Minggu, 03 Oktober 2021

Keterampilan Non-Teknis (“Manajemen Sumber Daya Awak”)

Keterampilan Non-Teknis (“Manajemen Sumber Daya Awak”)

Ini adalah terjemahan tulisan Martin Anderson dengan judul yang sama.

Apa itu Manajemen Sumber Daya Awak(CRM)?

CRM telah didefinisikan sebagai "keterampilan sumber daya kognitif, sosial dan pribadi yang melengkapi keterampilan teknis dan berkontribusi pada kinerja tugas yang aman dan efisien" (Asosiasi Internasional Produsen Minyak dan Gas, IOGP, 2014). 

Kecelakaan pesawat United Airlines Penerbangan 173 di Portland, Oregon, 1978 menyoroti kegagalan dalam Keterampilan Non-Teknis. Analisis rekaman suara kokpit oleh NTSB menemukan bahwa pesawat kehabisan bahan bakar saat awak pesawat sedang memecahkan masalah kerusakan roda pendaratan. Faktor penyebabnya adalah kapten tidak mau menerima masukan dari awak pesawat lainnya, serta kurangnya ketegasan dari awak pesawat tersebut.

Pada 7 Juni 1979, NTSB mengeluarkan rekomendasi penting untuk mewajibkan pelatihan Manajemen Sumber Daya “Kokpit” untuk awak maskapai. Ini untuk mencakup komunikasi interpersonal, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan di kokpit; dan dimaksudkan untuk mengelola dengan sebaik-baiknya semua sumber daya yang tersedia bagi pilot termasuk anggota kru lainnya, prosedur, antarmuka mesin, dan diri mereka sendiri (yaitu mengenali di mana mereka paling rentan dan apa kekuatan mereka). Setelah ini, United Airlines mendirikan kursus pelatihan CRM pada tahun 1981. 

Manajemen Sumber Daya Kokpit dengan cepat berkembang untuk mencakup sumber daya awak yang lebih luas, termasuk awak kabin, dan berganti nama menjadi Manajemen Sumber Daya Kru (Crew Resource Management-CRM). CRM sekarang dianggap sebagai pelatihan penting bagi sebagian besar profesional penerbangan yang memberikan kontribusi operasional, termasuk pengontrol dan insinyur lalu lintas udara. Pelatihan CRM digunakan oleh hampir semua maskapai internasional dan direkomendasikan oleh regulator penerbangan sipil utama. Di beberapa wilayah, pelatihan faktor manusia diamanatkan oleh regulator penerbangan (misalnya Federal Aviation Administration (FAA) di Amerika Serikat dan Otoritas Penerbangan Sipil Inggris).

Karena keberhasilan CRM dalam penerbangan, CRM telah diadopsi di sejumlah industri dengan keandalan tinggi lainnya termasuk pemeliharaan penerbangan, perawatan kesehatan, kontrol lalu lintas udara, dinas pemadam kebakaran, minyak/gas lepas pantai, dan industri maritim. 

Variasi Manajemen Sumber Daya Kru (CRM)

CRM telah diterapkan di beberapa domain, beberapa contohnya antara lain:

  • Keterampilan non-teknis pilot (NOTECHS) dalam penerbangan;
  • Bridge Resource Management (BRM) dalam industri pelayaran;
  • Keterampilan Non-Teknis untuk Ahli Bedah (NOTSS);
  • Keterampilan Non-Teknis Ahli Anestesi (ANTS);
  • Keterampilan Non-Teknis Trauma (T-NOTECHS);
  • Manajemen Sumber Daya Kru Operasi Sumur (WOCRM) dalam kontrol sumur lepas pantai.

Saya lebih suka menggunakan istilah  Keterampilan Non-Teknis (NTS) daripada Manajemen Sumber Daya Kru (CRM), karena saya menemukan bahwa 'keterampilan non-teknis' lebih mudah dipahami oleh khalayak yang lebih luas di berbagai industri. Ini adalah istilah yang jauh lebih jelas. Namun, akronim CRM banyak digunakan di banyak industri.

Apa Kunci Keterampilan Non-Teknis-NTS?

Kursus pelatihan Keterampilan Non-Teknis dan CRM umumnya membahas masalah-masalah berikut: 

Kesadaran Situasi;

  • Pengambilan Keputusan;
  • Komunikasi;
  • Kepemimpinan/Pengawasan;
  • Kerja tim;
  • Kesadaran Faktor Pembentuk Kinerja seperti stres dan kelelahan.

Organisasi mungkin sudah memberikan pelatihan tentang beberapa masalah ini (khususnya kepemimpinan dan pengawasan). Apa yang membedakan program NTS dan CRM adalah bahwa itu mencakup semua keterampilan non-teknis dalam satu kursus, serta menyediakan kerangka penilaian. Jika Anda membuat atau menugaskan kursus, NTS yang relevan harus dipilih untuk industri spesifik Anda.

Definisi dan ringkasan poin berikut telah diadaptasi dari IOGP Report 501 (2014):

Kesadaran Situasi artinya mengembangkan dan mempertahankan kesadaran dinamis tentang situasi dan risiko yang ada dalam suatu kegiatan, berdasarkan pengumpulan informasi dari berbagai sumber dari lingkungan tugas, memahami apa arti informasi dan menggunakannya untuk berpikir ke depan tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

Mengumpulkan informasi;

  • Memahami informasi dan status risiko (menggunakan model mental dan memori);
  • Mengantisipasi keadaan/perkembangan masa depan;
  • Merencanakan tugas masa depan.

Pengambilan Keputusan:  Keterampilan untuk mendiagnosis situasi dan mencapai penilaian untuk memilih tindakan yang tepat.

  • Mengidentifikasi dan menilai pilihan;
  • Memilih opsi yang sesuai dan mengomunikasikannya;
  • Mengambil tindakan – mengimplementasikan dan meninjau keputusan.

Komunikasi:  Keterampilan untuk pertukaran (transmisi dan penerimaan) informasi, ide dan perasaan, dengan metode verbal (lisan, tertulis) atau non-verbal. Seringkali melibatkan penggunaan daftar periksa (checklist).

  • Pengarahan dan pemberian umpan balik;
  • Mendengarkan;
  • Menanyakan pertanyaan;
  • Bersikap tegas.

Kepemimpinan / Pengawasan:  Keterampilan untuk mengarahkan, memantau, mengelola dan mendukung tim untuk menyelesaikan tugas untuk target yang ditetapkan.

  • Merencanakan dan mengarahkan;
  • Mempertahankan standar;
  • Anggota tim pendukung.

Kerja sama tim:  Keterampilan untuk bekerja dalam kelompok, dalam peran apa pun, untuk memastikan penyelesaian tugas bersama; ini termasuk koordinasi, kerja sama dan resolusi konflik. Terkadang dikombinasikan dengan topik 'Komunikasi' dalam kerangka kerja CRM.

  • Memahami peran sendiri dengan tim;
  • Mengkoordinasikan tugas dengan anggota tim lain/shift lainnya;
  • Mempertimbangkan dan membantu orang lain;
  • Negosiasi dan menyelesaikan konflik.

Faktor Pembentuk Kinerja:  Faktor-faktor seperti kelelahan dan stres yang dapat mempengaruhi kinerja dan kesejahteraan individu. Keterampilan utama adalah mengenali bahwa Anda terpengaruh dan memahami bagaimana hal ini dapat berdampak pada perilaku dan keputusan.

  • Mengidentifikasi Faktor Pembentuk Kinerja, seperti stres dan kelelahan;
  • Mengelola efek dari faktor-faktor tersebut.

Kaitan antara Keterampilan Non-Teknis dan 'keselamatan'

NTS adalah pedang bermata dua. NTS yang baik seperti komunikasi yang jelas dan kerja sama tim yang efektif dapat mengurangi kemungkinan terjadinya human error dan capture error yang memang terjadi. Di sisi lain, NTS yang buruk, seperti kurangnya koordinasi tim, atau kegagalan untuk menanyai rekan kerja, dapat meningkatkan kemungkinan kesalahan. Ketika kesalahan terjadi, ada kemungkinan peningkatan kejadian buruk yang dapat membahayakan pekerja, penumpang, pasien, publik, produksi atau lingkungan.

Bagaimana mengembangkan Keterampilan Non-Teknis di organisasi Anda

Untuk menerapkan pelatihan NTS yang disesuaikan dengan industri atau organisasi Anda, pendekatan berikut mungkin berguna:

  1. Identifikasi elemen NTS yang relevan (misalnya 'kesadaran situasi');
  2. Pertimbangkan keterampilan apa yang dibutuhkan (misalnya 'mengantisipasi keadaan masa depan', 'mempertahankan kesadaran akan gambaran besar');
  3. Dengan memahami tugas-tugas utama yang diselesaikan sekelompok orang, identifikasi contoh penanda perilaku yang dapat digunakan untuk membantu menilai keberadaan keterampilan ini (mis. 'Melihat x-ray dan menunjukkan area yang relevan dengan tim' atau 'Memverbalisasikan peralatan apa yang mungkin diperlukan nanti dalam operasi bedah'). Dalam industri di mana NTS relatif matang, seperti penerbangan dan perawatan kesehatan, penanda perilaku telah dikembangkan untuk kelompok staf tertentu (seperti ahli bedah, ahli anestesi, perawat scrub) – jadi Anda mungkin juga perlu mengembangkan serangkaian penanda perilaku untuk peran yang berbeda ;
  4. Memberikan pelatihan di atas, dengan studi kasus dan contoh yang relevan;
  5. Mengembangkan pendekatan untuk menilai kinerja saat mengamati perilaku di tempat kerja atau di simulator;
  6. Merumuskan pendekatan untuk menangani penilaian yang buruk.

Keterampilan Non-Teknis dalam bencana Macondo/Deepwater Horizon

Ledakan di rig pengeboran semi-submersible Deepwater Horizon di Teluk Meksiko pada Maret 2010 mengakibatkan 11 korban jiwa dan tumpahan minyak lepas pantai terburuk di dunia. Berbagai investigasi menyoroti berbagai Keterampilan Non-Teknis yang mendasari insiden tersebut, seperti:

  • pengambilan keputusan yang buruk (misalnya tim mencari konfirmasi bahwa sumur lepas pantai telah disegel, daripada menyelidiki apakah sumur tersebut disegel atau tidak, dan alasan yang mendasari pengambilan keputusan tidak dibuat secara eksplisit);
  • kurangnya kesadaran situasional (misalnya berbagai data yang menunjukkan ledakan yang akan datang tidak ditindaklanjuti); dan
  • komunikasi dan kepemimpinan yang buruk antara anggota kru.

“Begitu proses ini diperhitungkan, keputusan salah yang dibuat oleh kelompok Macondo menjadi sepenuhnya dapat dimengerti, sangat menakutkan”  (Hopkins, 2012)

Studi kasus ini adalah contoh yang baik tentang bagaimana kegagalan di NTS digabungkan dengan masalah faktor manusia yang lebih luas untuk menyebabkan bencana besar. Kegagalan pengambilan keputusan dan kesadaran situasi diperparah oleh beban kerja yang tinggi pada kru bor, instrumentasi yang gagal memberikan indikasi yang jelas dan tepat waktu tentang hilangnya kontrol sumur, dan antarmuka antara berbagai organisasi kurang memadai.

Apakah NTS sendiri cukup untuk mengelola kinerja manusia?

Penerapan pendekatan NTS tidak boleh mengorbankan penanganan masalah organisasi yang lebih luas, seperti memastikan bahwa desain peralatan dan tempat kerja mendukung pengguna (yaitu menyiapkannya untuk sukses). Selain itu, Anda tidak boleh mengandalkan NTS yang baik untuk menggantikan sistem manajemen yang efektif (misalnya, mengelola kelelahan pada sumbernya, dari pada terus mengharapkan staf garis depan untuk mengelola dampak dari pengaturan jadwal yang tidak memadai).

Informasi lebih lanjut tentang Keterampilan Non-Teknis (CRM)

Manajemen Sumber Daya Kru untuk tim Operasi Sumur , Laporan IOGP 501, (2014). Dokumen ini merupakan hasil proyek yang dilakukan oleh University of Aberdeen atas nama International Association of Oil and Gas Producers (IOGP). Tujuannya adalah untuk mengembangkan silabus yang direkomendasikan untuk pelatihan CRM, yang disesuaikan dengan kebutuhan tim operasi sumur. Laporan ini terdiri dari modul pengantar, ditambah cakupan kategori keterampilan non-teknis utama: kesadaran situasi, pengambilan keputusan, komunikasi, kerja tim, dan kepemimpinan. Ini juga melihat faktor pembentuk kinerja seperti stres dan kelelahan, dan memberikan rekomendasi untuk desain dan penyampaian pelatihan WOCRM.

Pedoman pelaksanaan pelatihan Manajemen Sumber Daya Kru Operasi Sumur , Laporan IOGP 502, Asosiasi Internasional Produsen Minyak dan Gas (IOGP, 2014). Laporan ini mempersiapkan penyedia kursus untuk menyampaikan program pelatihan yang memperkenalkan dan mempertahankan Manajemen Sumber Daya Kru Operasi Sumur (WOCRM). Ini menetapkan tujuan pembelajaran untuk kompetensi CRM yang diberikan (keterampilan non-teknis) dan termasuk panduan tentang penyampaian pelatihan, penilaian dan kualifikasi; selain pengetahuan instruktur dan fasilitator.

Panduan tentang Manajemen Sumber Daya Awak (CRM) dan program pelatihan keterampilan non-teknis , Institut Energi (2014). Dokumen panduan ini telah dikembangkan untuk memperkenalkan CRM ke sektor energi. Ini memperkenalkan apa yang mencakup pelatihan CRM, menetapkan kasus mengapa pelatihan CRM harus diterapkan dan menyediakan proses untuk membantu organisasi mengembangkan dan menerapkan program pelatihan CRM. Contoh kursus CRM diberikan, dan sumber informasi latar belakang dan bacaan lebih lanjut disediakan. Publikasi ini harus dilihat sebagai bagian dari rangkaian sumber daya di atas yang dikembangkan bersama dengan International Association of Oil and Gas Producers (IOGP).

Manajemen Sumber Daya Awak untuk operasi lepas pantai : Memfaktorkan manusia ke dalam keselamatan: Menerjemahkan penelitian ke dalam praktik, Volume 3 (dari 3). Laporan Penelitian HSE 061 (2003). Tujuan dari paket kerja ini adalah untuk merancang dan mengevaluasi pelatihan Crew Resource Management (CRM), yang dimaksudkan untuk meningkatkan keselamatan, produktivitas, dan mengurangi waktu henti pada instalasi lepas pantai. Kursus CRM dikembangkan dan delapan kursus disampaikan kepada individu yang bekerja pada lima platform dari satu perusahaan yang beroperasi (n=104).

Buku Pegangan Sistem Non-Technical Skills for Surgeons (NOTSS) , University of Aberdeen, Versi 1.2 Mei 2006. Buku pegangan ini menyediakan panduan praktis untuk sistem NOTSS. Ini merinci sistem NOTSS lengkap, termasuk taksonomi keterampilan, penanda perilaku, skala penilaian, dan formulir penilaian. Ini juga mencakup panduan umum tentang penggunaan penanda perilaku. Meskipun diproduksi untuk sektor kesehatan, ini adalah dokumen yang sangat membantu untuk semua industri.

Sumber : https://humanfactors101.com/topics/non-technical-skills-crm/


Selasa, 08 September 2020

ODOL Lagi

Isu ODOL muncul lagi. Agus Pambagio di media membahasnya. Memang Agus kerap membahas isu-isu publik. Entah kenapa kali ini over load over dimension-ODOL yang dibahas. Padahal ekonomi lagi lesu. Pergerakan truk berkurang. Mungkin akibat banyak kecelakaan yang disebabkan tabrak belakang truk. Tahukah Anda, ribuan truk di negara kita tidak dilengkapi dengan perisai belakang. Akibatnya saat truk tertabrak oleh kendaraan kecil dari belakang, kendaraan kecil itu masuk ke bokong truk. Sensor airbag yang ada di bagian depan kendaraan kecil tidak mendeteksi benturan. Parahnya lagi tabrakan merusak kabin pengemudi yang menyebabkan korban jiwa. Baru-baru ini Kementerian Perhubungan gencar menyosialisasikan pemasangan perisai belakang truk. Hasil investigasi KNKT menemukan truk yang tidak dilengkapi perisai belakang sangat berisiko merenggut nyawa dalam kecelakaan. 

Kembali ke ODOL tadi, Agus mengatakan itu terjadi karena sistem logistik Indonesia yang buruk. Salah satu penyebabnya adalah adanya uang preman yang harus dikeluarkan pengusaha angkutan. Sehingga mereka, para pengusaha itu memaksimalkan muatan yang diangkut truk. Ditambah lagi kondisi itu tidak pernah bisa diselesaikan. Saya menghubungi salah satu sopir truk angkutan antarkota untuk mendapatkan informasi tentang uang preman itu. Ia orang Jawa Timur dan telah mengemudikan truk dari tahun 2003. Truknya dipakai mengangkut cabe dari Blitar ke Jakarta. Ia juga pernah menjadi sopir truk Kalimantan. Dari Jakarta atau Surabaya menyeberang dengan kapal ke Balikpapan. Saat saya hubungi Ia sedang di Mataram membawa muatan mesin dari Jakarta. Ia harus mencari muatan untuk kembali ke Jakarta. Jika tidak, tak ada pemasukan baginya. Ia harus membayar 6 juta untuk Jakarta--Mataram pergi pulang.

Ia mengatakan uang preman itu ada. Mulai ribuan hingga jutaan. Yang meminta? mulai dari aparat hingga masyarakat. Tapi Ia mengatakan jumlahnya tak tentu. Daerah industri dan pergudangan di Jakarta Utara dan Banten hampir selalu ada uang preman. Hampir di tiap  persimpangan dimintai. Dulu saat membawa truk ukuran sedang dengan muatan cabe, atap bak truk Ia buat segitiga agak tinggi seperti atap rumah untuk sirkulasi udara agar cabe tidak rusak. Model bak truk seperti itu dipermasalahkan oleh aparat. Ratusan ribu dibayarkan untuk bisa lepas. Jika tidak, truk akan digelandang. Di jalan tol juga begitu. Meski tidak tentu bertemu petugas.

Karena uang-uang sejenis itu harus disiapkan, para pengusaha memaksimalkan muatan untuk menutupi pengeluaran tadi. Bak-bak truk dimodifikasi. Ukurannya diperbesar dan dipenuhi muatan. Sopir-sopir pun begitu. Muatan yang penuh tadi itu mereka tambah lagi dengan mencari muatan lain tanpa sepengetahuan pengusaha. Sopir truk yang saya hubungi mengatakan muatan tambahan itu untuk uang tambahan akibat ketidakpastian di jalan tadi. Alhasil Anda bisa lihat ukuran bak truk di negara kita. Yang lebih parah lagi, coba Anda lihat truk-truk yang menyeberang dengan kapal. Bahkan di kabin pengemudi, bemper depan dan belakang, samping hingga atas kabin dipenuhi muatan. Ada yang menamakannya truk gandol. Berapa berat truk itu? tak ada yang tahu. Nanti setelah turun dari kapal, muatan tambahan tadi sudah ditunggu pemiliknya. Lokasi bongkar itu tak jauh dari pelabuhan. Maka truk gandol semacam itu jarang ditemui di jalanan. Saat menyebrang, tarif truk dibedakan berdasarkan kelas kendaraan. Atau sumbu rodanya. Truk-truk besar itu berapapun beratnya atau penuh muatannya hingga menjulang, tarifnya tetap sama. Maka tak heran muatan truk benar-benar dimaksimalkan. Jika di jalan truk ODOL merusak infrastruktur jalan, kalau di kapal truk ODOL itu merusak struktur kapal, menghalangi sebaran springkler pemadam kebakaran, menghalangi akses di geladak kapal, dan menyulitkan pengaturan stabilitas kapal.

Melihat kondisi di atas saya juga bingung bagaimana menyelesaikan benang kusut ini. Wacana pemerintah untuk memberantas truk ODOL justru menimbulkan perbedaan antarkementerian. Kementerian Perhubungan kontra Kementerian Perindustrian. Kementerian PUPR yang jalannya rusak mungkin menjadi sekutu Kementerian Perhubungan. Wacana yang pernah dilontarkan Dirjen Perhubungan Darat itu akhirnya ditunda hingga 2021 atas protes kebijakan tersebut. 

Sekarang masih suasana pandemi. Pemerintah sedang menyelamatkan ekonomi. Para pengusaha berjuang menyelamatkan diri. Diprediksi hingga dua tahun kedepan dunia usaha belum normal kembali. Masalah ODOL sepertinya akan tetap muncul lagi.


Rabu, 22 Juli 2020

Takut Swab

Saat ini banyak orang yang khawatir akan korona. Kenapa? Karena orang-orang harus tetap beraktivitas normal, sementara diri sendiri atau orang di dekatnya tidak tahu apakah telah terkena virus atau belum. Pengumuman dari Jend. Doni Monardo kemarin 80% penderita korona di Indonesia merupakan orang tanpa gejala. Sampai-sampai muncul perasaan di dalam diri "jangan-jangan saya sudah kena" karena merasakan sedikit sakit di tenggorokan atau kepala.

Saya pun mengalaminya. Karena saya harus pergi ke kantor di Jakarta dengan menggunakan kereta. Sewaktu pembatasan sosial dulu, kantor masih memberlakukan skema kerja dari rumah dan giliran masuk kantor. Dalam seminggu hanya dua kali kerja di kantor. Saat itu saya terkadang membawa mobil. Namun semenjak harus kerja di kantor setiap hari saya terpaksa naik kereta. 

Dengan menggunakan kereta, potensi penularannya cukup tinggi. Maka ketika kantor mengadakan rapid tes, saya harap-harap cemas. Meskipun di berita-berita menyebutkan akurasi rapid tes tidak terlalu menggembirakan. Tetapi tetap ada kekhawatiran. Bagimana jika reaktif? bagaimana dengan keluarga? dan seterusnya. Syukur Alhamdulillah hasilnya negatif.

Minggu lalu saya dimasukkan dalam tim cadangan kegiatan pencarian kapal tenggelam di Ternate. Seluruh tim termasuk saya harus melakukan swab tes atau polymerase chain reaction PCR untuk memastikan personil yang diberangkatkan bebas dari korona. Setelah hampir dua bulan beraktivitas di kenormalan baru, saatnya diperiksa kemungkinan terkena korona. Saya cukup khawatir. Bukan saja akurasi tesnya yang lebih tinggi dibanding rapid, tetapi proses swab dengan mengambil cairan di mulut itu yang membuat saya trauma. Ditambah sehari sebelumnya saya melihat video proses swab itu di grup WA.

Sesampai di rumah sakit, tibalah giliran saya di-swab. Di dalam ruangan itu ada dua orang dokter. Sebelum swab, riwayat perjalanan dan penyakit saya dicatat oleh dokter. Itu penting untuk melacak pasien jika ternyata hasilnya positif. Dokter juga menjelaskan proses swab dan reaksi tubuh saya nantinya. Mual. Bersin. Bahkan bisa saja berdarah katanya. Saya tambah grogi. Setelah itu saya disuruh duduk di sebuah kursi. Seorang dokter dengan APD level 3 menyiapkan dua cotton bud dengan tangkai panjang. Pertama swab di mulut. Tangkai swab dimasukkan hingga ke dinding kerongkongan. Saya merasa sedikit mual. Swab kedua dilakukan di hidung. Cotton bud untuk hidung sedikit agak kecil dan tipis dibanding untuk mulut. Tangkai itu lalu dimasukkan ke lubang hidung kanan lalu ditarik keluar dan dimasukkan ke lubang kiri. Sedikit sakit, geli, dan aneh hingga air mata saya keluar ketika benda itu dimasukkan. Tubuh saya bereaksi seolah akan bersin. Setelah itu sudah. Hanya begitu saja.

Ketika keluar ruangan, teman-teman yang lain bertanya penasaran: "Gimana?". "Ternyata tak lebih sakit dari yang saya bayangkan" ucap saya. Tahun lalu saya melakukan endoskopi. Sebuah slang kamera dimasukkan ke dalam kerongkongan saya. Slang itu lebih besar dan panjang dibandingkan cotton bud tadi. Slang tadi terus dimasukkan hingga ke lambung lalu diputar-putar beberapa kali. Sakitnya? berkali-kali lebih parah daripada swab. 

Lima hari kemudian hasil swab keluar. Alhamdulillah tidak terdeteksi. Takut swab itu hilang. Saya justru lebih khawatir penyakit lambung saya kambuh. Agar jangan sampai ada endoskopi lagi.

Senin, 06 Juli 2020

Jahe Obat

Kali ini betul terbukti. Jahe sebagai obat sakit gigi. Alhamdulillah. 

Dua hari yang lalu. Gigi geraham atas kiri saya yang berlubang itu sakit. Walaupun saya masih bisa makan dengan gigi sisi kanan, tetapi sakitnya mengganggu keseimbangan tubuh saya. Empat bulan lalu gigi itu saya tambal sementara karena sakit. Dokter menyuruh saya untuk kembali dalam dua minggu. Namun tidak saya lakukan. Sampailah kemarin sakitnya kambuh. Malu jika saya harus ke dokter itu lagi. Saya masukkan serbuk kayu manis dicampur minyak zaitun ke gigi yang berlubang. Tak ada reaksi. Saya cari di internet obat alami sakit gigi. Yang pertama muncul adalah berkumur dengan air garam. Dua kali sudah saya lakukan. Namun sakitnya tak kunjung hilang.

Tengah malam saya terbangun. Sakitnya bertambah parah. Dari internet saya tahu jika jahe bisa mengobati gigi sakit. Saya ambil jahe lalu saya cincang halus. Kemudian saya taruh di gigi yang berlubang dan saya tekan dengan jari agar mememnuhi lubang gigi. Beberapa menit kemudian sakitnya langsung hilang. Akhirnya saya bisa kembali tidur dengan tenang. Esoknya sama sekali tak terasa sakit lagi.

Selain untuk mengobati sakit gigi, jahe juga pernah saya gunakan untuk mengobati kaki yang keseleo atau terkilir. Caranya, parut jahe dan tempelkan pada bagian yang terkilir. Balut bagian yang ditempeli parutan jahe dengan kain atau kasa. Ganti parutan jahe setelah 6 jam. Hangat jahe akan membantu peredaran darah di bagian yang sakit.

Bagi Anda penderita maag atau luka lambung atau GERD. Minum air jahe akan membantu mengobati permukaan lambung yang terkikis asam. Hal ini kerap saya lakukan ketika maag saya kumat. Saat maag kambuh, jumlah asam lambung sudah terlalu banyak. Memang asam itu diperlukan untuk membantu mencerna makanan. Masalahnya, lapisan pelindung penderita maag sudah sangat tipis karena sudah terlalu sering mengonsumsi makanan yang memicu asam di lambung untuk mencernanya. Akibatnya permukaan lambung mengalami luka atau radang. Inilah yang meyebabkan nyeri saat maag kambuh. Memang saya belum pernah seketika langsung mengonsumsi jahe saat maag menyerang. Saat seperti itu saya langsung minum air hangat untuk menetralisisr asam di lambung dan minum obat pereda nyeri serta pengurang asam lambung. 

Rasa pedas jahe dan aroma khasnya berasal dari berbagai senyawa kimia yang dikandungnya sering dijadikan obat mual dan berbagai penyakit. Jadi jika Anda sakit gigi, keseleo, atau luka lambung silakan mencoba jahe sebagai obat dan tentu saja semua atas izin Allah.

Rabu, 27 Mei 2020

Lebaran Korona



Tidak ada yang menyangka. Pandemi ini begitu hebatnya. Sampai-sampai saya terpaksa-untuk pertama kalinya-menjadi imam salat Id. Di rumah. Sampai dengan hari ini di Indonesia sudah 22ribu orang dinyatakan positif virus korona. Mungkin jumlah sebenarnya lebih dari itu. Dan setiap hari terus bertambah, sudah lebih dari dua bulan sejak kasus pertama diumumkan. Karena kondisi di lapangan benar-benar berbeda dengan yang dilihat di media atau televisi. Diberlakukannya pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran, toh hanya tegas di tempat-tempat tertentu saja. Di pasar, di jalan, di tempat umum masih banyak ditemui pelanggaran.

Bulan lalu saya harus membayar pajak kendaraan. Meskipun pembayarannya bisa dilakukan secara daring, tetapi bukti pajak tetap harus dicetak paling lama sejak pembayaran. Begitu bunyi aturannya. Maka terpaksa saya ke kantor Samsat Kabupaten Bogor. Padahal seharusnya bisa diakomodir secara daring juga. Di Samsat saya lihat ratusan orang sedang mengurus berbagai keperluan. Di pintu masuk, bak cuci tangan dan sabun disediakan. Seorang petugas keamanan memeriksa suhu tubuh setiap orang yang akan masuk. Semua orang harus mengenakan masker. Bangku-bangku di ruang tunggu diberi jarak, sebagian telah ditandai untuk tidak diduduki. Setiap orang dilarang untuk berdiri. Petugas langsung menegur jika terlihat orang-orang berdiri di depan loket. Saya lihat 99% bangku di area tunggu sudah terisi. Sebagian besar orang yang datang ke Samsat masih membayar dan mengurus secara konvensional. Karena pencetakan di loket pembayaran daring hanya beberapa orang yang mengantre. Padahal seharusnya bisa dilakukan secara daring untuk mencegah orang datang dan berkumpul.

Saya tanya teman di Makassar, kondisinya tidak jauh berbeda. Saat Jakarta heboh dengan korona, Makassar masih tenang. Setelah awak kapal penumpang yang melayani rute ke Makassar dan acara keagamaan di Gowa, hingga hari ini Makassar menjadi epicentrum baru penyebaran korona. Acara keagamaan itu diikuti orang-orang dari berbagai daerah hingga orang dari luar negeri. Saat acara itu dibatalkan, sebagai orang-orang itu dipulangkan dengan kapal. Maka tidak heran jika virus ini menyebar kemana-mana. Di kapal, pendingin udara menggunakan pendingin udara sentral. Udara di dalam ruang disirkulasikan kembali melewati pendingin. Bisa dibayangkan bagaimana cepatnya virus  menyebar. Tidak lama setelah itu, kapal-kapal penumpang itu berhenti beroperasi. Sebagian awaknya terjangkit virus. Di Makassar pun sama. Meski diberlakukan pembatasan sosial, kondisi di lapangan tidak banyak berubah. Meski toko dan rumah ibadah diminta untuk tutup. Masih banyak yang nakal dan curi-curi.

Baru-baru ini saya menerima kiriman WhatApps, isinya kira-kira begini: Orang Indonesia itu di luar negeri bisa patuh. Sementara orang asing di Indonesia juga banyak tidak pakai helm atau juga buang sampah sembarangan. Intinya aturan yang sudah dibuat harusnya ditegakkan. Coba lihat sudah berapa banyak orang-orang yang pulang kampung meski sudah dilarang. Maka tak heran di daerah-daerah penyebarannya semakin luas.

Mari lihat di Belanda. Meski tidak ada larangan bepergian di sana. Tetapi berani membuka tempat hiburan, wisata dan olahraga atau sejenisnya didenda 4ribu euro. Tidak menjaga jarak 1,5 meter saja didenda 4ratus euro per orang. Ada satu keluarga didenda karena mereka duduk bersama tanpa menjaga jarak. Tapi meskipun jumlah kasus di Belanda lebih banyak, minggu lalu sekolah di sana sudah mulai buka. Alasannya tentu korona bisa dikendalikan dan tidak ada kasus korona pada anak. Di sana setiap hari sebanyak 30ribu orang dites. Gratis. Jangan tanya di Indonesia. Anda tahu jawabannya.

Maka itu, lebaran ini berbeda. Saya habiskan di rumah. Telepon video dengan keluarga. Tapi sebagian lainnya tetap sama. Pergi ke pasar. Membeli baju baru. Berkumpul bersama. Merayakan kemenangan akan kebebasan dan pelanggaran. Dari korona yang tak terlihat.

Jadi, melihat kondisi di Indonesia, yang sepertinya kita dipaksa untuk masuk ke kenormalan baru. Maka siapkanlah perbekalan. Ubah perilaku. Kalau tidak, bisa-bisa Anda akan tidak akan bertemu lebaran tahun depan. Semoga Allah melindungi kita semua.

Taqoballallahu minna wa minkum...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441H

Sabtu, 15 Februari 2020

Dompet di Buru



Perjalanan dari bandara ke Pelabuhan Namlea langsung disuguhi pepohonan kayu putih. Sebuah pondok kecil di sisi kanan jalan saat kami melintas terlihat telah mengeluarkan asap putih pagi itu. Itulah proses menyuling minyak kayu putih oleh masyarakat. Saya harus beli nanti. Minyak kayu putih asli Buru.

Pohon Minyak Kayu Putih di pinggir jalan
Pulau Buru sisi utara berupa perbukitan batu. Tak banyak pohon tumbuh. Atau mungkin sudah ditebangi. Di pinggir pantai, saya lihat kayu-kayu gelondongan siap diangkut.

Kami menginap di Awista. Hotel dekat pelabuhan. Yang didekatnya banyak warung makan. Hari pertama tiba di Namlea langsung dipusingkan  oleh hilangnya dompet saya. Saya betul-tidak menyadari. Terakhir dompet hitam itu saya keluarkan saat transit akan naik pesawat di Bandara Pattimura. Setelah itu saya merasa tak mengeluarkannya dari kantung celana. Setelah menggeledah tas, pakaian, dan kamar. Saya simpulkan dompet itu terjatuh. Tapi entah di mana. Kantung belakang celana saya memang agak longgar. Saya perkirakan jatuh di dua tempat setelah pemilik mobil yang mengantarkan kami ke Namlea mengatakan tidak menemukan dompet saya di mobilnya.

Tempat pertama, dompet itu jatuh di pesawat. Pihak maskapai sudah saya hubungi dan menyatakan tidak ada dompet tertinggal di pesawat. Hanya ada sekantung buah. Tapi mereka berjanji meneruskan laporan saya di grup maskapai. Karena pesawat pagi tadi itu langsung kembali ke Ambon.
Kedua, di toilet bandara. Turun pesawat saya buru-buru ke toilet karena sakit perut. Kemungkinan dompet itu jatuh. Tapi seingat saya tidak ada benda di lantai waktu saya akan keluar dari toilet. Dan yang membuat saya agak tenang jika benar jatuh di toilet, supir tadi yang mengantarkan kami mengatakan mertuanya kerja di bandara sebagai petugas kebersihan. Nanti akan ditanyakan.

Saya berusaha mengikhlaskan dompet itu. Meski terus digoda berpikir rencana mengurus segala macam kartu-kartu di dompet. Gampang, gumam saya berusaha menghibur diri. Nanti pulang dari Namlea langsung ambil cuti untuk mengurus semua kartu-kartu itu. Saat itu pula saya sempatkan memblokir kartu ATM.

Sampai malam hari. Saya memutuskan untuk memohon bantuan-Nya. Saya berpikir kesalahan apa yang telah saya lakukan sehingga tertimpa musibah ini. Sebelum tidur saya memohon ampunan Nya dan teringat kisah tiga orang yang terjebak di gua. Mereka keluar setelah memohon kepada Allah dengan menyebut kebaikan yang pernah mereka perbuat. Saya lalu mengingat kebaikan yang pernah saya lakukan. Sewaktu akan berangkat kemarin, saya sempat memindahkan seekor bekicot dari jalan. Agar bekicot itu tidak terlindas. Saya niatkan karena ingin mendapat pahala dari Allah. Kebaikan itulah yg saya sebut kepada Nya. "Seandainya perbuatanku itu bernilai ibadah di sisi Mu, berilah kemudahan aku menemukan dompet ku ya Allah", pinta saya. Lalu saya tidur.

Besok pagi saat akan ke lapangan, teman sekamar saya memeriksa tas kecilnya. Dan dompet saya ada di dalam situ. Saya tidak pernah menaruh dompet di tas kecil itu, dan teman saya tidak mungkin memasukkan dompet saya ke dalam tasnya. Karena bentuk dan warna dompet kami berbeda. Alhamdulillah saya bersyukur memuji Allah.

Setelah selesai tugas di hari ke dua. Kami pergi melihat proses penyulingan minyak kayu putih di sebuah pondok kayu sederhana milik seorang warga. Pulau Buru ternyata dihujani oleh pohon kayu putih saat Allah menciptakan bumi. Hampir di setiap tempat pohon itu tumbuh. Pohon itu tidak ditanam. Meskipun pohonnya dipotong, dibakar, di musim kemarau, daunnya akan tetap tumbuh. Dari daun itulah minyak kayu putih dibuat. Dengan cara yang sama. Sejak ratusan tahun lalu. 

Para penyuling minyak mengumpulkan daun dari pohon kayu putih berdasarkan wilayah mereka. Masing-masing punya wilayah untuk memetik daunnya. Setelah daun dipetik lalu dijemur. Daun kayu putih di dataran tinggi akan menghasilkan minyak yang lebih bagus. Daun itu lalu direbus di sebuah ember raksasa. Yang  terbuat dari kayu. Yang di bawahnya terdapat kuali. Daun itu dimasak selama 8 jam. Uap nya dilewatkan ke ember raksasa di sebelahnya untuk didinginkan menjadi air lalu dialirkan ke sebuah jeriken kecil yang diletakkan di sebuah wadah berair. Air di jeriken itu mengandung minyak. Jeriken kecil itu bagian bawahnya telah dilubangi agar air yang lebih berat dari minyak bisa terdesak ke luar. 

Dalam sehari dengan menggunakan dua ember raksasa itu mereka menghasilkan dua botol minyak kayu putih seharga 200rb per botol. Daun kayu putih sisa hasil rebusan penyulingan ditumpuk di belakang pondok. Beberapa orang mengambilnya untuk pupuk. Tahukah Anda, minyak kayu putih yang anda gunakan itu dari pulau ini.

Dua ember kayu raksasa
Minyak hasil sulingan ditampung di jeriken
Kami hadir di Namlea di waktu yang tepat. Bulan Januari pas musim durian tiba. Harganya serenteng 25rb. Ada 4-5 buah serenteng. Ukuran se-bola takraw. Rasanya manis daging sedang. Berwarna putih kekuningan. Masak di batang. Saya membeli untuk dibawa pulang. Saya masukkan ke dalam kotak plastik lalu diisolasi.

Mungkin pembaca baru mengetahui jika di Pulau Buru ada tambang emas. Tambang emas itu berada di Gunung Botak. Pada tahun 2011 cerita kejayaan emas itu dimulai. Banyak orang di Pulau Buru seketika menjadi penambang emas. Tidak terkecuali aparat. Yang ditugaskan melarang warga. Di Gunung Botak itu konon dengan sedikit menggali saja sudah ditemukan emas. Para pendatang dari luar pulau berbondong-bondong datang. Dari Jawa dan Sulawesi. Yang lebih ahli urusan tambang emas. Sistem sosial di Pulau Buru kacau. Penambang adalah raja. Tak ada yang mau kerja di ladang dan sawah lagi. Bahkan aparat pun ikut menambang. Para penambang itu rumahnya mungkin sederhana tapi pulang menambang ia bisa membeli dua mobil.

Dalam sehari mereka bisa menghasilkan jutaan rupiah. Sama dengan upah sebulan kerja di kantor. Kata orang pada waktu itu yang tinggal di kantor hanya bupati dan wakilnya saja. Berkilo-kilo emas didapat. Banyak orang jadi jutawan. Semua mengambil untung dari manisnya tambang emas. Tak ketinggalan wanita penghibur. Yang minta dibayar dengan gram emas.

Tapi cerita itu tak berlangsung lama. Keserakahan membutakan mata. Korban jiwa berjatuhan di dalam tambang. Karena tambang dibuat secara sederhana. Banyak orang tertimbun di lubang-lubang galian. Tambang itu pun kini ditutup. Pernah seorang pandai mengatakan, bukanlah emas benda bernilai yang ada di dalam gunung tersebut, melainkan berlian.

Malam terakhir di Namlea kami nikmati dengan menyantap durian di tepi jalan. Merayakan dompet yang tak jadi hilang. Kami bergurau akan kembali ke Pulau Buru lagi. Saat tambang emas Gunung Botak itu diisukan dibuka kembali. Bulan depan.

Jumat, 03 Januari 2020

Lewoleba-Kupang


Ini ketiga kalinya saya ke Nusa Tenggara Timur. Kali ini rutenya ke Kupang lalu ke Lewoleba. Dari Kupang ke Lewoleba harus lewat Larantuka. Sebenarnya ada yang langsung. Pilihannya naik pesawat atau kapal feri yang butuh 12 jam sampai. Namun pesawat penuh. Karena harus segera, terpaksa kami lewat Larantuka. Penerbangan hanya 50 menit menggunakan pesawat ATR. Dari Bandara Larantuka kami langsung naik taksi ke pelabuhan. Supir taksi pun sudah tahu kami mengejar kapal feri pagi ke Lewoleba. Tiba di pelabuhan kapal masih menaikkan penumpang dan barang. Belasan motor tersusun rapi di haluan kapal. Saya memilih bersantai di samping kiri anjungan memperhatikan jernihnya air laut. Itu adalah sebuah kapal feri kayu tradisional. Geladaknya ada dua. Ada pula kapal feri modern atau kapal cepat. Sejam sampai. Namun jadwalnya pukul 11.00 WITA.

Kapal berangkat pukul 08.00 WITA. Perjalanan dengan kapal dari Larantuka ke Lewoleba ditempuh selama 3 jam. Itu sudah termasuk mampir di Waiwerang. Kapal melaju dengan tenang. Membelah laut pagi yang tampak seperti cermin. Perbukitan Pulau Adonara dengan Gunung Ile Boleng-nya menjadi pemandangan menarik selama perjalanan. Di tengah pelayaran, awak kapal memungut ongkos, Larantuka-Lewoleba kena Rp50ribu.

Pulau Adonara

Sekitar pukul 09.30 WITA, kapal tiba di Pelabuhan Waiwerang. Penumpang turun dan naik bergantian. Menggunakan sebuah papan kayu. Begitu pun bocah penjaja makanan. Mereka berebut naik menawarkan dagangannya. Beberapa motor di haluan kapal dinaikkan ke dermaga. Diangkat oleh tiga orang. Setelah menunggu setengah jam, kapal melanjutkan pelayarannya.

Naik turun penumpang di Waiwerang
Kapal terus melaju ke timur, memotong Selat Boleng. Satu setengah jam perjalanan, kapal tiba di Lewoleba. Pelabuhan ini terletak di Teluk Leba-Leba dan masuk ke dalam wilayah Kabupaten Lembata. Sebuah daerah pemekaran baru. Sebagai daerah baru, pemerintah mencoba mengembangkan potensi yang dimiliki daerah ini. Kebanyakan masyarakat di sana bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Setelah menyelesaikan tugas, kami kembali ke Kupang. Kali ini langsung dari bandar udara Wunopito, Lembata menuju El Tari dengan pesawat ATR 42.

Di Kupang kali ini saya menikmati masakan laut yang segar. Saya menginap di Aston yang di seberangnya ada pasar ikan Kelapa Lima. Ada belasan lapak pedagang ikan di sana. Hanya ada ikan, cumi, dan udang. Tanpa nasi. Kita bisa memilih ikannya dan dapat langsung dibakar oleh penjualnya.

Pasar Malam Solor
Selain Kelapa Lima, ada pula Pasar Ikan Malam Solor. Sebuah pusat kuliner hidangan laut kaki lima yang hanya buka malam hari. Pasar ini terletak di jalan Kosasih. Para pedagang memajang ikan di depan warungnya. Jika di Kelapa Lima hanya bisa dibakar, di sini anda dapat memilih mau dimasak apa. Menunya lebih beragam. Dari ikan yang mati sekali.



Kamis, 03 Oktober 2019

Batu Belliton



Dulu saya pernah ke sini. Ke pulau sebelahnya juga. Waktu masih jadi pelaut. Kapal saya memuat minyak kelapa sawit. Tanjung Pandan ibukota kabupatennya. Pulau ini semakin terkenal setelah Andrea Hirata dan Ahok. Film Laskar Pelangi menambah nilai bahwa pulau ini wajib dikunjungi.

Dulu timah pernah menjadi primadona yang dicari di pulau ini. Lubang-lubang galian tambang mencari logam itu terlihat dari udara. Sebagian sudah ditinggalkan. Lainnya masih terus dikeruk. Tapi kini cerita itu mulai berubah. Banyak yang sadar. Tambang itu hanya memperkaya segelintir orang dan membawa bencana bagi yang lain. Juga sawit. Keseimbangan lingkungan terganggu. Banjir besar pernah dialami. Pemerintah daerah akhirnya sadar. Memelihara lingkungan akan membawa kemaslahatan orang banyak. Jadilah daerah ini diarahkan menjadi tujuan wisata yang harus dikembangkan.

Saat anda tiba, tak perlu pusing mencari penginapan. Mulai dari yang sederhana hingga sekelas resort pun ada. Itulah dampak yang terjadi. Sejak Belitung gencar mempromosikan wisatanya. Sentra produksi oleh-oleh bertebaran di penjuru pulau. Warung-warung kopi Kong Djie menjadi primadona. Belum lagi hidangan lautnya, melimpah.

Pulau ini memiliki karakter. Di pesisir utara. tertancap ribuan mungkin lebih, bebatuan granit. Yang menjadi ciri khasnya. Mungkin ada di daerah lain. Seperti di Natuna. Tapi di Belitung ini, batunya besar-besar. Sebesar rumah, gedung, bahkan pulau (kata warga lokal).

Saat saya ke sana, ratusan wisatawan bersiap menyeberang ke Pulau Lengkuas. Ingin melihat mercusuar di sana. Dari Tanjung Kelayang, 200an kapal kayu tradisional siap mengantar anda. Pemerintah daerah mulai membenahi angkutan rakyat itu. Memperhatikan sarana pendukungnya. Keselamatannya. Wilayah Tanjung Kelayang terus diperbaiki. Semua demi pariwisata.

Bergeser agak ke timur. Melewati lahan luas milik anak mantan penguasa negeri. Ada kawasan Tanjung Tinggi yang dulu dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi. Kawasan pantai berhias batu-batu granit berukuran besar. Begitu indah dan tenang. Sayang saya tak mencoba mandi di pantainya. Setelah puas, anda bisa beristirahat di warung tenda menikmati kelapa muda.

Masih banyak yang perlu didatangi. Namun waktu saya terbatas. Jadi hanya mampir ke Tanjung Pendam. Membeli oleh-oleh di Klapa, memesan ketam isi Adena, lalu salat di Masjid Al Ihram peninggalan zaman jayanya PT Timah. Masjid itu terletak di seberang Rumah Tuan Kuase yang dulu digunakan orang Belanda ketika menduduki Belitung.

Selasa, 06 Agustus 2019

Nah Angkutan Umum Kita Sudah Seperti di Negara Maju

Saya bergegas menuju stasiun seakan itu adalah kereta terakhir, tapi bukan karena itu, seperti pulang kantor Jumat kemarin, saya sekali lagi ingin membuktikan tepatnya jadwal kereta seperti di aplikasi smartphone saya. Saya memilih naik ojek dari rumah tadi dan saya minta agak ngebut, 'saya buru-buru' alasan saya, jalanan masih sepi pagi itu. Sampai di stasiun ternyata benar, papan informasi menunjukkan waktu yang pas ketika KRL itu masuk di jalur 2. Kartu multritrip saya tap-kan dan gate langsung terbuka, untunglah pikir saya setelah sistem gate diganti dari tripod ke pintu lipat, lebih gampang untuk melewatinya bersama koper saya, takkan lagi tersangkut koper saya di tripod itu. 

Mata saya lalu tertuju ke layar elektronik penunjuk jadwal kereta, layar di Stasiun Cilebut itu sudah 5 bulan terpasang, layar itu mengingatkan saya dengan layar informasi ketika menaiki Underground di London, S-Bahn di Hamburg dan Metro di Paris dan Brussel, semua ada waktu kedatangan dan tujuan kereta. Baguslah!. KRL ke Jakarta berhenti hanya sebentar dan saya segera naik.

Saya naik KRL di pagi sabtu yang sepi menuju Manggarai. Hanya beberapa penumpang naik dan turun selama perjalanan, sementara saya sibuk mengisi ulang kartu multitrip saya lewat smartphone agar saldonya cukup dan dapat digunakan untuk kereta ke Bandung. 
Liburan ke Bandung kali ini telah lama saya rencanakan. Seperti tahun-tahun sebelumnya saya akan mengunjungi Ciater dan berendam di kolam air panas, sungguh menyenangkan.

Kereta tiba di stasiun Manggarai pukul 7 dan saya langsung menuju peron 12 disitulah KRL tujuan Halim sementara di sisi sebelahnya di peron 13 itu ada kereta ke Bandara Soetta. Stasiun ini sudah berubah drastis dan menjadi stasiun transit kereta terbesar di Jakarta. Tampak beberapa penumpang tergesa-gesa berlari kecil dengan kopernya menuruni tangga eskalator. Kondisi sekarang sudah jauh berbeda apalagi sejak Gambir tidak lagi dijadikan pemberhentian untuk kereta jarak jauh, semua kereta ke Jawa Tengah atau Timur berhenti disini. 

Di papan informasi peron 12 saya lihat kereta yang ke Halim akan datang 10 menit lagi, pagi itu cukup banyak penumpang yang sama seperti saya membawa koper. Entah mereka juga mau ke Bandung atau akan naik pesawat dari Halim. Pukul 07.18 KRL berangkat menuju Halim semua bangku terisi penuh dan saya memilih berdiri karena perjalanan ke Halim hanya sebentar. Sesampainya di Stasiun Halim saya harus berpindah ke peron atas disitulah tempat naik penumpang kereta cepat Jakarta - Bandung. Dari Peron 2 saya harus keluar melewati gate lalu naik ke peron atas. Di peron atas juga terdapat gate untuk pengguna kartu multitrip jadi tanpa memerlukan tiket kertas, sebenarnya tiket kertas sedikit lebih murah dibanding tiket elektronik namun elektronik menawarkan kemudahan akses yang dapat digunakan untuk semua kereta apakah KRL, kereta jarak jauh atau kereta cepat. 

Tidak ada nomor tempat duduk di kereta cepat ini jadi siapa cepat dia dapat. Namun jangan khawatir klo masih pagi begini penumpang tidak terlalu banyak, lagi pula di jam sibuk kereta berangkat tiap setengah jam ke Bandung. Saya memilih duduk di gerbong tengah lokasi favorit saya. Baterai smartphone saya hampir sekarat saatnya di-charge agar siap digunakan di Bandung nanti. Kereta cepat ini sangat bagus meskipun buatan China, terdapat wi-fi dan colokan listrik di setiap bangku penumpang.

Kereta berhenti di 2 stasiun sebelum tujuan akhir di Tegalluar Bandung, pertama berhenti di Karawang dan kedua berhenti di Walini. Perjalanan ke Bandung dengan kereta cepat ini tidak sampai 50 menit. Dari Stasiun Tegalluar saya harus melanjutkan perjalanan ke Lembang, pertama saya naik LRT menuju Setiabudi lalu saya ingin mencoba kereta gantung yang berhenti di pasar Lembang. Dari situ saya ingin mampir sebentar di Tangkuban Perahu sebelum ke Ciater. 

Stasiun LRT di bandung di buat sederhana seperti halte tram di negara-negara Eropa lengkap dengan peta dan jadwal LRT. Tiketnya cukup murah hanya 10rb tapi saya cukup menggunakan E-Money lebih simpel, tinggal tap saja di mesin yg ada di dalam kereta.

Di Bandung naik LRT dan bus, lalu ke Lembang naik kereta gantung dan di Lembang juga ada bus.

Tunggu dulu. Semua cerita di atas hanya hayalan saya di tahun 2017. Tak perlu terlalu serius. Mudah-mudah angkutan umum kita bisa seperti itu.

Selasa, 02 Juli 2019

Iktikaf Semalam di Masjid Istiqlal



Saya mau merasakan iktikaf di Istiqlal. Malam ke 23 Ramadan. Pulang pukul 17.00 WIB, dari kantor di kawasan monas saya jalan kaki ke Istiqlal. Di kantor tadi saya sudah berganti kaos lengan panjang. Suasana halaman masjid terbesar di Asia Tenggara itu belum terlalu ramai. Para pedagang baru membuka lapak. Saya mampir membeli camilan dan air minum untuk buka puasa. Harganya sih di atas rata-rata. Jadi lain kali mending beli di luar. Sepatu saya masukkan ke kantung plastik yang saya bawa. Di depan pintu banyak penjual kantung plastik. Saya pergi berwudu untuk salat sunah. Menjelang berbuka ada tausiah. Saya lebih memilih membaca Alquran di ponsel. Panitia Ramadan mengumumkan ada nasi kotak untuk buka puasa sekitar 3000-4000. Itu sumbangan dari orang.

Azan Magrib berkumandang. Saya tidak ikut buka puasa bersama di pelataran masjid karena tahun sebelumnya sudah pernah ikut. Setelah buka puasa lalu dilanjutkan dengan Salat Magrib. Ada sekitar 10 saf waktu itu. Saya lihat banyak rombongan jamaah dari jauh dengan tas ukuran besar iktikaf. Mungkin mereka mengjar malam Lailatul Qadr di malam ganjil. Setelah salat saya ke seberang Stasiun Juanda untuk makan malam di warung padang. Nasinya lumayan keras. Setelah makan saya kembali ke masjid untuk persiapan Salat Isya. Jamaah yang hadir sedikit lebih banyak dari saat Magrib. Setelah Salat Isya dilanjutkan tausiah lalu Salat Tarawih. Tarawihnya dua trip. Pertama untuk 11 rakaat. Selesai itu 23 rakaat. Trip kedua itu jamaahnya hanya 3 saf. Sbeagian jamaah memilih membaca Alquran sementara sebagian lainnya tidur-tiduran.

Selesai Salat Tarawih panitia mengadakan kegiatan belajar membaca Alquran. Tak lebih dari 50 orang yang ikut. Saya kembali melanjutkan membaca Alquran hingga pukul 22.00 WIB. Setelah itu saya mencari tempat yang agak hangat di tengah-tengah masjid untuk istirahat tidur sejenak. Di pinggir masjid terlalu dingin, angin dari luar cukup kencang. Setelah berupaya memejamkan mata selama 2 jam, sekitar tengah malam, panitia membangunkan para jamaah yang beristirahat di bagian tengah masjid. Waktu itu persiapan Salat Qiyamullail. Saya berwudu lagi. Sebelum salat ada tausiah dari Ustaz Nazaruddin Umar. Jamaah salat bertambah dua kali lipat, mungkin lebih 2000 orang. Panitia kembali mengingatkan hanya tersedia 1500 nasi kotak untuk makan sahur. Panitia juga menyampaikan hasil tromol sumbangan jamaah malam kemarin sebesar Rp18juta. Sekitar pukul 02.30 WIB salat dimulai. Saat rakaat ke delapan saya mengundurkan diri dari barisan lalu pergi ke warung padang seberang Stasiun Juanda untuk sahur. Saya kurang tahu berapa rakaat salat Qiyamullail itu. Di pelataran masjid tampak para jamaah makan sahur. Banyak pedagang kaki lima. Ada juga yang sama seperti saya, sahur di warung padang. Sekitar pukul 03.30 WIB setelah sahur saya kembali ke masjid lalu bersih-bersih di tempat wudu.

Sekitar pukul 04.30 WIB, Salat Subuh dimulai. Setelah Salat Subuh mata saya terasa perih karena tidak tidur. Saya memilih untuk tidur sebentar di pelataran masjid bersama jamaah lainnya. Pukul 06.30 WIB, saya berangkat ke kantor. Begitulah pengalaman iktikaf semalam di Istiqlal. Semoga Allah mengizinkan kita semua bertemu Ramadan tahun depan. Dan iktikaf di 10 malam terakhir. Lagi. Aamiin.

Pertama Kali Mudik Dengan ANT

Kendaraan: All New Terios (ANT)
Asal: Bogor
Tujuan: Bengkulu
Jarak: 800km via lintas barat menyusuri pesisir Lampung
Penumpang: 4 dewasa dan 3 anak

Ini adalah pengalaman mudik pertama dengan kendaraan pribadi. Sudah 3 tahun tidak pulang ke Bengkulu. Tahun ini sudah rindu sangat. Kami berangkat sehabis Isya sekitar pukul 20.00 WIB dengan bahan bakar pertalite penuh di tangki. Ruang kaki penumpang tengah dan belakang penuh dengan barang. Di atasnya dialasi bed cover dan dijadikan tempat tidur. Bagasi belakang berisi koper besar dan kardus oleh-oleh. Dari Bogor hingga Merak lewat jalan tol. Karena saya masih belum berani dengan mobil baru ini, saya memacu ANT tidak lebih dari 120km/jam. Selama di tol saya lihat konsumsi BBM bisa mencapai 18 km/l

Tiba di Merak pukul 00.00 WIB, kami langsung mengantre di pelabuhan eksekutif. Sayang, kartu BCA Flazz yang sudah saya isi tak berguna. Kartu itu belum masuk dalam sistem pembayaran tiket ASDP. Terpaksa tunai Rp579ribu. Kapal feri di dermaga eksekutif ada setiap jam. Kami harus menunggu hingga 2 jam baru naik ke kapal Port Link karena panjangnya antrian mobil. Kapalnya besar. Ruang penumpangnya nyaman. Penumpang penuh hingga lesehan di lantai. Maklum lagi mudik.

Setelah berlayar selama 1,5 jam, sekitar pukul 03.30 WIB, mobil turun dari kapal dan langsung masuk ke tol Bakauheni. Sempat antre 500 m di gerbang tol, mobil berhenti sebentar di pinggir tol. Adek saya yang ganti menyetir ngantuk tak tertahan. Sejak di kapal saya sudah berusaha untuk tidur tapi tidak bisa. Saya putuskan untuk mengemudi lagi. Mobil keluar tol di Bandar Lampung. Lalu mampir shalat Subuh di Masjid Ad-Dua. Pukul 06.00 WIB, kami meneruskan perjalanan melewati Pesawaran lalu terus ke Kota Agung. Kami hanya berhenti tiga kali untuk jajan, buang air, dan mengisi BBM hingga penuh.

Pukul 09.00 WIB, kami mulai masuk ke wilayah Bengkunat membelah Bukit Barisan Selatan, Mulai tanjakan curam dan turunan tajam. Jalanannya lumayan bagus. Sebelum masuk Krui, kami berhenti di pinggir pantai di daerah Ngaras untuk makan siang. Sekitar satu jam kami istirahat. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan melewati Krui menyusuri pantai barat Lampung. Pukul 14.30 WIB, kami sudah masuk ke wilayah Bengkulu dan sempat mengisi BBM hingga penuh. Saya sempat merasakan pandangan depan pengemudi terhalang pilar kanan ketika berbelok di tikungan kanan. Saya coba menyesuaikan, namun tetap sulit. Saya harus memajukan kepala atau mendekatkan ke jendela untuk bisa melihat kendaraan lain dari depan di tikungan.

Beberapa titik jalan di Bengkulu rusak. Saat tiba di Manna sudah malam hari. Kondisi hujan deras memaksa kami harus berhati-hati. Beberapa kali ban mobil masuk ke lubang. Lampu LED utama tak sanggup menembus derasnya hujan. Lampu kabut juga tidak banyak membantu. Kaca film Clear KcF1 depan menyulitkan pandangan malam jika ada sinar lampu kendaraan lain dari depan. Sinar lampu langsung mengaburkan pandangan.

Menjelang masuk Kota Bengkulu hujan reda. Karena suhu udara luar lebih dingin, kaca depan sering berembun. Saya set temperatur AC di 28 *C dengan putaran blower satu agar tak kedinginan. Kami tiba di rumah orang tua pukul 21.00 WIB. Total ODO di MID saya lihat 843 km. Konsumsi rata-rata 13,5 km/l. Ketika mengisi BBM hingga penuh lagi, saya telah menghabiskan Rp530rb.

Cabut Bungsu

Saya baru tahu ada gigi yg baru tumbuh saat sudah kita dewasa. Gigi bungsu namanya. Letaknya paling belakang.  Dulu saya sering menghitung j...