan tepi sungai di kota ini yang lantai bawahnya dipersiapkan untuk menerima banjir, disisi sungai dijadikan jalur pedestrian, sedang disisi lainnya bisa dijadikan parkiran kendaraan, model yang boleh ditiru kawasan pinggir sungai di Indonesia yang berlangganan dengan banjir.

Adaptasi bentuk bangunan di pinggir kanal Herrengrabenfleet kota Hamburg
Kami mulai menyusuri jalan Ditmar-Koel-Straße menuju pusat kota. Beberapa toko baru saja buka pagi itu, termasuk toko souvenir yang sukses menarik saya masuk dan menggoda untuk membeli beberapa pernik disana. Banyak sekali toko yang menegaskan Hamburg adalah kota pelabuhan di kawasan ini, beberapa menjual perlengkapan kapal, beberapa toko souvenir, café, pernak-pernik pelaut, barang antik peninggalan kapal, dan banyak lagi.
Di atas jembatan Graskellerbrucke
Kawasan belanja Neuer Wall
Bersantai di sisi Kleine Alster
Kawasan belanja di Rathaus
Kawasan Rathaus dengan latar Alter Wall
Kawasan Rathaus
Hamburg Townhall atau Rathaus
Kawasan belanja Mönckebergstrabe

Kami melewati taman Michelwiese lalu menyusuri sungai Herrengrabenfleet dan terus berjalan menuju pusat kota melewati jalan Nueur wall, kawasan belanja elit di Hamburg. Akhirnya kami sampai di pusat kota yang saat itu sedang ada pasar Christmas di depan Townhall. Ramai pengunjung siang itu. 

Kawasan Jungfernstieg
Waktu zuhur sudah masuk, saat nya mencari masjid, yang terdekat dengan terminal bus, kami menyusuri jalan Ballindamm dan terus berjalan ke arah stasiun pusat. Masjidnya terletak diantara ruko, tak kelihatan sebuah masjid jika dari luar, hanya sebuah papan nama tertempel di dinding luar bangunan itu.
Stasiun pusat kereta Hamburg 
Kawasan Munzplatz
Masjid Muhajirin tak jauh dari stasiun kereta Hamburg Central
Selesai shalat saatnya makan siang, makan apa? Doner kebab dan kentang, lagi, seperti biasa, kami beli di lantai bawah stasiun pusat itu, banyak yang antri, sepertinya enak, dan ternyata setelah kami nikmati memang enak, pantas ramai yang beli. Kami menikmati makan siang di kawasan Hamburg Central stasiun sambil memperhatikan lalu lalang orang, kenapa disini terlihat lebih ramai daripada Berlin kemarin, mungkin kami tidak menemukan kawasan yang ramai di Berlin kemarin. Setelah lelah kami lalu menuju ke terminal bus bersiap kembali ke Groningen. Itulah perjalanan liburan perdana kami melihat sejarah runtuhnya tembok Berlin hingga mampir sebentar di kota pelabuhan Hamburg.

Cabut Bungsu

Saya baru tahu ada gigi yg baru tumbuh saat sudah kita dewasa. Gigi bungsu namanya. Letaknya paling belakang.  Dulu saya sering menghitung j...